Kisah Remaja Cak Bro:: Ajak Bolos Teman ‘separuh kelas’ (Bag. II)

Kisah Remaja Cak Bro:
Ajak Bolos Teman ‘separuh kelas’ untuk Naik Gunung ??
(Bagian II)


Istirahat di Pondok untuk Mencari Persediaan Air
Hari semakin gelap menandakan waktu tepat tengah malam, kami sudah memasuki hutan yang lebat, suasana jalan semakin pekat dan gelap karena dahan-dahan pohon menahan tmebusnya cahaya sang rembulan. Sementara kawan-kawan berjalan mulai terlihat loyo dan kelelahan, saya pun meminta kawan-kawan untuk beristirahat sejenak, saat terlihat sebuah pondok kayu tempat peristirahatan bagi pendaki, “Ayo kita istirahat di pondok,... silahkan makan bagi yang punya perbekalan,....”. Kemudian saya berteriak “ Bolo, Iko... coba tolong cari air untuk kawan-kawan yang kehabisan air”, tak berapa lama dia menemukan sumber air dan mengantar beberapa orang untuk mengambil air.
Saya pun memandangi mereka satu per satu yang kelelahan, terlihat bulir-bulir keringat mengalir diwajahnya namun dengan wajah yang masih nampak kegembiraan (ada juga yang kesal karena sudah begitu lelah). Saya pun menggoda mereka, “Memangnya enak naik gunung !,.... mendingan dirumah bisa tidur-tiduran sambil dengerin musik atau nonton TV...”. Usai istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Semakin lama sudah jarang kami temui jalan setapak karena hampir berada di badan gunung, jelas kami hanya temui jalan-jalan terjal dan berbatuan yang diselingi akar-akar pohon diantaranya. Terkadang kami harus memanjat jalan yang terjal, dan tak jarang pula kami harus merunduk karena melewati batang-batang pohon yang tumbang.
Berbagai perangai kawan terlihat dari sikap mereka, ada yang bernyanyi-nyanyi sendirian, ada yang bersiul-siul, ada yang mengeluh keletihan, dsb. Namun kala kami sedang istirahat, ada pula beberapa kelompok bagi beberapa ‘pasangan’, mencoba mencari sudut-sudut tempat dikejauhan (istilahnya ‘pojokan’). Saya pun berteriak memecahkan keheningan “Kami tahu kalian punya pacar!, tapi ingat kita sedang berada di hutan,...... Jangan coba-coba berbuat yang kagak2, tanggung sendiri akibatnya nanti !!!...”.
Saya pun berkisah dari beberapa teman, bagaimana pun hutan pasti ada ‘penunggu’-nya, ada kisah seorang pendaki berpasangan (mungkin sedang yang asyik pacaran) yang mengalami ‘musibah’, entah ‘kesurupan’ (istilahnya- transcedential), atau tiba-tiba berubah perangainya (alias gila) yang harus berobat ke RS Jiwa. Oleh karenanya, walau kita berada jauh dari pemukiman penduduk karena berada di tengah hutan, kita harus menjaga sikap dan kelakuan. Lebih baik kita mencoba merenung dalam kesenyapan malam seraya mengagumi betapa agungnya sang Pencipta atas pahatan karyanya, terlihat pohon-pohon besar menjulang yang tegar bertugas sebagai filter udara dunia dari karbon monoksida dan polusi udara lainnya. Coba kita renungkan sejenak, betapa kecilnya kita diantara selingan pohon-pohon besar, tetapi mengapa terkadang kita selalu angkuh dan sombong merasa kita lebih besar dari dunia ini (Taddabur alam sambil ceramah nih ye..).

