Sikap Tauladan Pimpinan Melalui Resonance Leader Bagi Karyawan


Sikap Tauladan Pimpinan Melalui Resonance Leader Bagi Karyawan

Pengantar:
Pernah kita lihat dalam suatu rapat atau workshop, jika salah satu peserta menguap, maka peserta yang disampingnya, walau tidak mengantuk, akan ikut menguap. Bahkan menguap akan menjalar ke seluruh peserta. Atau bagi anda yang memiliki anak kecil, entah saat ingin berfoto, setiap gerakan orang tuanya pasti akan diikutinya. Atau ketika kita sedang berbicara atau ngobrol dengan atasan kita, setiap gerakan beliau tanpa sadar akan kita ikuti pula seperti gerakan menggaruk2kan kepala, menyilangkan tangan di atas dada, dsb. Mengapa hal itu bisa terjadi?.
Gerakan refleks, gerakan tanpa sadar, saat kita berkomunikasi dengan seseorang yang memiliki respek ( orang yang dihormati) disebut dengan gerakan resonansi, karena mereka memiliki kharismatik atau resonant leader. Ternyata gerakan resonansi tersebut sangat dibutuhkan bagi manajer atau pimpinan dalam menjalankan organisasi yang perlu dikelola dengan baik.


Dr. Anne McKee, lecture dari the Singapore Institute of Management's dalam bukunya " Resonant Leader" menjelaskan suatu cara untuk memahami bagaimana orang dapat mengembangkan Emotional Intelligence (EI) dan me-maintain Resonant leader melalui - mind, body, heart and spirit;
"People understand the "what" of leadership : the strategy, implementation, and control. What only a few understand is the " how" of leadership. This involve moving people through guiding emotions & passion. Resonance leader are adept at painting compelling pictures that inspire their subordinates."

Mengapa Emotional Intelligence (EI) kini sangat dibutuhkan selain Intelligence Quotion (IQ) oleh manager, karena pegawai membutuhkan pimpinan yang berfungsi sebagai "emotional shock absorber" yakni mereka ingin di resonansi atas respek yang dimilikinya berdasarkan hubungan kepercayaan yang dibangun. Oleh karena itu, mereka berharap pimpinan memiliki integritas dalam bersikap secara emosional berdasarkan kepercayaan dan kejujuran (trust & truth) dalam berhubungan dan berkomunikasi, dalam hal yang sama, mereka juga harus berjuang untuk bertahan di tengah kondisi ekonomi dan pengaruh globalisasi yang penuh ketidak pastian.

Pemimpin yang memiliki resonant leader dapat mengisnpirasi melalui ekspresi passion, commitment dan perhatian penuh kepada pegawai dan visi organisasi. Melalui keberanian dan harapannya, akan men-stimulan pegawai dalam menjalankan tugas untuk mencapai tujuan organisasi.
Pemimpin yang dapat menciptakan resonansi yang baik adalah pemimpin yang memiliki intuisi untuk bekerja keras mengembangkan EI melalui: kompetensi atas self-awareness, self-management, social awareness dan relationship management.

Kesalahan besar terjadi dalam organisasi, para eksekutif dan manajer, akibat kesibukannya tak mampu mengembangkan - mind, body & behaviour - dalam menghadapi tantangan yang tak pernah berakhir di setiap waktu;
" Many organization over value certain kind of destructive behaviour and tolerate discord and mediocre leadership for a very long time, especially if a person appears to produce results. Not much time - or encouragement- is given for cultivating skills and practices that will counter the effect of our stressful roles".

Emosi ternyata memegang peranan penting dalam berpikir dan bertindak, selain itu juga dipengaruhi oleh kultur dan budaya, menurut Mc Kee memiliki peranan sebesar 30% atas kinerja perusahaan. Pemimpin dapat mengarahkan emosinya melalui : hope, compassion, enthusiasm, dan excitement dapat memberikan hasil resonansi terbaik untuk menciptakan kultur organisasi yang baik.
Namun demikian, pimpinan organisasi dalam kesehariannya menjalankan peran tak pernah lepas dari rasa stress, dissonance, threat atau krisis yang akan menimbulkan apa yang dikenal dengan Sacrifice syndrome;
"Our bodies are not equipped to deal with this kind of pressure day after day. Over time, we become exhausted - we burn out or burn up. The constant smal crises, heavy responsibilities, and perpetual need to influence people can be a heavy burden, so much so that leaders find themselves trapped in the sacrifice syndrome and slip into internal disquiet, unrest, and distress. In other word, dissonance becomes the default, even for leaders who can create resonance."

