Perlunya Kita Ber-KKN agar Memperoleh Jabatan atau Tugas yang Lebih Baik

Renungan Cak Bro :
Perlunya Kita Ber-KKN agar Memperoleh Jabatan atau Tugas yang Lebih Baik

·        Epilog : Obrolan di Pagi Hari tentang Mutasi
Suatu hari di ruangan kantor terjadi obrolan tentang SK Mutasi beberapa bulan yang lalu “ Wah … si Z dipindah ke perwakilan X, kasihan deh… berarti dia khan harus jauh dari keluarganya disini” kata si Anu mulai membuka pembicaraan kepada kawannya dan dikomentari kawannya si Fulan “ Benar juga sih,… anak-anaknya tidak mungkin pindah sekolah karena sudah besar-besar, kalau tidak mau … kenapa tidak keluar saja dan bekerja di swasta?”. Si Anu pun menjawab “ awalnya sih dia berpikiran demikian,… tetapi tidak ada job yang cocok seumur dia.. selain itu budaya kerja di swasta berbeda dengan kita sebagai pegawai negeri….”.
Sementara itu di tempat lain di kantin kantor saat sarapan pagi juga terjadi perbincangan yang serupa dari dua orang kawan, si A berkata “ Kamu tahu si C khan?.... Koq bisa ya, dia dipromosikan sebagai pejabat di kantor anu? ”. Seraya menyeruput mie instan si B menjawab “Oh si C itu khan dulunya bekas anak buah kaper di kantor Anu…. Lagi pula si C tuh pintar ‘bernegosiasi’.. jadi pantaslah dia dipromosi daripada kita yang biasa-biasa saja”.
Perbincangan berlanjut “ Tapi kalau saya lihat,… si D orangnya biasa-biasa saja dan tidak pintar bernegosiasi… nah dia juga dipromosikan ke daerah Z” sergah si A yang penasaran, dan dijawab si B dengan kalem “Lho si D itu orangnya rajin kerja…. Semua tugas yang dibebankan dilaksanakan dengan baik dan tanpa komplain atasannya… makanya dia pasti dapat rekomendasi plus dari atasannya untuk dipromosikan… tidak seperti kita, kerjanya cuma nongkrong di kantin ini” dan disambut tawa gelak berdua.

·        Mutasi atau Promosi Bagian Alami dari Perubahan Organisasi


Pada saat ini di kantor terjadi kesibukan yang luar biasa, masing-masing orang mulai berdiskusi dan berkasak-kusuk karena adanya khabar burung (dikenal dengan issue) akan adanya SK Mutasi pegawai baik pejabat struktural atau fungsional (PFA). Masing-masing mulai menghitung diri sudah berapa lama bercokol dikantor ini?, ada pula yang berkasak-kusuk agar mereka tetap tidak masuk dalam daftar mutasi tersebut (saya pun bingung … koq mereka yakin dapat memaksa kehendaknya), bahkan ada yang mengontak kepada kawan lainnya yang mereka anggap berhasil ‘menghindar’ dari jerat SK Mutasi dan berdiskusi meminta kiat-kiat atas kesuksesannya (saya pun ragu apakah benar ada orang seperti itu?).
Bahkan tak jarang, ada pula orang yang mengambil atau memafaatkan kesempatan tersebut dengan mengaku-ngaku atau mengatasnamakan pejabat tertentu yang katanya dapat memenuhi permintaan   agar tidak dimutasi atau dimutasi sesuai daerah yang diinginkan atau… dsb. Hal tersebut semata-mata hanya untuk melakukan penipuan terhadap orang-orang yang selalu menggunakan jalan pintas dan panik ( atau punya ‘pikiran pendek’) akibat informasi yang tidak lengkap.
Sebenarnya mutasi pegawai atau pejabat baik antar organisasi di tiap daerah maupun intern kantor adalah hal yang lumrah sebagai upaya penyegaran (refreshing) demi tercapainya tujuan organisasi lebih efisien dan efektif atau mengantisipasi adanya perubahan yang terjadi dalam organisasi atas tugas dan fungsi yang baru (yang dikenal dengan re-organisasi). Adalah hal yang lumrah bagi kita yang menginginkan tidak terjadi perubahan terutama bila kondisi atau lingkungan kerja sudah terasa nyaman. Setiap perubahan pasti akan berdampak negatif dari satu sisi dan positif bagi sisi yang lain.
Namun harus dipahami bahwa kita tidak bisa mengelak dari perubahan itu sendiri atau dengan kata lain bahwa segala sesuatu pasti mengalami perubahan. Sejak kita kecil beranjak remaja kemudian menjadi dewasa pasti mengalami perubahan, demikian pula dengan organisasi kita. Dalam kehidupan kita tidak ada sesuatu yang bersifat tetap atau absolute, justru yang bersifat tetap adalah perubahan itu sendiri.

·        Kita Harus ber-KKN Jika Ingin Memperoleh Posisi Lebih Baik
Awalnya saya tidak mau pusing atas kejadian tersebut, namun saya tertarik dengan obrolan dengan seseorang kawan yang membincangkan tentang suatu jabatan. Dia menilai selama puluhan tahun dia bekerja bahwa setiap orang bekerja dalam organisasi baik sebagai pejabat struktural maupun fungsional (PFA) atau dalam memperoleh tugas dapat disimpulkan terdiri dari dua macam. Yang pertama, orang yang mendapatkan jabatan (fungsional atau struktural) atau tugas yang ‘lumayan’ karena dia pintar ber-’negosiasi’ maupun memiliki jaringan hubungan/kolega hingga dikenal baik dengan atasannya. Dan kedua, orang tersebut diperlukan atasan atau kantornya karena dia pintar ber-’negosiasi’ atas keahlian/kemampuan ‘khusus’ yang tidak dimiliki orang lain.
Namun jika saya mencoba menyimpulkan kata-kata kawan saya bahwa seseorang memperoleh jabatan atau tugas yang diinginkan pasti karena KKN!! . Janganlah anda berprasangka buruk lebih dahulu, yang dimaksud dengan KKN adalah dalam konteks yang positif. Bagaimana pun seseorang yang ditunjuk dan diangkat menjadi pejabat (struktural atau fungsional) dengan posisi yang lebih baik karena KKN yakni ‘Kompeten, Komitmen dan Negosiasi’.
Baik melalui Rapat Pimpinan Pejabat Pusat (lebih dikenal dengan Baperjakat) maupun Rapat Pimpinan Intern Kantor, seseorang ditempatkan maupun di promosikan di daerah tertentu atau di bidang tertentu di kantor berdasarkan tingkat kompetensinya. Dalam rapat setiap pejabat akan menunjuk atau mempromote orang tersebut dengan pertimbangan kompetensi yang dimilikinya, selain itu orang yang dibicarakan pasti dikenal oleh peserta rapat tersebut.
Kompetensi seseorang diperoleh karena komitmennya, komitmen dalam menjalankan tugas dengan baik sebagai auditor (PFA) atau pejabat. Oleh karena itu akan terbedakan, jika seorang PFA akan memiliki angka kredit lebih banyak dibandingkan lainnya sehingga ia mencapai posisi sebagai ketua tim atau pengendali teknis (Dalnis), dsb. Angka kredit merupakan perwujudan kompetensi atas hasil kinerja yang diperolehnya. Semakin banyak tugas yang diperoleh dan dilaksanakan dengan baik (karena komitmennya untuk menyelesaikan kerja tepat waktu), maka semakin banyak angka kredit yang diperoleh. Demikian halnya dengan pejabat struktural, Atasan langsung pejabat pasti memiliki catatan khusus bagi pejabat bawahan untuk menilai prestasi dan kinerjanya.
Dan terakhir mengapa kita harus memiliki kemampuan bernegosiasi?. Negosiasi inilah merupakan faktor keberhasilan seseorang mencapai posisi yang lebih baik selain kemampuan kedua faktor yang disebutkan sebelumnya. Negosiasi adalah kesepakatan seimbang (equilibrium) antara atasan dan bawahan atas tugas atau jabatan tertentu. Keseimbangan karena kita sebagai bawahan menginginkan tugas atau jabatan tersebut dan Atasan mengenal kita dan menganggap tugas atau jabatan tersebut cocok untuk kita. Hanya saja karena berada dalam adat ketimuran atau di instansi pemerintah terkadang negosiasi tersebut tidak diungkapkan secara eksplisit, lain halnya dengan dunia swasta. Secara sadar atau tidak sadar kita telah memiliki kemampuan tersebut, secara langsung atau tidak langsung kita telah menggunakannya.

