Siapkah Kita Menerima Segala Konsekuensi Demi Remunerasi ?

  • Bertemu Kawan Lama : Pucuk di cinta Ulam pun Tiba
 Nasib baik sedang menaungi saya minggu-minggu ini, walau minggu lalu saya sudah pulang ke Bekasi karena ’Harpitnas’ (adanya hari libur nasional diakhir pekan), tiba-tiba saya dikontak oleh Kepala Bidang IPP agar menyertai beliau ke Bandung seraya menyerahkan surat pemberitahuan mengenai adanya kegiatan Tindak Lanjut Hasil Pengawasan pada Departemen Pertanian. Pucuk dicinta ulam pun tiba tanpa berpikir panjang, saya pun langsung menyanggupinya.

Ketika menunggu keberangkatan di ruang tunggu (Apron) Bandara Juanda, Sidoarjo saya bertemu dengan kawan karib lama (kawan satu sekolah SMA dan STAN), ternyata saat ini dia sudah pindah tugas di Surabaya dan akan pulang ke Jakarta seperti biasanya menjelang akhir pekan. Sangat kebetulan sekali ketika menaiki pesawat, kami pun duduk bersebelahan pula, dengan rasa gembira kami menumpahkan rasa kerinduan karena sudah lama tidak bertemu kemudian bercerita banyak sepanjang perjalanan di dalam pesawat.

  • Berubah Perilaku Karena Remunerasi
 Kawanku bertugas saat ini bertugas di salah satu Instansi Pemerintah yang menangani bidang pemeriksaan di Surabaya. Walau pun dia sahabat karib sejak SMA, terus terang saya kurang menyukai perangainya yakni agak sombong karena selalu membanggakan materi yang dimilikinya. Sejak dahulu kondisi kami memang berbeda, dia bertugas di instansi yang selalu berlimpah materi dan mempunyai prinsip bahwa kinerja atau keberhasilan seseorang diukur dari materi yang diperoleh.

Namun saat pertemuan dengannya, ada banyak perubahan dari sikap dan perilakunya walau masih ada sedikit rasa angkuh dan seperti biasa saya meladeninya dengan rendah hati ( lha wong kenyataan begitu koq,... tidak ada yang dapat dibanggakan secara materi). Pembicaraan menjadi semakin menarik ketika kami berbincang mengenai remunerasi, dimana instansinya sudah memperoleh remunerasi, sedangkan instansi saya sendiri masih dalam proses (berharap dan menunggu).

  • Alasan Dahulu Bekerja Demi Materi
 Dia mengatakan bahwa selama ini mengapa dia mengejar materi karena kondisi lingkungan kerjanya yang menuntutnya demikian. Dalam melaksanakan tugas sejak saat mengurus surat tugas dan penetapan obrik, dia harus melakukan komitmen dengan atasannya (dengan ’deal tertentu’) agar memperoleh obrik yang ’bagus’. Dalam pelaksanaan tugas pun dia harus memeras otak untuk menghasilkan suatu temuan agar dapat ’diolah’ demi memenuhi komitmennya. Demikian pula dalam penyusunan laporan tugas, dia harus ’berurusan’ dengan tim review agar berjalan lancar serta saat penerbitan laporan pun harus ’berurusan’ dengan  bagian administrasi.

Berkaitan dengan pengembangan karir kondisi demikian pun terjadi, mulai urusan mengenai angka kredit dan pengajuannya termasuk dalam pengurusan kepangkatan, termasuk kaitannya dengan mutasi atau promosi pegawai. Setiap akhir tahun dia harus berkasak-kusuk dengan bagian kepegawaian agar tidak dipindahkan dari kantor tersebut, atau tidak ditempatkan di daerah ’minus’ maupun bertahan pada posisinya dan berharap tidak dipromosikan. Dengan demikian kesimpulannya bahwa segala sesuatu harus berlandaskan ’komitmen’ tertentu kepada pihak atau bagian terkait. Apa yang diperolehnya harus dibagi-bagikan secara merata demi mempertahankan ’posisi dan prestasi’, maka ’hasil bersih’ yang diterima atau ’take home pay’ menjadi berkurang (terkadang bisa rugi alias ’nombok’) katanya.