Oleh karena itu, selaku pimpinan perlu memahami faktor2 tersebut dengan menghindari sikap dan perilaku negatif karena akan berdampak pada lingkungan organisasi. Memang kecerdasan berpikir (IQ) sangat dibutuhkan bagi pimpinan dalam menjalankan organisasi, namun kecerdasan emosional juga sangat mempengaruhi performance organisasi terutama dalam bersikap dan bertindak yang akan mempengaruhi bawahan atas resonant leader yang dimilikinya. Kemampuan  pimpinan dalam bersikap dan bertindak akan mengartikulasi untuk merespon setiap kejadian atau peristiwa yang dihadapi merupakan sikap kunci utama dalam meresonansi perilaku karyawan.



Sumber Pustaka :  Resonance and Leadership : Inspiring through Hope and Vision, Article by Dr. Anne McKee



Cinta NKRI sebagai Jargon semata!

Cinta NKRI sebagai Jargon semata!


Bukannya mau narsis atau pencitraan..
Atau mungkin terlalu pelit...
Menyempatkan jika pulang mengajak keluarga untuk makan di warung rakyat alias Warteg.
Saya selalu mendidik keluarga untuk berusaha belanja di warung kecil, makan di restoran atau warung pribumi, beli pakaian atau sepatu di toko atau pasar rakyat.
Mungkin juga karena penghasilan pas2an sbg pegawai negeri, namun mujarab pula.. Usai dewasa mereka tak pernah menuntut sesuatu yg berlebihan dalam memenuhi kebutuhan dan sikap prihatin. Walau jika mereka memaksa meminta mungkin saja saya mampu untuk membeli baju atau sepatu bermerek dan makan direstoran ternama.

Pembiasaan yg saya tanam kepada keluarga, semata2 saya berharap kepada mereka untuk selalu berpihak kepada rakyat kecil jika mereka kelak menjadi "orang".
Saya teringat waktu kuliah pada dosen yg punya gelar lulusan luar negeri. Namun saat pulang tetap bersikap sama, belanja di pasar tradisional atau makan2 di warung rakyat ketimbang di restoran walau mereka berkecukupan.

Teringat nasehat beliau " tuntutlah ilmu ke negeri cina", belajarlah ilmu pada negeri maju namun janganlah bawa budaya mereka yg tdk sesuai dgn kepribadian kita.
Saya pun pernah baca artikel bgmn negara korea, jepang atau cina Bisa bangkit dan maju. Karena mereka mencintai budaya dan negaranya.
Warga korea selalu membeli produk2 negaranya ketimbang negara lain, walau pun lebih mahal. Karena mereka sadar, kalau bukan mereka sendiri ... Tidak mungkin perusahaan bisa maju dan berkembang pesat.

Saya pun merasa masygul, melihat para pejabat atau komentator di televisi/koran atau medsos elektronik yg terasa kontradiktif antara kata & sikap saat diskusi tentang mencintai negara terhadap budaya atau produk sendiri.
Bukannya saya alergi atau saya maklumi jika kita terpaksa beli/gunakan produk atau teknologi luar karena memang kita belum mampu memproduksinya.

Atau sekedar alasan wajar khan beli yg kualitas dan harga terbaik.
Kalau bukan kita yg mencintai produk sendiri... Siapa lagi?. Justru dengan membeli, akan memajukan perusahaan negeri sendiri agar bisa mandiri dan bersaing dengan negara lain.
Mungkin kita berpikir dan merasa tdk signifikan atas kontribusi yg kita berikan ( dgn berbelanja untuk produk negeri sendiri).
Namun jika kita punya niat dan tekad yg sama untuk mencintai negeri, tidak sevatas jargon atau koar-koar tanpa pernah mewujudkan dalam sikap nyata.