·        Iklankan Dirimu agar lebih dikenal di lingkunganmu
Bagaimanakah cara kita bernegosiasi pada instansi pemerintah, atau bagaimana caranya kita lebih dikenal oleh atasan kita?. Salah satu cara yang efektif adalah menjual diri  atau ‘selling your self’( bukan dalam arti negatif lho), kemaslah diri kita agar lebih berbeda secara positif dibandingkan lainnya, terutama bila di lingkungan kita tingkat rata-rata kompetensi tidak berbeda. Jadilah ‘bintang’ di lingkungan kita dengan menggali potensi/kemampuan yang ada agar bisa menjadi yang ‘ter…’ diantara lainnya.

Bagaimana cara kita menggali potensi agar menjadi berbeda?. Setiap orang memiliki ciri khas tersendiri sebagai potensi yang merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, cobalah sedikit merenung dimana potensi sebagai kekuatan kita dan janganlah pernah menjadi ‘follower’. Bagi yang suka menulis, menulislah dengan kreatif. Bagi yang suka menyanyi, menyanyilah dengan kreatif. Bagi yang suka bekerja, carilah pola kerja yang efektif. Bagi yang suka berpantun atau puisi, dsb. Semuanya itu dilakukan untuk menumbuhkan motivasi atau menunjang kinerja kantor, hingga kau dikenal di lingkunganmu dan secara otomatis Atasan akan mengenal dan membutuhkanmu.
Juallah dirimu (selling your self) sesuai prinsip sebuah iklan dengan memoles potensi dan keahlian agar sedikit berbeda dari yang lainnya. Sebagai contoh, sebuah kacang tidak akan berubah rasa dan tetaplah sebagai kacang, namun beragam merek dan kemasan diiklankan hanya karena sebuah kacang dengan rasa yang sama. Mulai dari sekarang cobalah untuk bangkit, galilah potensimu, dan selalu memiliki semangat dan motivasi untuk selalu berpikir positif. Kalau pun sekarang ini nasib baik belum berpihak, saya yakin suatu saat pasti akan terjadi. Selain itu, tidak ada ruginya bagi dirimu untuk lebih mengenal diri dan potensi masing-masing. Daripada hanya bergunjing tidak menentu dan iri terhadap keberhasilan orang lain maupun berpikiran yang bukan-bukan yang justru menjadi menurunkan motivasi kita dalam bekerja.

Salam hangat dari Sidoarjo,
13 Maret 2010



Terkaget-kaget Saat Mengurus STNK di Kantor SAMSAT DKI Jakarta Timur?

Sebuah Pengalaman :
Terkaget-kaget Saat Mengurus STNK di Kantor SAMSAT DKI Jakarta Timur?

Beberapa minggu lalu (awal Februari 2010), ketika saya pulang ke Bekasi dengan pola Abidin (Atas Biaya Dinas) berdasarkan undangan pihak Biro Renwas BPKP Pusat terkait dengan Program RKT tahun 2010. Walaupun tidak menghasilkan komitmen apapun (ternyata pihak perwakilan BPKP hanya diminta masukkan berkaitan dengan program RKT dan Tapkin 2010 yang masih dalam proses ‘negosiasi’ dengan Rendal Pusat), namun kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk mengurus perpanjangan STNK mobil yang kebetulan sudah jatuh tempo.

Tepat jam 9.00 sabtu pagi, saya berangkat menuju kantor SAMSAT DKI Jakarta Timur tempat pengurusan STNK mobil. Tak dinyana hari setengah libur pun (karena sebagian pegawai negeri libur sedangkan pegawai swasta tetap bekerja) kondisi jalan di Jakarta masih saja macet, akhirnya saya terlambat sampai ketempat tujuan. Sekitar jam 10.00 WIB saya tiba di kantor SAMSAT tersebut, saya disambut oleh beberapa calo (masih ada juga rupanya?), namun karena sudah biasa mengurus sendiri langsung menuju tempat pengambilan formulir.

Ada hal yang cukup menarik, antara sang petugas pengambilan formulir dengan sang calo saling berebut simpati, dengan ramah seraya menyerahkan formulir sang petugas menjelaskan bahwa umur STNK sudah lima tahun dan harus ganti nomor plat kendaraan sehingga harus mengurus lebih dahulu pengujian fisik kendaraan sebelum ke bagian perpanjangan STNK. Dia mengingatkan untuk segera mengurus cek fisik kendaraan sesegara mungkin mengingat jam pelayanan pengurusan STNK hanya setengah hari (Jam 11.00 WIB). Sementara itu, sang calo tetap merayu bahwa dia dapat menguruskan lebih cepat mengingat waktu yang terbatas, namun sang petugas formulir mengatakan agar saya mengurus sendiri karena masih ada cukup waktu.
Bergegas saya langsung menuju tempat pengujian cek fisik kendaraan, di sana disambut dengan sigap oleh petugas seraya memberikan surat pengujian kendaraan dan menyuruh saya untuk memarkirkan kendaraan seraya melihat jam yang cukup kritis. 

Demikian halnya ketika tiba di tempat parkir, sang montir dengan cekatan melakukan penggesekan nomor mesin mobil seraya melihat jam dan mengatakan “saya usahakan secepatnya pak,.. mudah-mudahan bapak masih bisa mengurus STNK di gedung dalam”. Seperti biasa saya membuka dompet untuk memberikan tip sebagai tanda jasa dan ditolak dengan halus “kami tidak seperti yang dahulu pak,.. ini sudah kewajiban saya”, untuk kedua kalinya saya tersentak kaget mendengar penuturan sang petugas.

Kertas hasil penggesekan nomor mesin mobil saya serahkan ke bagian administrasi, sang petugas pun meminta uang pembayaran secara resmi seraya melihat jam “ sabar sebentar pak,.. kami akan mengusahakan secepatnya”. Saya pun menunggu dengan gelisah sambil menatap tulisan sebuah papan “Maksimal pengurusan cek fisik kendaraan satu jam”. Rasa gelisah makin memuncak, jika saya menghitung penyelesaian satu jam, sudah pasti pengurusan STNK di gedung dalam sudah tutup. Alhamdulillah, hanya sepuluh menit (mungkin tidka banyak orang), surat bukti pengujian kendaraan selesai dan segera menuju kembali ke dalam kantor untuk mengurus STNK.