Berteriak Ketakutan Melihat Cahaya di Tengah Malam
Ketika untuk kesekian kalinya beristirahat, tiba-tiba ada seorang cewek yang berteriak ketakutan. Kami pun coba menghampirinya, “ Pacarnya siapa ini?,... coba dipeluk dulu biar dia tenang”, herannya sang cowok justru merasa ketakutan dan berkilah, “emang gue yang ajak tapi bukan pacar, gue takut Cak Bro... kenapa dia itu?”. Setelah saya menenangkannya sambil memberi air minum dan menanyakan ada apa gerangan sehingga berteriak ketakutan?, dengan terbata-bata seraya tangannya menunjuk, “ tadi sekilas aku melihat dua cahaya bergerak-gerak dibalik-balik semak itu...”.
Saya pun segera memerintahkan agar semua senter dimatikan dan segera berdiam diri, kemudian kami mengamati ke arah semak-semak tersebut. Benar saja, dari kejauhan terlihat cahaya tersebut dan tiba-tiba saya pun tertawa keras-keras memecahkan keheningan, “ ha..ha..., Oh, cahaya itu.... coba kamu perhatikan baik-baik,” saya pun berkata “ Itu adalah mata seekor kancil,.... kancil sebenarnya termasuk binatang jinak dan dia sering mengikuti perjalanan kita....”. Benar saja, kawan saya Iko mengendap-endap kemudian langsung menyalakan senter dan sekelebat terlihat binatang kecil tersebut yang mendadak kabur kedalam semak-semak.
Tak terasa terlihat dari balik dahan-dahan ada sinar diantara kabut berasap, menandakan hari menjelang subuh. Tercium bau rerumputan segar diselingi bulir-bulir embun berada didahan, nampak lumut-lumut hijau yang membuat jalan menjadi agak licin, itulah penyebab ketika malam tadi berjlana banyak kawan sering tergelincir jatuh, Keindahan suasana pagi begitu indahnya, ditambah suara cicitan atau siulan burung-burung yang hinggap di dahan, mereka bergembira bersama kawan-kawannya berloncatan dari dahan yang satu ke dahan lainnya.
Tiba di Padang Eddelweis
Namun dengan terangnya pagi terlihat jalan yang terjal, batu-bataan besar yang harus dipanjat atau belukar akar pohon yang begitu kekar di jalan setapak yang kami lewati. Saat kami menengok ke belakang, ternyata begitu curam jalan yang kami lewati, Seorang kawan pun berteriak “Busyet dah,.... ternyata kagak terasa  tadi malam tuh kita udah melewati tebing yang curam ini, Koq gue bisa ya?”. Tiba-tiba tim rombongan depan berteriak kegirangan, “ Hore...hore, Alhamdulillah,... kita sudah sampai di padang Edelweiss!..”. Wajah-wajah yang letih pun mulai sedikit berubah segar seketika saat mereka mendengar kabar tersebut, rasa yang lelah menjadi hilang dan bersemangat kembali untuk segera menuju ke sana.
Padang Eddelweiss adalah hamparan pohon-pohon eddelweis. Kebetulan saat ini datangnya musim bunga, sungguh terasa indah disepanjang mata memandang hanyalan hamparan berwarna putih. Bunga Eddelweis adalah bunga abadi yang berwarna putih, abadi karena dia tak kan pernah layu. Bagi anak-anak remaja, bunga tersebut sangat dicari dan mejadi idaman untuk dipersembahkan kepada sang kekasih. Keabadian bunga tersebut menjadi lambang percintaan anak seusia saya.
Kami pun berisitirahat pada sebuah rumah atau kecil pondok untuk shalat shubuh, sebelumnya kami mencari lekukan tanah mirip danau kecil dan mengambil air wudhu disana. Sesaat mereka beristirahat seraya menikmati indahnya pemandangan, dan sudah pasti beberapa orang pasti akan memetik bunga tersebut. Sebenarnya bunga itu dilarang untuk dipetik, jika ketahuan petugas kawasan hutan mereka akan menyita bunga tersebut.
Sebab apabila semua para pendaki memetik bunga tersebut (apalagi cara memetiknya sembarangan), menyebabkan pohon tersebut mati dan sudah pasti merusak pelestarian alam. Walaupun saya sudah mencegah mereka tetapi saya tidak tega, biarlah sebagai tanda bukti cerita bahwa mereka sudah sampai di puncak gunung. Lagipula saya sudah bosan membawa bunga tersebut untuk kawan-kawan yang nitip (kalau saya, coba untuk siapa?, wong waktu itu lagi jomblo!,... alias kagak laku nih ye).
Mencari Makanan Setan
Disela kesibukan mereka memetik bunga tersebut, saya dan kawan justru sibuk menuju salah satu gua-gua yang berada disana, untuk apa dan apa yang dicari?. Ada pula orang yang rendah imannya atau musyrik, mereka terkadang menaruh sesuatu persembahan atau ‘sesajen’ di dalam gua-gua kecil (terkadang digunakan untuk bersemedi). Saya pun menemukan ‘barang’ tersebut berupa beberapa telur ayam mentah, beberapa potong kue, kopi dan beberapa batang rokok!.
Saya pun berteriak, “hore..gue dapat barang, lumayan buat sarapan pagi...”. Salah seorang kawan berkata, “ Cak Bro, itu  khan sesajen..... jangan dimakan !, nanti ada apa-apa lho,..”. Saya pun berkilah “ memangnya kenapa?, ini perbuatan orang musyrik....”, Dan sayapun berkata lagi, “Ini khan makanan setan,... wajar dong dimakan sama anak setan, he..3x”. (Dasar Cak Bro, bilang aja bawa bekal pas-pasan,...), Demikian pula dengan kawanku yang lain, mereka juga menemukan sesuatu dan memakannya....
Setelah melewati hamparan padang eddelweis tersebut, nampak dibalik bukit berdinding itulah kawah Gunung Gede. Kami pun segera mendaki ke sana, sesampai di atas terlihat kawah gunung,... dibawah sana nampak semacam danau lumpur bergolak dengan kepulan asap putih. Subhanallah,.... begitu indah pemandangan tersebut, sementara dalam suasana shubuh terlihat guratan awan-awan memerah muncul sang surya pagi membias pendaran cahaya menyaput sinar di seluruh kawasan. Tak lupa beberapa kawan yang memiliki kamera segera mengabadikan momen yang indah.