Lebih sedih lagi...
Ada yg diam2 rela membeli mata uang asing karena lemahnya mata uang rupiah demi kepentingan pribadi....
Ataukah kita selalu berharap dan berdo'a bahwa pasti masalah negeri akan terbantu dari negara asing tanpa pamrih?
Atau dengan sikap santai kita..
Toh masalah yg terjadi, nanti juga terselesaikan sendiri????...

ANTISIPASI RISIKO TUK MENGATASI KONDISI KETIDAKPASTIAN YG DIHADAPI ORGANISASI

ANTISIPASI RISIKO TUK MENGATASI KONDISI KETIDAKPASTIAN
YG DIHADAPI ORGANISASI

Kalau sedang asyik nonton sepakbola, saya paling senang dg momen tendangan sepak pojok. Kepanikan terjadi baik kiper, pemain belakang (back) untukenghalau bola liar dg gerakan pemain lawan yg tak terduga.
Justru disitulah "the real game" suatu pertandingan bola. Disitulah akan di uji feeling to killing pemain striker, daya dobrak tuk kacau konsentrasi pemain lawan. Disitulah akan diuji feeling to hold sang kiper dan daya dukung pemain belakang tuk menghalau bola.
Benarkah jika bola itu goal atau tidak merupakan suatu kebetulan dari situasi kekacauan?. Bisakah kelompok mengantisipasi rusiko yg terjadi bagi kelompok bertahan dan memanfaatkan situasi dari kelompok penyerang?.

Saya teringat suatu artikel dg teori "chaos" dalam ilmu manajemen. Kondisi di atas bisa dianggap dgn momen "chaos". Apakah bisa kita kendalikan atau bgmn cara memanaje situasi spt itu?.
Teori "chaos" menyebutkan bahwa ketidak teraturan suatu tumbukan partikel dg partikel, sebenarnya terdiri dari gerakan2 yg awalnya beraturan.

Pola gerakan artikel seandainya bisa di-freeze menjadi gerakan lambat ( sliw motion activate), maka akan terlihat gerakan pola teratur yg dikenal dgn "extractor". Dg mengendalikan & mempelajari gerakan tersebut, maka kita dapat mengantisipasi gerakan "chaos" tersebut.
Kesimpulannya: jika di dalam organisasi mengalami kejadian atau momen seperti itu, maka pengambil keputusan tidaklah serta merta menetapkan kebijakan asal2an atau terburu2.
Namun dengan pikiran positif dgn mental yg tangguh ( endurance mental) agar memiliki fokus dan.konsentrasi untuk.mengatasi permasalahan yg dihadapi. Ketenangan bersikap dan kejernihan pikiran, penfambil.keourusan ( manajer) dalam melakukan freezing untuk melihat momen "extractor" agar memperoleh solusi yang terbaik.

Disinilah pentingnya kita mempelajari ilmu risk management. Manajemen risiko tidak hanya mengatasi hambatan yg dihadapi saat ini, namun didasari pada pengalaman masa lalu dan mengantisipasi kejadian di masa mendatang. Kemampuan kita memiliki data/informasi masa lalu, saat ini dan masa mendatang ( past, present & future of infirmation)... Maka kita akan memiliki solusi yg efektif untuk mengatasi masalah yg terjadi.

Manajemen risiko juga merupakan kewajiban bagi auditor intern ( APIP) untuk memahami, karena MR salah satu pilar seperti yg tertuang dalam pasal 11 pada PP 60 th 2008 ttg Sistem Pengendalian Intern Pemerintah ( SPIP). Kemampuan APIP memahami risk management, maka dapat membantu pimpinan instansi ( auditan) melalui saran yg konstruktif dan strategik atas hambatannyg dimiliki dalam pencapaian tujuan organisasi yg efisien dan efektif.


SALAM SPIP... Bisa!
BPKP Provinsi Kal-sel.
Subroto, Ak., MM, CA., CRGP.

"Sharing Promosi Cara Efektif Bagi Kota Wisata Dengan Becak?"

Artikel Wisata Manajemen:
"Sharing Promosi Cara Efektif Bagi Kota Wisata Dengan Becak?"

Kebetulan minggu ini, saya sdg mampir ke kota jogyakarta, kota wisata dan kuliner, kota pelajar dan budaya.. Pokoke never ending story dech.
Dan seperti biasa, suasana harian bagi wisatawan disana akan gunakan transportasi yg khas yakni becak. Yg akan jadi ulasan saya secara manajemen.