Benar saja ketika masuk ke gedung SAMSAT, sementara itu sang petugas bagian pendaftaran sudah mulai menutup tirai. Buru-buru saya sergah karena kurang dari lima menit dari jam yang ditetapkan (10.45 WIB) dan meminta pengertian kepada petugas agar diselesaikan hari ini juga mengingat tidak mungkin saya kembali lagi di hari senin karena saya harus pulang kembali bertugas ke Surabaya.

Sang petugas kemudian mengernyitkan dahinya sambil menjelaskan bahwa ini pengecualian untuk mengusahakan selesai sesegera mungkin, namun dia berjanji untuk membicarakan hal tersebut kepada Atasannya dan sang pengawas (dan saya tidak memberikan identitas pekerjaan saya lho). Tak berapa lama kemudian sang petugas memanggil saya untuk memohon maaf bahwa untuk mempercepat pengurusan dengan seijin atasannya, ada beberapa prosedur yang harus dipotong. Dia meminta saya membayar uang perpanjangan STNK lebih dahulu agar segera diterima bagian kasir yang sudah mulai menutup brankas. Tanpa bertanya lagi saya langsung membayar lewat petugas tersebut (saya berucap dalam hati, “walau pun saya membayar lebih saya tidak kecewa karena waktu yang kritis).

Saya menunggu dengan gelisah, sementara itu dari balik jendela sang petugas tersebut cukup sibuk wara-wiri untuk mengurus berkas adminstrasi saya. Tak lama kemudian sang petugas kembali memanggil bahwa saya harus segera mengurus nomor plat mobil lebih dahulu di bagian belakang gedung karena dikhawatirkan akan tutup, sementara berkas STNK masih sedang diproses.

Dengan segera bergegas menuju gedung belakang tempat pembuatan nomor plat kendaraan, saya sampaikan form pengurusan nomor plat kendaraan dan dengan sigap pula sang petugas menyerahkan ke bagian pembuatan nomor plat mobil. Tak berapa lama kemudian sang petugas sudah menyerahkan nomor plat baru kendaraan seraya berkata bahwa cat pada plat mobil masih basah dan tidak dapat menunggu kering karena saya harus menyerahkan secepatnya bukti pengambilan ke bagian STNK mengingat waktu yang terbatas.

Ketika kembali ke gedung bagian pengurusan STNK, sambil menunggu, saya menatap ruangan tersebut dimana setiap bagian tertulis waktu seharusnya selesai (dengan billboard digital tercantum nomor antri dan sudah selesai). Saya pun merenung bahwa sudah begitu banyak perubahan yang terjadi dikantor SAMSAT tersebut, bertahun-tahun saya mengurus mobil di kantor tersebut baru saat ini saya merasakan pelayanan (yang menurut saya begitu prima) pada suatu kantor instansi pemerintah. Dan saya melihat di setiap titik kegiatan kantor tersebut selalu ada seorang petugas yang mengawasi kegiatan tersebut.

Tak lama kemudian saya dipanggil petugas seraya menyerahkan STNK yang baru bersama notice (kuitansi pembayaran). Demikian pula saat saya ingin memberikan uang tip sebagai ungkapan terima kasih, sang petugas menolak dan berkata “maaf pak ini sudah kewajiban saya… kami tidak seperti yang dahulu lagi…”, tersentak kaget untuk beberapa kalinya. Benar saja ketika saya lihat notice pembayaran, jumlah uang yang saya bayar sama benar dengan nilai yang tercantum dalam notice tersebut.

Sebelum keluar dari ruangan kantor tersebut, sekilas saya melihat sebuah pigura besar yang terpampang di dinding kantor SAMSAT tersebut. Rasa kaget pun hilang dan rasa penasaran pun terjawab sudah, seraya terucap rasa salut dalam hati karena tulisan tersebut tertulis “Kantor SAMSAT DKI Jakarta Timur telah menerapkan manajemen ISO-2000” (saya lupa 2000 atau 2001).

Ketika saya ingin pulang, diluar gedung sana terjadi pertengkaran kecil antara sang bapak dengan anak muda yang terlihat sebagai calo. Sang Bapak berkata seraya membentak “ Kamu mau menipu saya ya !!!,… kamu janji bahwa STNK saya dapat selesai hari ini juga…, Justru karena waktu mepet makanya saya bayar kamu !!!! ”. Sementara itu sang anak muda berkata lirih dengan tertunduk malu, “ Saya minta maaf,.. saya pun hanya bisa mengantri seperti yang lainnya…. Saya tidak bisa lagi berhubungan dengan ‘orang dalam’ karena banyak petugas pengawas dimana-mana… Sebenarnya saya hanya sebagai calo untuk mengantri saja pak!”

Saya membayangkan (dan mengidam-idamkan) dapatkah semua instansi pelayanan masyarakat seperti Kantor SAMSAT DKI Jakarta Timur ??...
Bagaimana dengan BPKP, bisakah SPIP menandingi manajemen ISO tersebut??

Catatan yang jadi perhatian :
  1. SAMSAT DKI Jakarta Timur tidak memberantas calo yang berkeliaran dikantor tersebut karena menganggap sebagai ukuran kinerja sang petugas. Dengan memperbaiki sistem pelayanan, masyarakat sebagai pelanggan akan tahu bahwa mengurus sendiri lebih baik dari pada dengan calo. Bahkan tulisan baliho yang dahulu terpampang “ Hindari pengurusan melalui calo” sudah tidak nampak lagi. Selain itu, calo yang ada semakin sedikit dibandingkan dahulu.
  2. Adanya budaya organisasi yang tertanam pada perilaku setiap petugas yang berusaha menampik dengan sopan atas pemberian uang jasa atau tip dari masyarakat dengan kata “ Terima kasih,… ini sudah kewajiban kami… kami tidak seperti yang dahulu..”
  3. Adanya kesepahaman dari masing-masing petugas bahwa dia tidak bekerja sendir-sendiri. Setiap pegawai mengetahui tugas secara keseluruhan baik dari tugas-tugas berikutnya maupun beban kerja hingga berapa waktu yang harus diselesaikan dari setiap bagian. Dengan keterlambatan saya dengan waktu yang kritis (selalu melihat jam tangannya), setiap petugas akan tahu apakah saya bisa menyelesaikan ke bagian administrasi berikutnya.
  4. Di setiap bagian atau titik kegiatan selalu ada petugas yang mengawasi petugas yang bekerja. Mulai dari bagian pengecekkan fisik kendaraan baik kerja sang montir maupun bagian administrasinya. Kemudian bagian pendaftaran perpanjangan STNK, pengecekkan validitas dan kelengkapan surat-surat, pembayaran notice kendaraan hingga penyerahan STNK yang baru. Disetiap bagian terdapat billboard digital yang mencantumkan kapan nomor antrian masuk dan kapan waktu selesai untuk pindah ke bagian berikut.
  5. Suasana ruangan tunggu juga lebih nyaman dibandingkan dahulu, tiada lagi sang penjaja koran atau makanan yang berseliweran di gedung dalam (hanya diperbolehkan berjualan diluar gedung kantor). Tiada nampak lagi wajah petugas yang bermuka masam atau wajah angker, yang ada hanya senyuman manis sang petugas untuk menyapa dan menjelaskan bila pelanggan bertanya.
  6. Yang cukup unik adalah keterlambatan yang saya perbuat justru mereka memohon maaf untuk melanggar beberapa prosedur demi kepentingan saya dengan seijin atasan dan pengawasnya ( mungkin inilah yang dikenal dengan “pengabaian manajemen”). (saya pun merasa bersalah berkali-kali lipat karena keterlambatan dan justru berprasangka buruk pasti akan ada itikad untuk meminta tip).
  1. Anggapan bahwa membangun lingkungan pengendalian butuh waktu yang lama (lebih dari beberapa tahun) dengan merubah paradigma dan perilaku petugas ternyata tidak terbukti !!. Dalam waktu satu tahun sejak pengurusan STNK sebelumnya (mungkin bisa kurang) mereka dapat berubah dengan cepat.
  2. Mudah-mudahan pengalaman ini bisa sebagai pelajaran bagi kita yang akan menerapkan SPIP di kantor sendiri sebagai pemacu semangat dan motivasi bahwa kita bisa berubah jika kita mau !!!