Indahnya Kawasan Gunung Gede
Inilah hasil perjuangan kami, berbagai kisah ketegangan, ketakutan, kekhawatiran, kecemasan dari yang kita alami. Termasuk rasa penat dan letih karena semalaman berjalan, hilang sirna seketika saat mengalami suasana indah yang penuh takjub. Serasa tidak mampu saya menguraikan dengan kata-kata puitis sekalipun.
Berbagai keceriaan mulai nampak di seluruh wajah kawan-kawan. Terlihat tawa canda gembira menyeruak diantara kita, mereka berpose dengan berbagai gaya saat kamera diarahkan, yang nantinya akan mereka ceritakan kepada kawan-kawan dan akan merasa iri mendengar berbagai pengalaman seru kami. Lain lagi bagi yang berpasangan, terlihat begitu mahsyuk berduaan menikmati indahnya pemandangan pagi di puncak Gunung Gede. Ada pula rasa iri di hatiku, entah mengapa saya merasa takut untuk kenal dengan seorang perempuan.
Saya hanya bisa menggoda beberapa kawan cewek, “Katanya tadi malam sudah mau menyerah,... dan ingin kembali turun saja,” lanjutku, “Pakai ngambek segala... dengan muka cemberut...”. Temanku tersebut menyahuti sambil merajuk, “Tadinya iya juga sih,.... habisnya kamu suka bohongi aku,... bilangnya sebentar lagi lah, sudah dekat lah...nyatanya jauh banget..”, dan dengan tersipu malu ia berkata “Makasih ya, sudah kasih semangat,... akhirnya aku sampai juga dipuncak gunung ini”. Saya menggodanya lagi “Jangan makasih aja, kalau bisa...” seraya telunjukku mengarah ke pipiku. Jelas saya cuma bercanda, karena dengan pura-pura marah cowoknya menuju bahu saya.
Usai beristirahat cukup lama, saya pun berteriak lagi “kawan-kawan tujuan kita sudah tercapai,.... terserah kalian, mau melanjutkan perjalanan ke Gunung Pangrango dan sampai di Cibodas atau kembali lagi ketempat semula...” godaku. Semua berteriak kegirangan “lanjut terus...!!”, tetapi ada salah satu kawan nyeletuk “ Ada tukang ojek gendong nggak ya?,... gue bayar deh”, yang lainnya nyeletuk juga “seandainya disini ada cable car semacam gunung di Perancis sana, enak juga kali ya..”.
Kami pun melintasi jalan setapak pinggiran kawah gunung yang berpasir dimana ada semacam tali pengaman agar terhindar kita terperosok jatuh ke kawah. Namun karena sudah banyak yang lapuk, ada juga lintasan dengan tali yang sudah terputus. Saya pun memperingatkan kawan-kawan, “ hati-hati berjalan, kalau bisa berjalan agak condong ke kiri.... jangan sampai tergelincir jatuh ke kawah sana”. Kegembiraan pun belum sirna, beberapa kawan berteriak-teriak “ Ayah, ibu... aku sudah mencapai puncak Gunung Gede....”.