Malioboro adalah destinasi yg wajib dikunjungi pertama kali setiap wisatawan yg mampir kejogya.

Ada dua kisah seorang teman yg naik becak. Orang yg pertama, saat naik becak menawar " mas, antar saya ke malioboro... 5 ribu ya" ujar si tukang becak. Orang yg kedua dg gaya sok tau menawar.." antar saya ke malioboro... 10 ribu ya?".

Sebenarnya kedua org tersebut tdk tau bahwa jarak hotel mereka dekat ke arah malioboro.
Namun, ciri khas tukang becak disana tak ada tawar menawar, spt dikota besar lainnya, mereka langsung mengangguk atau mengiyakan dgn senyum khas mereka.

Akan tetapi, biasanya si tukang becak jarang mengantar langsung ke tempat yg dituju, dg alasan tertentu, mereka diajak berputar2 dahulu. Entah melewati keraton atau benteng sambil betcerita menjelaskan bangunan bersejarah tsb atau mampir ke tempat kuliner atau toko lainnya, jika kita tetap menolak barulah kita diantar ke malioboro.

Apa maksud dari si tukang becak tersebut?.
Pertama, walaupun keduanya tersadar bhw jarak sebenarnya dekat, bg org pertama akan membayar lebih karena sdh di ajak berkeliling kota. Sedang yg kedua, tidak akan komplain terlalu mahal dan meminta kembalian. (Kalaupun kita tega dan merasa ditipu, si tukang becak pun dg rela akan mengembalikan uang).
Kedua, mengapa dg rayuan yg memaksa kita ketempat tertentu. Karena mereka punya "deal tertentu" dg toko, sehingga mereka mendptkan komisi.

Inilah gaya manajemen promosi melalui tukang becak yg menjadi kekuatan bisnis tuk mempromosikan kota jogyakarta selain Pemerintah juga punya cara promosi tersendiri.
Jalinan hubungan mutualisme terjadi antara tukang becak dan toko, mereka tak perlu bayar promosi produk dgn mahal. Sementara tukang becak pun tak berharap lebih atas komisi toko, krn sbg hasil sampingan.

Sementara, kita sbg wisatawan pun merasa puas membawa oleh-oleh yg mungkin tidak merasa mahal membeli barang sesuai dgn kantong masing2.
Hmmh..memang jogya never ending story ...
Semoga bisa jadi renungan bermanfaat untuk bisa diterapkan dikota2 wisata lainnya.

Pentingnya Unsur Pengawasan Sebagai Bagian dari 7 Aspirasi Rakyat Kal-sel Dalam Kapsul Waktu 2015-2085

EKSPEDISI KAPSUL WAKTU 2015-2085:
Pentingnya Unsur Pengawasan Sebagai Bagian dari 7 Aspirasi Rakyat Kal-sel Dalam Kapsul Waktu 2015-2085"

Pada tgl 21 Oktober 2015, BPKP Prov. Kal-srl diundang tuk berkumpul di Kantor Gubernur Kal-sel bersama berbagai lapisan masyarakat dalam Seminar Kebangsaan tuk menyusun 7 aspirasi masyarakat Kal-sel. Aspirasi tersebut akan diserahkan kepada Tim Ekspedisi Kapsul Waktu G-70 nantinya.

Ekspedisi Kapsul Waktu 2015-2085 merupakan program "Ayo Kerja" yg dicanangkan Presiden Jokowi saat HUT ke-70 RI bulan agustus lalu. Gerakan Ayo Kerja 70 tahun Indonesia Merdeka atau disingkat G-70 dilatarbelakangi adanya degradasi rasa nasionalisme atau wawasan kebangsaan, menurunnya rasa kebersamaan dan gotong royong serta tercemarnya karakter bangsa.
Kapsul waktu 2015-2085 berupa tabung baja anti karat ( stainless steel) kedap udara yg nantinya berisi 35 Piagam Harapan yg berasal dari 34 Provinsi dan 1 Pesan harapan Presiden Jokowi, dan nantinya di tahun 2085 akan dibaca oleh cucu kita tentang harapan atau mimpi bangsa indonesia di saat ini.