Salam SPIP,… BISA!!!
Bersatu BPKP Maju,
Ber SPIP BPKP makin Tangguh !! 

Memahami Terjadinya Konflik atas Perubahan Kebijakan

Memahami Terjadinya Konflik atas Perubahan Kebijakan
(Patut dibaca bagi pejabat baru atau yang mutasi maupun promosi di tempat baru)

Pengantar

The exercise of violence can not be avoid when conflicting interest are at stake
(Sigmund Freud,
1932)

Pernahkah anda mengalami konflik dalam bertugas?, terutama saat anda pertama menduduki suatu jabatan baru atau berada di tempat baru entah karena mutasi atau di promosi. Hampir sebagian besar orang dalam bekerja pasti mengalaminya. Terutama saat kita menerima kebijakan baru, sementara itu kita sudah begitu familiar (lekat) dengan kebijakan lama. Setiap manusia atau organisasi pasti mengalami perubahan, dan pada lazimnya perubahan tersebut tidak serta merta dapat kita terima begitu saja. Selalu ada resistensi atau penolakan baik secara terang-terangan atau diam-diam atas perubahan tersebut, apalagi jika perubahan tersebut mempengaruhi kepentingan kita.


Namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana jika kita yang diamanatkan agar rekan kerja atau bawahan/staf mau menerima perubahan kebijakan, atau justru kita sendiri sebagai pembuat kebijakan yang akan berusaha mencoba menerapkan dalam lingkungan kerja karena kita anggap lebih efektif dibandingkan kebijakan sebelumnya. Yang menjadi permasalahan adalah jika penolakan atau pertentangan tersebut begitu kerasnya walau kita sudah mencoba dengan berbagai upaya. Apa yang harus kita lakukan dan bagaimana cara menyikapi permasalahan tersebut?. Dalam tulisan ringan ini (yang disadur dari salah satu penulis kolumnis di media terkenal), saya hanya ingin mengupas sedikit (bukan mencari solusi terbaik) mengapa terjadi konflik atau pertentangan yang begitu keras. Dan diharapkan jika mengetahui akar permasalahan yang sebenarnya, kita akan dapat mencari solusi atau penyelesaian yang lebih baik.

Resistensi/penolakan atas perubahan Kebijakan
Sudah galibnya kita sebagai manusia tidak menginginkan adanya perubahan, terutama bila kita telah berada dalam kondisi yang nyaman (comfort zone). Keseharian kita dalam rutinitas bertugas selama bertahun-tahun dalam organisasi sebetulnya itu yang sangat kita inginkan. Bahkan jika ada perubahan kita menginginkan hal itu terjadi secara perlahan ketika kita siap menerimanya ( I want if I ready to give atau I take it if I want). Kalau pun perubahan itu harus terjadi, secara ideal kita menginginkan adanya titik temu (equlibrium) secara mulus atau smoothly atau adanya kesepahaman antara pihak pembuat kebijakan dan penerima kebijakan.

Namun dalam dunia modern dengan perubahan teknologi yang serba cepat maupun informasi yang sudah mengglobalisasi tanpa batas wilayah (bordless country) menyebabkan kita menerimanya tanpa sempat lagi kita mengambil nafas. Oleh karena itu benturan kepentingan atau konflik pasti akan terjadi antara keduanya (penerima dan pembawa perubahan/kebijakan) tanpa sempat lagi kita membuat kesepakatan tertentu. Hampir setiap hari kita selalu membaca atau melihat di media massa (cetak atau elektronik) bentrokan atau konflik terjadi di berbagai penjuru daerah dengan beragam permasalahan.
Padahal kalau kita amati sejenak mungkin konflik terjadi justru diawali dengan hal-hal yang sepele dan bukannya pada permasalahan yang sebenarnya. Permasalahannya adalah mengapa konflik yang terjadi selalu berujung dengan kekerasan yang membabi buta?, Benarkah konflik dengan kekerasan milik masyarakat bawah (berlatar pendidikan rendah)?, Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Memahami latar belakang Konflik
Ahli psikolog terkenal, Sigmund Freud menyatakan bahwa konflik dan kekerasan berada dimana-mana (omni present), konflik terjadi karena sifat dasar manusia yang keras kepala dengan kepentingannya. Kepentingan yang keras kepala karena adanya dorongan alamiah manusia (human nature) dalam memperjuangkan keberadaan/eksistensi di lingkungannya, antara lain meliputi ideologi, kekuasaan, identitas dan kekayaan.
Terkadang sifat keras kepala dengan kepentingan sebagai penyebab terjadinya mobilisasi kekuasaan secara membabi buta (contentious). Mereka dengan sumber daya yang dimilikinya menggunakan kekuatan untuk mencapai tujuan atau mempertahankan kepentingannya. Kelompok yang memiliki sumber daya ekonomi akan mengerahkan anggotanya untuk mendestabilisasi proses untuk menentang kebijakan yang ditetapkan oleh pemimpin baru. Ada pula yang menggunakan kekuatan dari kekuasaan primordial etnis atau keagamaan, dengan menggerakkan anggota komunitasnya untuk menyerang atau menentang kebijakan pemimpin baru tersebut.

Menurut Kandel Englander (2008), berbagai variable sumber daya kekuasaanlah sebagai penyebab kompleksitas perilaku kekerasan (the complexity of violent behaviour) yang sulit dikontrol dan dikendalikan oleh sistem organisasi atau masyarakat. Englander mengatakan bahwa puncak terjadinya perilaku kekerasan dalam konstelasi kekuasaan merupakan gabungan antara hostile dan instrumentalia aggression.

Hostile aggression merupakan aksi pertentangan/kekerasan yang berorientasi pada pemuasaan emosional terkait dengan harga diri.  Si Penguasa dengan kewenangannya tanpa sadar telah menyinggung harga diri masyarakat/kelompok sehingga memaksa kelompok tersebut memobilisasi kekuatan untuk menentangnya dengan keras. Sedangkan instrumentalia aggression adalah pertentangan yang terjadi dari akumulasi sebagai upaya untuk meraih tujuan tertentu. Misalnya, pola penunjukkan pemimpin yang tidak sesuai dengan keinginan mereka dengan mencari titik lemah (dianggap tidak syah) terhadap proses penetapan pemimpin tersebut termasuk kebijakannya.