  • Remunerasi Merubah Lingkungan Kerja dan Perilaku
Akan tetapi sejak diberlakukan kebijakan remunerasi di instansinya, kondisi lingkungan kerjanya sudah jauh berbeda. Adanya remunerasi pendapatan/penghasilannya meningkat secara signifikan, namun segala sesuatunya berlandaskan kinerja atau prestasi. Memang jumlah remunerasi yang diperoleh sudah jauh berkurang dibandingkan pendapatannya sebelumnya, namun hasil bersih atau ’take home pay’ bersifat pasti. Dalam bekerja pun dia merasa nyaman dan tenang karena tidak perlu memikirkan lagi tentang ’pembagian’ atau harus berkelit dan bernegosiasi yang memusingkan kepala. Justru dia sangat bahagia dengan kondisi saat ini, tiada ada lagi beban saat menerima surat penugasan yang membuatnya dapat bekerja dengan tenang dan nyaman.

Tiada lagi harus berkasak-kusuk untuk urusan administrasi kepangkatan maupun dalam pengajuan angka kreditnya, bahkan ada kepasrahan jika dimutasikan atau ditempatkan dimana saja karena semua kebijakan sudah transparan/terbuka. Menurutnya justru sekarang ini dia bisa tidur nyenyak (lho selama ini,.... berpuluh-puluh tahun tidak bisa tidur nyenyak dalam gelimangan harta?). Saya bertanya ” bagaimana dengan obat tidur yang selalu diminum menjelang tidur?...”, dia menggeleng dan tersenyum ” No way!...”.

Saya pun merasa penasaran dengan memancing pertanyaan” Bukankah kamu pintar dalam hal bernegosiasi dan berstrategi (dia hobi membaca buku tentang itu),.... Apakah kamu bisa pindah ke Surabaya karena keahlianmu itu?”. Dia menggelengkan kepala lagi ” Tidak,... karena kebijakannya sudah transparan dan saya tidak dapat lagi melakukan usaha seperti dahulu” dan lanjutnya, pihak bagian administrasi pun akan menolak karena kantor sudah memenuhi kebutuhannya.

Dia pun berkata bahwa dalam pelaksanaan tugas semua catatan hasil pemeriksaan sudah terdokumentasi dengan baik secara terkomputerisasi termasuk kontrol pemeriksaan. Pada kantor instansinya terdapat Satuan Pengawas Intern dan kode etik yang selalu memantau kegiatan kantor, ditambah lagi adanya pengawasan sidak (inspeksi mendadak) dari kantor pusat, termasuk Itjen pengawasan dari Departemen Keuangan. Kedatangan mereka (para pengawas) pun bersifat sidak atau tanpa pemberitahuan sehingga tiada lagi persiapan sambutan atau ’menjamu’ secara khusus, semuanya berlangsung secara wajar dan normal.

Saya pun bertanya bahwa remunerasi di Instansinya dapat terukur karena berdasarkan target yang ditetapkan sebelumnya. Dia berkilah lagi, ukuran remunerasi yang diperolehnya tidak diukur dari sisi tersebut saja. Kinerja berdasarkan target tiap-tiap individu atau bagian maupun bidang juga menjadi faktor penentu, semuanya saling mempengaruhi. Oleh karena itu diperlukan kerjasama yang baik dan saling mengingatkan jika salah satu dari kami atau bagian ada yang tidak mencapai target berdasarkan evaluasi atau pantauan (setiap bulan atau triwulan selalu ada hasil evaluasi).

·        Tidak ada lagi Tempat bagi sang ”Parasit”
Saya pun berkomentar jika ada reward pasti ada sanksi atau punishmentnya?. Dia pun menganggukkan kepala, memang benar sanksi yang diterimanya cukup berat. Bahkan banyak kawan-kawannya yang tidak mau berubah perilaku dan masih melakukan pelanggaran, terpaksa diberlakukan pemecatan tanpa PTDH atau penurunan pangkat otomatis baginya dan bukan lagi hanya sebatas mutasi atau non-job belaka.