Dalam seminar tersebut, Tujuh aspirasi yg berisi mimpi dan harapan dari masyarakat Kal-sel disusun dengan mengkristalisasi dari aspirasi masyarakat yg dikirim via email kepada Panitia Daerah sebanyak 1000 aspirasi, kemudian diseleksi menjadi 600 aspirasi yg mewakili, selanjutnya memilah dan memilih menjadi 7 aspirasi bangsa bagi masyarakat Kal-sel.
Kabag Tata Usaha yg mewakili BPKP Provinsi Kal-sel yg dilibatkan dalam Tim Perumus Aspirasi Bangsa ( tim kecil) berusaha memasukkan unsur pengawasan sbg bagian pilar bangsa tuk mewujudkan good governance dan clean government menuju pemerintahan Kal-sel yang bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme ( KKN) sebagai bagian dari 7 aspirasi tersebut.

Sementara itu, perjalanan Tim Ekspedisi Kapsul Waktu 2015-2085 telah dimulai dari titik nol kilometer Pulau Sabang, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan terus bergerak melewati tiap- tiap daerah di pelosok tanah air ( untuk diminta 7 aspirasi harapan di tiap provinsi) dan akan berakhir pada tanggal 20 Desember 2015 di Merauke, Provinsi Papua.
Saat ini, Tim Ekspedisi Kapsul Waktu akan melewati wilayah Kalimantan Selatan pada tanggal 24 Oktober 2015 yg diterima di perbatasan Wilayah Kal-teng dan Kalsel. Kemudian, Penjabat Gubernur Kal-sel akan menyerahkan 7 aspirasi mimpi & harapan masyarakat Kal-sel agar dimasukkan dalam Kapsul waktu. Dan pada tanggal 26 Oktober 2015 tim ekspedisi kapsul waktu kembali melanjutkan perjalanan menuju Provinsi Kalimantan Timur.

"Kenapa Kepimpinan Carut Marut Bisa Terjadi?"

ARUS ( Artikel Serius):
Membedah Unsur Lingkungan Pengendalian berdasar SPIP ttg Kepemimpinan:
"Kenapa Kepimpinan Carut Marut Bisa Terjadi?"

Suatu hari, saya iseng nongkrong diwarung tuk sarapan nasi kuning plus teh manis, Ada percakapan menarik yg jadi perhatian...
Kakek : jaman sekarang makin susah... Di TV isinya cuma menghujat pemimpin, atau pemimpin saling menghujat, jadi lupa ngurusi masalah kita. Mending jaman dulu.. Adem ayem.
Pemuda: dulu bukan tenang kek, tapi dicekam ketakutan. Salah ngomong atau protes dikit, hmmh... Sekarang jaman reformasi, semua bebas ngomong atau protes.
Kakek: iya kakek paham, tapi kebablasan... Pemimpin saling gontok2an, rakyat susah diatur.. Mau sampai kapan kita begini?.

Itulah sekelumit obrolan menarik yg jadi pokok bahasan saya terkait dengan kepemimpinan.
Memang jaman sudah berbeda, masyarakat sdh cerdas dan bebas memprotes kebijakan yg tdk pas. Kita sbg pemimpin/manajer (atau bakal calon nantinya) harus memahami kondisi ini.
Pertama, Model kepemimpinan klasik menyatakan perlunya pemimpin karena orang harus disiplin, karena mereka tdk dpt memimpin dirinya sendiri. Namun menurut penelitian Lewin's Iowa ahwa efisiensi kepemimpinan otokratik cenderung menurun dibandingkan kepemimpinan demokratis yg lrbih stabil, bahkan tanpa pemimpin sekalipun ( Lewin, 1930).

Kedua, menurut Bertalanfly menyebutkan bahwa sistem teori adalah sistem kehidupan ( living system) sbg sistem tertutup operasional dan pada saat sama keterbukaan antar organisasi karena proses metabolisme. Dualisme sistem ini yang jadi prinsip kepemimpinan modern ( Bertalanfly, 1969).
Berarti, organisasi hidup dalam living system tuk berubah dan belajar dengan organisasi diri ( self organization). Maksudnya, organisasi pada prinsipnya tidak beradaptasi dgn lingkungan kecuali untuk dirinya sendiri.