Seiring dengan perubahan jaman, pada dasarnya manusia berusaha melembagakan mekanisme untuk mengatur dan mengelola proses memperjuangkan eksistensi dasar dalam dunia sosial. Douglas C. North dalam bukunya ‘Violence and Social Order’ (2009) menyatakan bahwa mekanisme yang dimaksud dikenal dengan institutional constraint. Artinya, mekanisme kelembagaan tersebut memiliki legitimasi agar pihak-pihak tertentu tidak menekan kepentingannya. Yang jadi permasalahan adalah siapa yang mampu mengorganisir institutional constraint tersebut?.

Max Webber menjelaskan bahwa negara sebagai organisasi yang mampu melakukan hal tersebut. Berdasarkan sejarah, Webber mengatakan pada jaman dahulu negara yang dimaksud dipengaruhi oleh model monarki yakni raja atau rejim yang dapat mengorganisir institutional contraint. Namun untuk jaman sekarang yang demokratis, C. North menyebutkan institutional constraint dilandasi oleh hak publik yang berlandaskan perdamaian yakni menekan kelompok-kelompok yang tidak berhak menggunakan kekerasan untuk mengagregasi kepentingannya.

Agregasi tersebut disalurkan dalam jalur komunikasi secara formal sesuai prosedur demokrasi dengan tidak melanggar perdamaian. Oleh karena itu, dalam organisasi hendaknya diatur prosedur dan kewenangan secara jelas untuk mengakomodir atau menekan kepentingan sesuai dengan tujuan organisasi.
Simpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kita sebagai pejabat/selaku pembawa amanat kebijakan atau aturan harus mengetahui lebih dahulu kondisi area (field area) sebelum menerapkannya sesuai dengan prinsip Sun-Tzu “kenalilah lawan sebelum menyerang” dengan hal-hal sebagai berikut :

a.      Sadarilah bahwa setiap perubahan atau kebijakan baru pasti mengandung penolakan pada awalnya.
b.      Kajilah lebih dahulu kebijakan atau aturan dengan melakukan test-case atau test-area sebelum diterapkan secara langsung secara keseluruhan.
c.      Buatlah beberapa alternatif/modifikasi jika terjadi penolakan secara terus menerus yang meningkat secara signifikan.
d.      Didalam organisasi manapun selain pemimpin formal pasti ada pemimpin informal dalam suatu kelompok yang akan mempengaruhi tingkat penerimaan kebijakan tersebut.
e.      Kenalilah lingkungan (mendengarkan lebih baik dari pada mengarahkan), termasuk mengenal karakter dari masing-masing kelompok informal agar dapat menyesuiakan lebih dini untuk penerpana kebijakan tersebut.
f.        Jangan pernah percaya informasi (atau sebatas data/angka) dari bawahan di bawah satu level bahwa kebijakan anda telah diterapkan tanpa ada ekses apa pun. Lakukan monitoring (bila perlu inspeksi mendadak) apakah kebijakan telah diterapkan dengan baik.
g.      Dlsb.

Ide Penulisan : Transformasi Konflik dalam Pemilu, Novri Susan (sosiolog UNAIR), Koran Tempo, 30 Juni 2010

Perubahan Kecil akan membuat Suasana Kerja menjadi Nyaman

(Refleksi Bermenung Sebagai Pengalaman)
Renungan Cak Bro :
Perubahan Kecil akan membuat Suasana Kerja menjadi Nyaman
Pengantar
Pernahkah kita merasa jenuh atau bosan di kantor atau merasa tidak memiliki semangat atau motivasi dalam bekerja?. Mengapa hal itu bisa terjadi dan bagaimana caranya kita menyikapi hal tersebut?. Namun, ada pula teman kita yang dapat menikmati kerja walau diberikan tugas yang berat sekalipun, dia memiliki semangat kerja tinggi seakan-akan memiliki energi yang tidak habis-habisnya. Apa rahasianya?
Berbagai perangai dan tingkah laku pegawai dalam sebuah organisasi. Ada seseorang yang terlihat biasa-biasa saja atau dapat dikatakan bersikap malas, dia selalu berdiam diri atau kerjanya hanya mengobrol, bekerja jika diperintah oleh atasan, kemudian saat selesai tugas dikerjakan kembali lagi dia berdiam atau mengobrol pada temannya.

Ada pula pegawai yang selalu berkeluh kesah ‘ bagaimana saya bisa bekerja dengan optimal jika lingkungan kerja tidak nyaman?’. Namun dia tetap saja mengeluh ketika dipindahkan ke bagian lain. Disisi lain, ada seorang pegawai yang terlihat begitu aktif dan rajin. Dia senang mengerjakan tugas apapun yang diberikan, dia selalu siap menolong orang lain, dia begitu bersemangat bekerja. Apa rahasianya?

A.   Mengapa Kita Merasa Lingkungan Kerja  Tidak Nyaman?
Sangatlah benar bahwa lingkungan kerja yang nyaman merupakan prasyarat utama agar kita bisa bekerja dengan baik dan optimal. Beragam alasan yang menjadi penyebab lingkungan kerja menjadi tidak nyaman, antara lain : suasana pertemanan, atasan yang tidak adil, sistem atau prosedur kerja yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Ada pula faktor luar yang mempengaruhi lingkungan kerja menjadi tidak nyaman seperti : kondisi keluarga yang tidak harmonis, kondisi jalan yang selalu macet, jarak antara rumah dan kantor yang jauh, bahkan berita miring/negatif tentang kantor kita, dsb.
Lalu jika kita mengalami hal-hal seperti itu apa yang harus kita lakukan atau bagaimana cara menyikapi dengan bijak?, sementara kita tidak memiliki kemampuan untuk mengubah keadaan tersebut. Misalnya, haruskah kita membeli rumah baru dan pindah ke daerah yang lebih dekat kantor?, haruskah kita keluar untuk mencari pekerjaan baru sementara usia kita termasuk usia kerja yang tidak bisa bersaing lagi?. Jika halnya demikian, apakah kita harus bertahan seumur hidup untuk bekerja dengan suasana yang tidak nyaman tersebut?.

B.    Bagaimana Caranya agar Lingkungan Kerja Kita Menjadi Nyaman ?
Begitu banyak orang-orang yang berperasaan sama dengan beragam alasan yang berbeda-beda. Semua permasalahan di atas harus bisa kita sikapi dengan bijak secara profesional. Hanya ada satu saran jitu yakni menghadapinya dan bersikap agar tidak tengelam dengan suasana yang “tidak happy” tersebut.
Timothy Bullet, Profesor Harvard University dalam bukunya “ Getting Unstuck : How Dead Ends Become New Paths” menyebutkan bahwa salah satu cara melepaskan diri dari ‘uncomfortable zone’ adalah melakukan instropeksi diri dan bukan hanya menyalahkan lingkungan semata. Tanpa sadar kita tidak mampu melihat sisi positif dari lingkungan kerja karena daya adaptasi/menyesuaikan diri yang tidak optimal.

Sebagai contoh : kita merasa frustasi karena kurangnya support dari atasan atau bagian lainnya atau keterlambatan bagian pengadaan barang (penyediaan Alat Tulis Kantor) yang menghambat pekerjaan kita. Padahal mungkin saja karena kita kurang mengupayakan pendekatan dengan baik kepada atasan kita atau bagian lainnya agar mensupport pekerjaan kita. Dengan demikian, bukankah kita menjadi bagian dari masalah kita sendiri?. Rasa tidak nyaman atau happy merupakan peringatan dini atau alarm bahwa ada masalah yang harus kita perbaiki.