Bangganya si ‘Anak Mami’
Ada terlihat tetesan air mata diwajahnya (dasar cengeng,... lu khan cowok!) dan berkata “Makasih Cak Bro, Wanto, Bolo dan Iko..... sering kali gue liwati daerah puncak ini, tapi baru sekarang gue bisa injak puncak Gunung Gede ini...”. Kawan saya bercerita, setiap akhir pekan dia sering diajak keluarganya untuk menengok neneknya yang tinggal di Bandung. Setiap dia melewati jalur puncak, dia hanya dapat memandang keindahan Gunung Gede-Pangrango dari kejauhan. Tak menyangka bahwa dia dapat menginjak puncak Gunung ini, dia akan bercerita kepada keluarganya dan kawan-kawan sekolah bahwa dia saat ini bukan lagi ‘anak mami’. Dahulu dia hanya dapat mendengar orang-orang bercerita tentang naik gunung, kini dia dapat bercerita banyak tentang semuanya. Dan satu hal yang tidak dapat dibayangkan bagaimana wajah orang tuanya kalau dia bercerita begitu seramnya naik truk.
Saya pun menimpali “ lu boleh cerita tentang naik gunungnya, tetapi kalau cerita naik truknya... apa kagak diomeli bokap lu?”. Dia pun menjawab, “ Biarin aja diomelin,... tapi gue yakin bokap marah sebentar dan pasti bangga lihat anaknya mampu berpetualang dengan berani!”. Saya pun diam-diam suka bercerita kepada kakak-kakak dan saudara saya tentang nikmatnya naik gunung. Pada waktu kegiatan berikutnya, mereka saya ajak juga turut serta kesana. Ternyata mereka ikut keranjingan juga, bersama kawan-kawannya membuat agenda sendiri untuk naik gunung secara berkala,
Menuruni Jalan Terjal
Diseberang sana terlihat semacam bukit yang sebenarnya di sebut dengan Gunung Pangrango, kami juga nantinya akan melintasinya. Kali ini jalur yang kita lewati agak berbeda. Jika sebelumnya kita berjalan mendaki, kini kita harus menuruni jalan-jalan yang terjal, berbatuan dan jelas dipenuhi akar-akar pohon. Yang merasa dirinya kuat, mereka berjalan meloncat-loncat dari satu batu ke batu yang lain, terkadang mereka terperosok atau terjerembab jatuh menabrak pohon disisi jalan. Kami pun tertawa melihat tingkah mereka, padahal cukup sakit rasanya melihat bilru-bilur kakinya karena terjatuh.
Saya sering berteriak “ Hoi kawan-kawan yang di depan, jika ketemu pondok kalian istirahat dulu,....kasihan kawan yang dibelakang sudah terlalu jauh nih.” Bagi yang lemah atau sudah lelah, dengan tertatih –tatih (terutama cewek-cewek nih) menapaki jalan dengan memegang tongkat yang berasal dari ranting pohon yang agak besar. Saya pun segera membantu membimbing atau menarik mereka untuk segera mempercepat jalan. Terkadang saya sering menyemangati para cewek-cewek yang kelelahan, “Oke kalian istirahat sebentar,.... jangan dipikir rasa lelahnya, coba dengarkan kicauan burung disekitar dengen semilir angin yang menggesek dahan-dahan ... betapa merdu dan indahnya bukan?”.
(Bersambung)

Wah, sudah terlalu banyak nih tulisannya nanti kagak sempat kerja lagi…… (Jangan jadi alasan ya, kerjaan terlambat…. gara2 baca kisah Cak Bro).
Sekian dulu dech nanti disambung lagi,….
 (bersambung.... Bag III)
Salam hangat dari Sidoarjo,

0 komentar:

Posting Komentar