Dengan demikian dpt disimpulkan bahwa sbg pemimpin/manajer bukan untuk merubah karyawan spt teori Mc Gregor, dari karyawan type "X" menjadi Y" untuk melaksanakan tugas mencapai tujuan perusahaan.
Pemimpin pun tidak dapat memotivasi begitu saja, melainkan hrs mencari cara bagaimana memberdayakan kemampuan diri dari berdasarkan motivasi diri ( self motivation) karyawan tersebut.
Seleksi karyawan untuk saling bersaing atau kompetensi, sesuai teori darwin, juga tdk tepat pada jaman sekarang. Apalagi dengan tangan besi dan kewenangan, menyingkirkan karyawan yg berpotensi tapi "berseberangan" karena dianggap menghambat organisasi. Itu hanya menguras energi dan biaya karena sangat tidak efektif.

Pemimpin otokratis spt itu (gaya lama) dapat bertahan sepanjang memiliki daya "cengkeram" dgn kewenangannya, namun dia akan terjungkal karena tanpa sadar dia hanya menyimpan "api sekam" didalamnya dan suatu akan membesar dan membakar dirinya. Seperti yg kita lihat sekarang ini, sudah berapa banyak pemimpin yag terjerambab yg sengaja atau tidak dijatuhkan oleh bawahan.
Berdasarkan teori kepemimpinan yg baru, pemimpin atau manajer harus punya kemampuan bagaimana membimbing karyawan tuk melaksanakan tugas dengan caranya sendiri, namun keputusan tetap di tangan manajer.
Harus disadari, organisasi adalah kumpulan orang2 di dalamnya yg memiliki peran dan tugas tuk mencapai tujuan perusahaan.

Tujuan diri pribadi karyawan harusnya memiliki reaksi positif pada tujuan perusahaan. Oleh karena itu, tujuan perusahaan seharusnya memenuhi harapan karyawan dan kepentingan stakeholder.
Bisa dibayangkan bagaimana menjadi pemimpin organisasi besar yg harus mengelola pemimpin dibawahnya dalam departemen atau divisi. CEO atau Direktur utama tdk bisa menerapkan strategi atau pola yg seragam terhadap masing2 divisi/ departemen karena karakternya berbeda2.
Demikian juga menjadi presiden yg memimpin dan mengelola gaya karakter tiap menteri departemen dan lembaga serta harus mengakomodir kepentingan DPR dan lembaga tinggi negara selaku stakeholder.

 Itulah mengapa dalam PP 60/2008 ttg SPIP dari lima unsur pengendalian, dimana unsur utama Lingkungan Pengendalian memasukkan unsur kepemimpinan dan hubungan dgn bawahan sbg obyek dan subyek termasuk menekankan pentingnya kepemimpinan yg kondusif.

StudiKasus(dariPikiranIseng)terhadapMaskapaiPenerbangan yang “JagoTelat” : Antithesis TerhadapPrinsipPerencanaanSebagaiKunciSuksesOrganisasi?


StudiKasus(dariPikiranIseng)terhadapMaskapaiPenerbangan yang “JagoTelat” : Antithesis TerhadapPrinsipPerencanaanSebagaiKunciSuksesOrganisasi?
 

“Dah nyampe bro?...” smsterbaca di HP Si Qomardarikawannyasaatberadadiruangtunggubandaradansegeramembalassms “Masihdibandara Bro, pesawatgue di-delay (ditunda) beberapa jam lagi, tahusendirimaskapai X paling jagotelatnya…”. Sedangkan di bagian lain ruangtunggubandara, seorangpenumpangsedangmarah-marahkepadasiPetugas“ Keterlaluan!, inisudahkesekian kali sayanaikpesawat X selalutelat…..danhanyapemberitahuan , belumdatanglahatauadakerusakanteknislah. Padahalkalausaya yang datangtelat, pasti di denda!,bagaimanaini?...”, Si Petugashanyaterdiamdanhanyamemintakesabaranuntukmenunggukedatanganpesawat.Disisilain, hampirsemuapenumpangcumabisapasrahdanhanyabisamenggerutusertamenggapai HP merekauntukmendengar music atausekedarbermain game, ketikasuaraannouncermengatakan “MohonMaaf, Pesawatdengannomorpenerbangan XX denganjurusan YYY mengalamiketerlambatandenganalasan…..”