Hal kedua yang patut kita pertimbangkan dan sadari adalah tidak ada sistem atau pola kerja yang sempurna di dunia ini. Secanggih apapun sistem atau peralatan yang  diciptakan, sedetail apapun prosedur atau pola kerja yang dibuat pasti ada kekurangan yang harus kita perbaiki. Rasa tidak puas atau protes dari sekelompok orang, demo yang dilakukan masyarakat/komunitas tertentu menunjukkan ada kesalahan sistem di masyarakat yang perlu diperbaiki.

C.  Berpikir Positif akan Menghasilkan Kreatifitas dan Inovasi Kerja yang Efisien
Disini ada sebuah cerita yang cukup menarik disimak. Ada seorang pegawai berstatus mahasiswa yang bekerja paruh waktu (part timer) yang bekerja di sebuah Rumah Sakit dengan tugas mengganti seprai pasien setiap hari. Dia seorang mahasiswa universitas ternama jurusan sistem komputer yang cerdas dan kreatif. Mungkin pekerjaan yang dihadapinya terasa sangat membosankan yang tidak memiliki added value untuk menunjang masa depannya terkecuali hanya bekerja unutk meringankan beban kuliahnya.

Dengan daya kreatifnya, dia mencari cara termudah dan efisien untuk mengganti seprai terutama pada pasien yang tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Caranya tersebut yang lebih mudah dan efisien kemudian ditiru oleh teman-teman sejawatnya. Alhasil setelah dia lulus kuliah dan telah bekerja di kantor, ketika ia mengunjungi rumah sakit tersebut selang sepuluh tahun kemudain. Seorang bekas temannya yang bekerja di rumah sakit tersebut mengatakan bahwa cara penggantian seprai yang ia lakukan kini menjadi bagian prosedur dan sistem di rumah sakit tersebut. Ini merupakan hasil karya dari seseorang yang merasa tidak nyaman atau ‘tidak happy’ tersebut.

Terkadang bila kita bekerja terlalu lama pada tempat atau posisi yang sama akan membuat kita merasa jenuh atau bosan, selain merasa sudah tidak ada lagi tantangan, mungkin juga kita merasa tidak comfortable lagi. Namun jika rasa tidak puas atau tidak ‘happy’ bersarang di hati kita terlalu lama tanpa pernah berbuat apa-apa akan merusak semangat dan motivasi dalam bekerja termasuk yang akhirnya akan mempengaruhi kenyamanan lingkungan kerja. Padahal seharusnya kita merasa bersyukur jika kita mau melihat di sekeliling kita, mungkin ada orang yang lebih buruk dari kita.

Oleh karena itu, dengan daya kreatifitas dan inovasi yang kita miliki berarti kesenangan pekerjaan berada di tangan kita seutuhnya. Rasa keyakinan tersebut harus kita tanamkan sebagai keyakinan diri sehingga pekerjaan yang kita miliki menjadi lebih menarik. Rasa keyakinan itulah yang akan menjadi semacam pemompa semangat atau ‘charger’ yang dapat membunuh rasa bosan/jenuh dalam bekerja. Keyakinan tersebut sebagai ‘re-energizer’ yang akan meciptakan daya kreasi dan inovatif atas pekerjaan agar lebih efektif dan efisien.

D.   Perubahan Kecil akan Merubah Lingkungan Kerja menjadi Nyaman
Banyak hal yang dapat kita lakukan secara sederhana atas pekerjaan akan berdampak positif. Misalnya, sedikit merubah pola/tata kerja atau hanya merubah tata letak (lay-out) ruangan kerja akan merubah suasana kerja agar tidak membosankan. Dapat pula kita melakukan semacam eksplorasi dan eksperimen kecil-kecilan atau bersikap lebih pro aktif atas pekerjaan kita dalam rangka perbaikan dan peningkatan kinerja dengan biaya semininal mungkin, dan lain sebagainya.

Daripada kita hanya berkeluh kesah karena tugas yang diemban dari Atasan dengan target atau tenggat waktu yang mepet, justru membuat kita merasa berat atau sulit melaksanakannya. Ciptakan hal-hal kecil yang membuat suasana kerja menjadi lebih nyaman, misalnya dengan menyetel musik. Musik bernada cepat dengan hentakan keras akan memacu kerja kita menjadi lebih bersemangat, kemudian setel musik bernada lembut dan melankolis saat kita beristirahat.
Dengan sedikit mengutak-atik pola atau cara kerja, membenahi hubungan kerja dengan bagian lain, merubah persepsi kita mengenai lingkungan kerja, melakukan evaluasi dan pemetaan ulang tugas maupun targetnya sehingga dapat membuat daftar prioritas, kesemuanya itu akan membawa suasana baru yang berdampak positif agar kita lebih bersemangat.

Adanya semangat kerja akan menimbulkan energi tidak hanya kita akan berusaha berbuat lebih baik lagi, tetapi juga berusaha menikmati kerja sebagai hasil kreasi yang kita lakukan. Sepanjang perubahan metode/cara kerja berdampak ke arah yang lebih baik atau menghasilkan kinerja yang positif, lakukanlah dengan rasa senang hati atau ‘happy’. Selamat mencoba, semoga berhasil, semoga BPKP semakin Jaya !.
Sidoarjo, 15  Juni 2010
Ide penulisan :
‘Zona Tidak Nyaman’, Eiken Rachmi & Sylvina Savitri, EXPERD, Kompas, 12 Juni 2010.

Kisah Remaja Cak Bro: Ajak Bolos Teman ‘separuh kelas’ (Bag. Terakhir-Habis)

Kisah Remaja Cak Bro:
Ajak Bolos Teman ‘separuh kelas’ untuk Naik Gunung ??
(Bagian Terakhir)


Hadapi Sidang Sekolah atas Perbuatan Kami
Esok harinya, seperti biasa saya berangkat ke sekolah. Karena hari senin berarti kami harus mengadakan upacara bendera, suasana terasa heboh, beberapa kawan yang kutemui langsung menyapa “ Cak Bro, kapan naik gunung lagi... ajak2 gue dong...”, dan kawan lainnya demikian, “ Wah seru banget cerita naik gunungnya... kapan2 gue diajak ya?”, saya pun cuma diam tidak menanggapi. Namun kulihat saat upacara, ada beberapa kawan yang ikut kemarin ternyata tidak masuk, mungkin mereka sakit dan minta ijin untuk tidak masuk sekolah. Usai upacara, tiba-tiba saya dipanggil seorang guru dan menyuruhku untuk segera ke ruangan Kepala Sekolah.

Sesaat saya masuk ruangan kantor tersebut, disana sudah terlihat kawan2 sohibku sedang duduk dihadapan Kepala Sekolah yang sedang berdiri memandang dan menyuruhku duduk. Dengan tangan disilangkan, sang Kepala Sekolah berkata dengan wibawa, “ Kalian tahu,... mengapa saya suruh kesini?”, Kami pun serentak menggelengkan kepala.
Kami duduk dengan wajah menunduk, sementara sang Kepala Sekolah berjalan mondar-mondir dihadapan kami seraya memandangi kami satu persatu dan berkata lagi, “Cak Bro, Wanto, Dani, dan Iko!,.... kemana kalian saat hari sabtu kemarin?”. Dada saya berdegup kencang dan tergagap-gagap bersama kawan lainnya menjawab “ Maaf pak, kami memang bolos... kami naik gunung kemarin pak..”.
Dengan nada yang agak meninggi beliau berkata “Saya tidak mempermasalahkan kalian untuk bolos,...... tapi mengapa kalian mengajak bolos kawan-kawan hampir separuh kelas hah?!!..”. Dan lanjutnya “ketika upacara bendera sabtu kemarin,.... sangat mencolok terlihat beberapa barisan upacara lowong sebagian, Sungguh keterlaluan!!”.

