Mengapa Kita Selalu Bangga dengan Mereka (Negara Barat)?

Masih terbayang dengan jelas ketika terjadi pertandingan sepakbola antara Perancis melawan Irlandia menuju putaran final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, dimana secara dramatis Perancis selamat dari lubang jarum karena dianugerahi keberuntungan (?) dengan score 1-1 dan lolos ke putaran berikutnya karena menang secara agregat (2-1). Dewi fortuna berpihak kepada Perancis (?) saat ketinggalan 1-0 pada babak perpanjangan waktu, William Gallas mencetak gol balasan sehingga menjadi score 1-1. Kontroversi terjadi karena umpan yang berasal dari Thierry Henry beraroma ‘hand ball’.

Saat sesi konfernsi pers secara ksatria Henry mengakui bahwa memang terjadi hand ball namun ia tidak mau disalahkan karena sudah merupakan keputusan wasit saat itu. Bagaimana pun pengakuannya tidak berguna karena Perancis tetap saja lolos dan disisi lain, Irlandia harus menguburkan mimpinya untuk lolos ke putaran final Piala Dunia. Kejadian tersebut juga pernah terjadi dan menjadi peristiwa heboh si cebol Maradona dengan ‘gol tangan Tuhannya”, justru terjadi pada saat putaran pertandingan Final Dunia yang lampau.

Apa yang dapat kita petik dari peristiwa ini?. Negara adidaya Perancis dan Amerika yang katanya negara paling beradab dan berbudaya, negara yang menjunjung kejujuran dan privasi manusia atau Hak Asasi Manusia, negara yang selalu mengatur negara lain karena mereka merasa negaranya yang terbaik untuk dicontoh, dsb justru dengan bangganya berpesta pora dengan ketidakjujurannya. Bukankah akar dari korupsi adalah ketidakjujuran?
  • Ilmu Pengetahuan dan Budaya

Mengapa kita selalu bangga untuk berkiblat kepada mereka? Dengan meniru budayanya kita bangga melihat anak kita menyanyi dan bergaya ‘ala’ Michael Jackson seraya mengemil gorengan ayam ‘Mc Donald’ atau ‘KFC’, lantas terasa gatal dikuping ini bila mendengar lagu ‘ndangdut’ apalagi suara ’gending’, termasuk lantunan ‘suara pengajian’ atau ‘kidung pujian’ dengan alasan terlalu sakral dan hanya cocok ditempat-tempat peribadatan.
Para pejabat negara atau daerah maupun anggota DPR/D dengan bangga mencantumkan gelar MBA, MSc, MM, Phd, atau beragam gelar lainnya yang berasal ‘dari sono’. Sementara itu, mereka mencoba menyamarkan gelar Haji, Raden, Teuku, dan gelar lainnya, dengan alasan hanya pantas disebutkan saat upacara-upacara tertentu.
Kita juga selalu berusaha menggali dan mempelajari serta menerapkan (bila perlu mencontek habis tanpa ada penyesuaian) ilmu-ilmu dan berbagai strategi yang berasal dari negara adidaya yang katanya dapat menyejahterakan rakyat bagi pemerintah, atau cara cepat memperoleh laba bagi dunia swasta. Ilmu yang berlandaskan logika (hanya mengandalkan daya kerja dominasi otak sebelah kiri) menjadi penentu keberhasilan suatu organisasi. Dibandingkan ilmu yang berlandaskan perasaan (mengandalkan daya kerja dominasi otak sebelah kanan) seperti filsafat, kesenian, termasuk ilmu agama yang dianggap kuno dan cocok sebagai warisan budaya saja.
Tapi Tuhan telah membukakan mata kita. Krisis keuangan yang kita alami (bahkan masih terasa hingga sekarang) berasal dari ‘ciptaan/kreasi’ ilmu mereka yang kita agung-agungkan. Virus yang diciptakan ternyata menyebar ke ‘pemiliknya’ yang berasal dari ‘kesalahan manajemen’ (untuk menghindari kata ‘korupsi’) beberapa lembaga keuangan swastanya sebagai soko atau pilar ekonomi mereka. Kesalahan manajemen atau ketidakjujuran para eksekutif. Bukankah akar dari korupsi adalah ketidakjujuran?
  • Manajemen