Kalaupun bagi yang dimutasikan karena perilakunya dan seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa kontribusi setiap orang akan mempengaruhi kinerja kantor secara keseluruhan. Oleh karenanya, perilakunya dapat dimaafkan oleh lingkungannya jika mau berubah karena kontribusi kinerjanya sangat berpengaruh bagi kantor. Jika dia tidak mau berubah, secara otomatis lingkungan kerjanya akan menolak karena dianggap ’parasit’ dan mereka akan mengusulkan agar dipindahkan/mutasi ke kantor lainnya atau dipecat tidak hormat.

Mendengar penjelasan dari sahabat karibku membuat pikiranku menerawang jauh, bahkan ada penyesalan dalam dada mengapa kita begitu ingin memperoleh remunerasi?, mengapa kita tidak memperjuangkan untuk memperoleh tunjangan khusus seperti dahulu?, dimana ukuran indikator hasil yang diperoleh sebatas tingkat kehadiran saja. Ternyata banyak orang tidak berpikir akan dampak atau konsekuensi yang harus diterima jika kebijakan remunerasi diterapkan dikantor kita.

Remunerasi yang ditunggu bukan hanya sebatas perbaikan penghasilan belaka. Banyak sebagian orang sudah merancang angan-angan dan impian untuk melakukan sesuatu atas tambahan penghasilan tersebut, mulai dari keinginan membeli mobil baru atau merenovasi rumah dengan biaya pinjaman bank, membelikan kendaraan anak agar tidak naik kendaraan jemputan atau bis kota karena terlalu jauh letak sekolahnya, dlsb.

·        Siapkah Kita Menerima Semua Konsekuensi Dari Remunerasi ?
Apakah kita sudah siap menerima konsekuensi atas remunerasi tersebut? Pemecatan!, kata-kata tersebut belum sempat terlintas di kepalaku karena ku pikir perlu pertimbangan bagi instansi untuk melaksanakan hukuman berat itu. Dia berkata dengan enteng bahwa pemecatan terhadap pegawai sudah biasa terjadi pada instansinya sekarang ini. Sanggupkah ku menerima jika hal tersebut terjadi padaku? Sanggupkah ku bekerja di perusahaan swasta di saat usia yang mulai menurun produktivitasnya dalam berkompetisi?

Bagaimana dengan mereka yang sudah mulai pupus motivasinya dalam bekerja sehingga mempengaruhi kinerja keseluruhan? Bagaimana dengan mereka yang masih bekerja dengan ’dua kaki’ dengan entengnya semuanya dapat disiasati? Bagaimana dengan mereka yang menanti remunerasi karena dianggap rejeki namun belum sempat memikirkan konsekuensi berat yang harus diterima dengan pemecatan dini?

Lamunanku tersentak tiba-tiba bertepatan rasa kaget karena roda pesawat tertumbuk pada jalur landasan menandakan sudah tiba di Bandara Sukarno-Hatta Jakarta. Kemudian kami saling mengucapkan selamat jalan tanda perpisahan karena kami harus melanjutkan ketempat tujuan dengan letak rumah yang berbeda tujuan. Hingga dalam perjalanan menuju rumah masih terngiang percakapan dengan teman karibku, Remunerasi??..., kinerja individu mempengaruhi kinerja kantor keseluruhan!.., ketatnya pengawasan dalam bekerja!!..., dan Pemecatan atas sanksi yang harus diterima!!!.

Kalau mau Remunerasi jangan berpikir tentang siasat atau Komisi,
Siapkan diri sejak dini untuk selalu tingkatkan kinerja dan prestasi,
Selain itu kita harus menerima segala akibat atau konsekuensi!
Siapkah kita jika hal buruk itu terjadi?
Sidoarjo, 7 Maret 2010


0 komentar:

Posting Komentar