Sementara itu diluar kantor Kepala Sekolah, beberapa kawan-kawan mengerubungi jendela kantor untuk melihat kami yang sedang disidang, Kepala Sekolah dan Wakilnya seraya membuka buku tebal berkata, “Kalian berempat,.... sudah banyak catatan di agenda BP. Saya tahu kalian anak2 pintar, bahkan menjabat sebagai pengurus kelas semuanya.... seharusnya kalian memberikan tauladan bagi kawan2 lainnya..Bagaimana Ini !!!.”. Kami berempat memang lain kelas, Saya dan Bolo adalah wakil ketua dikelas masing-masing, demikian juga Wanto menjabat sebagai ketua dikelasnya.

Maksudnya BP adalah Bimbingan dan Penyuluhan (kalau sekarang BK – Bimbingan dan Konsultasi), setiap anak yang bermasalah (atau yang bandel pasti selalu dipanggil oleh guru BP untuk diberi pengarahan). Entah mengapa, semenjak penjurusan dan saya ditempatkan di kelas IPS,  saya menjadi anak yang bandel. Hampir setiap sabtu selalu ‘berulah’ dan pastinya akan masuk ruang BP.

Mengapa Saya Jadi Anak Bandel di Sekolah?
Mungkin disebabkan kekecewaan saya, saat sebelum penjurusan sekolah (waktu itu penjurusan hanya dua : IPA dan IPS), saya punya ‘masalah; dengan Bu Guru Kimia saya. Teringat ketika itu, saat menghadapi ulangan guru Kimia saya menuduh saya mencontek dengan teman sebangku karena ada beberapa coretan pada beberapa soal. Padahal saya sudah menjelaskan, saya tidak punya penghapus (sejenis tip-ex) untuk menggantinya. Namun beliau tidak mau mengerti “pokoknya kamu tetap mencontek,... bagaimana jika besar nanti kamu menjadi pemimpin negeri ini hah?”.

Betapa marah saat itu mendengarnya, saya langsung menggebrak meja dan berkata “Saya tidak pernah menyontek bu!, hanya karena ingin dapat nilai bagus...”, lanjut saya “Baiklah jika ibu tidak terima,..... saya minta kertas ulangan saya dan anggap saja tidak ikut ulangan dengan nilai nol...”, namun beliau menolak dan justru mengatakan kata-kata yang pedas lagi. Akhirnya saya berkata dengan suara meninggi, “ Mulai saat ini, saya tidak akan ikut pelajaran ibu,... Kimia bukan segala-galanya bagi saya.... Ingat bu, saya akan berhasil jika dewasa nanti tanpa ilmu itu...”, kemudian saya langsung keluar kelas. Setelah itu, teman sebangku saya mencoba menjelaskan bahwa saya memang tidak menyonteknya. Akhirnya teman saya menyuruh saya untuk kembali ke kelas, saya tidak mau kembali karena merasa dilecehkan.

Sejak saat itu, saya tidak pernah mau masuk kelas jika guru kimiaku datang mengajar (karena tidak mau meminta maaf atas sikapnya....) Alhasil, karena tidak belajar untuk nilai pelajaran kimiaku jelas menjadi jelek. Dan sudah pasti, ketika penjurusan saya tidak dapat masuk jurusan IPA, karena hanya satu-satunya nilai yang hancur adalah kimia. Dan semenjak saya masuk jurusan IPS, sifat saya menjadi berubah dan suka berulah serta menjadi anak bandel.

Solidaritas Teman Melalui Demo
Kembali lagi ke masalah kami dalam sidang sekolah tersebut, saya pun mencoba menjelaskan “ Tapi pak, awal mulanya kami hanya janjian berempat saja,.... kami tidak mengajak mereka dan...”. Penjelasan saya pun dipotong sang Kepala Sekolah, “ Saya tidak mau tahu!,.... yang jelas kalian telah mengajak lebih dari separuh kelas untuk membolos.... kalian harus bertanggungjawab untuk dihukum!”.

Sementara itu, diluar sana beberapa kawan mencoba berdemo di depan kantor Kepala sekolah untuk membela kami. Mereka memaksa untuk masuk ruangan itu (termasuk cewek-cewek), karena tidak diperbolehkan masuk akhirnya mereka menghadap kepada beberapa orang guru, “Mereka tidak bersalah pak,... kami yang salah memaksa untuk bergabung dan ikut naik gunung... kami juga harus dihukum pak!”. Bahkan beberapa orang yang tidak ikut kemarin, turut bergabung untuk berdemo.

Selanjutnya, beberapa guru tersebut memasuki ruangan Kepala Sekolah dan mengadakan rapat bersama dan akhirnya kami diputuskan untuk membuat surat perjanjian agar tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Seandainya kami ingin naik gunung atau kegiatan lainnya, harus segera melapor untuk dibuatkan surat ijin dari sekolah serta harus menyertakan salah seorang guru sebagai pengawas.

Karena waktu itu kami telah menginjak kelas III dan akan mempersiapkan ujian, kami hanya di-skors beberapa hari untuk tidak mengikuti pelajaran, namun diwajibkan ikut piket bersama guru piket dan membantu administrasinya. Memang usai kejadian tersebut karena ingin menghadapi ujian, kami pun mengurangi kegiatan tersebut. Kami sadar untuk lebih serius belajar agar sukses menghadapi Ujian Nasional nantinya.

Dampak dari Petualangan Kami
Usai kami lulus dari sekolah SMAN 13 Jakarta Utara, kami bertiga pun masuk kuliah di Sekolah tinggi Akuntansi Negara (STAN) bersama-sama. Saat menginjak Tingkat II (Semester III), kami tetap melanjutkan hobi dan kegemaran dengan menjadi anggota Kelompok Pencinta Alam – STAN yakni STAPALA.

Karena STAN adalah sekolah kedinasan ketika menginjak Tingkat II, kami pun diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Untuk mengurus persyaratan dan administrasi, kami pun harus mengurus legalisir Ijazah SMA. Bersama-sama kami berangkat menuju sekolah kami yang penuh kenangan.

Setibanya di sekolah tersebut, kami pun sangat kagum karena sekolah sudah berubah. Gedung sekolah kami, kini menjadi megah dan bertingkat. Saat menuju ruangan Kepala Sekolah untuk meminta melegalisir ijazah, kami bertemu dengan Guru BP (guru ‘seteru saya dahulu) yang sama-sama masuk keruangan tersebut. Kebetulan Kepala Sekolah sudah berganti dan bertanya “ Ada perlu apa?”, kami pun berkata “ Kami lulusan sekolah sini dan ingin melegalisir ijazah Pak!..” seraya menyerahkan berkas.