Tetapi mengapa para petinggi kita tetap menyatakan terima kasih karena kita dapat keluar dari krisis ini berkat ‘arahan’ mereka. Apakah kita malu untuk berterima kasih kepada ‘orang kecil’ bahwa kita dapat bangkit kembali berasal dari sektor non formal, para pedagang kaki lima, pengusaha ekonomi lemah yang justru ingin dihancurkan atau dirusuhi dengan alasan mengotori pemandangan sebagai kota yang beradab.
Merekalah sebagai soko atau ekonomi kita sebenarnya, yang tidak pernah mengenyam atau mempraktekkan ‘ilmu mereka’ (berarti mereka tidak terkontaminasi?). Tidakkah kita sadar saat belanja di Glodok atau Tanah Abang maupun kota besar lainnya, sang pemilik toko selalu mencatat keuangannya lewat buku agenda atau buku folio sederhana untuk memperhitungkan omset atau laba yang diraihnya. Akh,.. itu khan cuma pengusaha kecil !!, pernahkah anda melihat saat Rapat Pemegang Saham mereka lebih mengandalkan catatan ‘buku merah’ masing-masing sebagai utang piutang dibandingkan laporan keuangan dari manajemen produk mereka?.
Terkadang kita selalu bangga dengan kecanggihan negara adidaya baik ilmu dan peralatannya sebagai budaya baru, tanpa pernah menyanjung apa yang telah kita miliki. Kita bangga dan berterima kasih atas ‘kebaikan’ mereka karena menyumbang dana atau peralatan tanpa pamrih (upeti?) sebagai hibah atau grant (padahal kita dipaksa untuk membeli peralatan lainnya sebagai pendukung sarana termasuk tenaga asing).
Bukannya kita alergi terhadap kemajuan ilmu dan budaya maupun kecanggihan teknologi, tetapi hendaknya di-‘filterisasi’ sesuai dengan budaya dan kemampuan (SDM dan keuangan) Negara kita. Kita memahami perlunya ‘percepatan’ (quantum leap) di berbagai bidang agar kita tidak tertinggal dengan Negara lain, dan tidak hanya’mencangkok’ tanpa ada dasar atau landasan yang kuat.
Seharusnya kita perlu mencontoh Negara tetangga seperti Jepang, India maupun Cina, mereka juga melakukan hal demikian namun tetap ter-filter dan disesuaikan dengan kondisi dan budaya mereka. Bagaikan buah, kalau pun kita ‘mencangkok’ tetap terasa rasa dari pohon asalnya.
  • Sejarah

Padahal sejarah telah mencatat, bahwa kita memiliki sejarah budaya yang lebih dahulu dan lebih baik dari mereka. Kita memiliki kerajaan Kutai, Majapahit maupun Sriwijaya  yang sudah berdiri dibandingkan kerajaan Perancis apalagi Amerika (sebagai nusakambangan-nya Amerika). Mengapa kita tidak mau mempelajari pola manajemen pendahulu kita dan cuma sebagai mata pelajaran saja atau sebagai konsumsi para pustakawan? (mungkin buku atau catatan atau prasastinya tinggal replika saja dan aslinya berada dimuseum mereka).

Mungkin kita terkena kutukan ‘Patih Gajahmada’ yang telah bersusah dan berupaya menyatukan wilayah kita menjadi negara kesatuan. Sekarang tercabik-cabik karena kita ingin menjadi negara federasi seperti amerika dengan kamuflase ‘otonomi daerahnya’, Hingga sekarang antara pemerintah pusat dan daerah ‘gontok-gontokan’ berebut wewenang dan wilayah operasionalnya. Ada apa dengan pola pikir petinggi kita? Bukankah amerika terbentuk berasal dari negara federasi, kita yang sudah membentuk negara kesatuan ingin menjadi negara federasi? Ataukah kita ingin nantinya nama negara berubah menjadi United State of Indonesia?

Sampai disini celotehan saya yang tak bermutu sebagai pengisi waktu luang menjelang tidur (maklum disini sendirian sebagai bujangan ‘lokal’). Saya hanya tak habis berpikir mengapa kita selalu bangga dengan ‘apapun’ yang mereka punya, tanpa mau mengakui apalagi bangga dengan ‘kelebihan’ yang ada didiri kita !!!



0 komentar:

Posting Komentar