Saat beliau membuka berkas, beliau berkata “ Wah selamat ya!, kalian sekarang menjadi mahasiswa STAN...”, kemudian beliau menoleh ke guru BP kami “ kalian pasti siswa-siswa sekolah kita yang teladan,... benar khan bu?”. Guru BP saya pun mengangguk setuju “ Benar pak, mereka ini salah satu siswa teladan di sekolah ini...”, kami pun berusaha menahan tawa.
Ketika sampai diluar, saya pun menggoda guru BP “Benar khan bu,.. kami adalah siswa teladan sekolah ini!..”. Tiba-tiba dia menjewer kuping kami “ Dasar anak-anak bandel,... masih saja mengganggu orang tua...”, namun beliau  hanya bercanda “Saya juga termasuk bangga,.... semoga kalian sukses ya..”, kami pun berpamitan.

Semenjak kami tinggalkan sekolah tersebut, ternyata  kemajuannya begitu pesat. SMAN 13 saat ini merupakan sekolah favorit dan termasuk sekolah unggulan untuk wilayah Jakarta. Yang membuat saya bangga, ternyata di sekolah tersebut sudah terbentuk organisasi kelompok pencinta alam. Waktu itu, kami pun turut terlibat mengembangkan kelompok tersebut, dimana saya dipercaya sebagai instruktur pelatihan panjat tebing atau panjat dinding.

Entah karena sekedar memuji atau menghormati kami yang senior,  para siswa yunior tersebut bercerita bahwa dibentuknya kelompok pencinta alam ini berdasarkan atau terinspirasi dari kisah-kisah kami yang suka naik gunung dan berkemah, terutama ‘kisah naik gunung dengan mengajak siswa membolos hampir separuh kelas’.

Motivasi di Balik Kisah
1.     Tim Dibentuk berdasarkan Komitmen
Saya memiliki sahabat karib bukan karena memiliki persamaan sifat dan sikap, tetapi hobi yang sama membuat kita memiliki ‘keterikatan’ untuk saling berbagi dalam kebersamaan. Justru melalui perbedaan sifat dan sikap, kita saling memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing, agar dapat bekerja sama dan berkolaborasi untuk mencapai tujuan. Keterikatan itulah yang dikenal dengan Komitmen. Hal itulah yang menjembatani atas kekurangan dalam setiap anggota tim dengan berkolaborasi/bekerjasama untuk menutupi kelemahan masing-masing.

2.     Perencanaan dibuat berdasarkan Permasalahan
Memang benar, seolah-olah setiap kegiatan yang kami lakukan tidak berdasarkan perencanaan yang matang, sepanjang memiliki kemauan dan tujuan, semuanya dapat diatasi dengan mudah. Kemauan atau tekad itulah sebagai ‘inti kebersamaan’ yang menjadi kita menyatu (solid) untuk menghadapi permasalahan.
Justru perencanaan dibuat berdasarkan permasalahan. Ketika kami berencana untuk pergi berempat, akhirnya berubah dengan rencana bagaimana harus membawa kawan-kawan lainnya sebanyak 35 orang. Dan perencanaan tidak bersifat kaku, harus bersifat fleksibel dan selalu berubah sesuai permasalahan dihadapi. (lihat kisah kami bagaimana naik truk).

3.     Pengorganisasian dibentuk berdasarkan kepentingan dan tujuan bersama
Walau pun kami tidak memiliki pengalaman berorganisasi secara formal, namun kami dapat mengelola atau mengorganisir kawan-kawan untuk mencapai tujuan bersama. Saat kesepakatan sudah dibuat, maka masing-masing orang akan mengajukan diri sesuai kemampuan untuk melaksanakan tugas. Setiap orang akan mentaati semua ketentuan yang disepakati dan saling bekerjasama untuk mencapai tujuan.
Adanya kesepakatan dan komitmen, semuanya terikat oleh tanggungjawab. Setiap orang akan meyerahkan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama. Saat seseorang menyimpang dari tujuan dan kepentingan, maka masing-masing akan mengingatkan akan kembali akan tujuan bersama.

4.     Keterbatasan Anggaran dan Sarana Bukanlah Penghalang Mencapai Tujuan
Kami mematahkan pendapat bahwa keterbatasan anggaran dan sarana selalu dianggap sebagai kendala untuk mencapai tujuan bagi organisasi. Padahal kesuksesan organisasi untuk mencapai tujuan justru terletak pada komitmen bersama.
Dengan komitmen akan menimbulkan tekad atau motivasi untuk mencapai tujuan. Adanya tekad dan kemauan, maka kita berusaha mengoptimalkan semua anggaran dan sarana yang ada. Tidak adanya dana untuk menyewa bis, maka timbul keberanian (atau tekad) untuk naik truk. Hla ini sesuai dengan pepatah “ tidak ada rotan, akar pun jadi”.

5.     Pemimpin yang baik siap mengambil alih tanggung jawab
Siap mengambil alih tanggung jawab merupakan prinsip utama bagi pempimpin yang sukses. Memang benar seorang pemimpin pasti memiliki tanggung jawab, namun terkadang mereka membatasi tanggungjawab sesuai dengan tugas atau peran yang dimiliki.
Dalam teori kepemimpinan, terdapat dua gaya Kepemimpinan yakni berorientasi proses dan output. Pemimpin yang berorientasi proses akan melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur atau pedoman yang disepakati. Sedangkan Pemimpin yang berorientasi out put dalam melaksanakan tugas selalu berfokus pada tujuan.

Masing-masing prinsip tersebut memiliki kelemahan dan kelebihan. Pemimpin yang berorientasi akan menghasilkan tugas yang berkualitas, namun kelemahannya mereka akan membatasi tanggungjawab hanya sebatas yang dipegangnya. Sedangkan Pemimpin yang berorientasi out put, mereka terkadang mengabaikan prosedur sepanjang tugas yang diembannya mencapai tujuan. Bahkan mereka sering bekerja melampaui wilayah yang bukan tanggung jawabnya 

Ketika terjadi hambatan atau tidak tercapai tujuan, kita akan mencari permasalahan yang terjadi. Setelah kita mengetahui letak/ lokasi atau titik permasalahan, justru kita berdiam diri karena menganggap bukan tangung jawab atau wilayahnya. Pernahkan kita mendengar lontaran kata-kata seperti ini?, “Saya sudah melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab, masalah tidak tercapai tujuan..... itu bukan urusan saya, itu tanggung jawab pemimpin yang diatas dong!”. Atau, “ha.ha.. benar khan?, permasalahan bukan karena saya,.... jelas itu tanggungjawab dia!”.

Seharusnya jika kita tahu titik permasalahan, walaupun bukan dalam wilayah kita, kita memcoba memberi bantuan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Demikian sebaliknya, jika kita yang memiliki permasalahan dan tidak dapat mengatasi, kita akan meminta bantuan orang lain untuk mengatasi bersama sehingga kegiatan yang dilakukan akan tercapai secara keseluruhan.

Demikian kisah Masa Remaja Cak Bro semasa SMA semoga jadi perenungan bagi diri saya pribadi dan saya berharap tidak akan  diikuti oleh anak saya (atau “ Don’t try at your school”). Ide penulisan ini hanya bahwa dengan adanya kemauan atau tekad, walau pun anggaran atau dana serta sarana terbatas, kita dapat melaksankan tugas dengan baik dengan mengoptimalkan apa yang ada di sekeliling kita.

Mess BPKP Jatim, Sidoarjo, 5 Maret 2011