Peristiwatersebutselaluterjadi di BandarUdara (Bandara)apabilakitanaikdenganmaskapaipenerbangan X yang terkenaldenganketidaktepatandalamjadwalpenerbangan di negerikita.Herannya, masyarakattetapsajamenggandrungiuntukmenggunakanjasapenerbanganitu, namunselalusajaadakeributanantarapenumpangdengan para petugasbilaadaketerlambatandarijadwalnya. Dan saya pun takhabismengerti, apakahpihakperusahaanpenerbangantersebutsudah “kebal” dengankeluhan, protesatauklaim para penumpangnya?, termasukperingatankerasdaripihakbandara pun diabaikannya.
Memang, maskapaipenerbangan X tersebutmerajaibaikjumlahpesawat(yang selaluditambah)maupunrutepenerbangankeseanteronegeriini (lhomonopolidalambisnispenerbangankoqdibolehkanya?).Memang,maskapaipenerbangan X tersebutterkenaldenganhargatiket yang “low cost” sehinggadisukaipenggunajasapenerbanganbagimasyarakatmenengah.Banyaknyarutepenerbangandan jam penerbangan pun menjadipilihanbagicalonpenumpang, termasukkalanganbisnisataueksekutif yang punyajadwalpadat, termasuksaya yang kiniditugaskan di daerah yang memiliki“jadwaltetap”untukmengunjungikeluarga.
Sayatidakakanmembahasmengenaipenyebabatasfenomenaataukejadiantersebut (karenasayabukananggota KNKT).Namunadasemacammaknaatauhikmah yang tersirat di balikkejadiantersebutuntukmenggugat(antithesis) atasilmumanajemen yang sayapelajaribahwabenarkahkedisiplinandenganperencanaan yang matangmerupakankuncisukseskeberhasilanorganisasiatausuatukegiatan?.Padaprinsipnya, suatukedisiplinanharusmenerapkanatassegalasesuatuberdasarkanapa yang telahdirencanakansebelumnya. Suatuperencanaanmatangharusdibuatolehorganisasi,yang diprosesberdasarkanhasilevaluasiataskegiatansebelumnyayang merupakansintesasebagaiantisipasirisiko yang tidakdiinginkan.
Jikamaskapaipenerbangantersebutsecaradisiplinmenepatijadwalpenerbangandimasing-masingrutesesuaidengan yang telahditetapkan, mungkinketerlambatandengankekisruhantersebuttidakakanterjadi. Menurutpengalamansayaketikadahulu, jikaadasalahsatupesawat yang mengalamikerusakanteknisataumengalamiketerlambatan, pihakmaskapaiakanmenyediakanpesawatcadanganuntukmenggantikannya (kenapayapemerintahtidaklagimenerpkankebijakantersebutataukahmemangdiabaikan/).Dan tidakseharusnyamenunggupesawatberikutnyaseperti yang dilakukanmaskapaipenerbangan X tersebut.Akibatnya,terjadiefek domino karenaakanmengganggurutedanjadwalpenerbanganpesawatlainnyapadamaskapaipenerbanganitu (mungkinjugaakanmengganggujadwaloperasimaskapailainnya).
MengapaPemilikatauPimpinanmaskapaipenerbangantersebuttetap “cuek” alias tidakbergeminguntukmerubahkebijakanatausistemmanajemenuntukmemperbaikikeadaantersebut?.Yang mengherankanlagi, walaupunberatus-ratus kali kitamemprotesatasketidaknyamanankarenajadwalterbang yang tidaktepatwaktuatautertunda, mengapakitatetapmemilihjugauntukmenggunakanjasapenerbanganmaskapaitersebut?Ataukahkarenakebijakan “low cost” (ternyatatidakjuga) danpenguasaan (monopoli) ruteperjalanandanbanyaknyajadwalpenerbangan yang tetapmenjadipilihankitauntukmemilihmaskapaipenerbangantersebut?.Sehinggatimbulpikirannakalsaya, jangan-janganpihakmaskapaisehinggamenciptakankondisisepertiitu ?, sehinggaperusahaantersebutterbiasakandenganmanajemenkrisis. Suatufenomena yang sangatmenariksebagai antithesis atasilmumanajemen yang sayapelajari!
Pikiransaya pun menjadi liar untukberasumsibahwakebijakanmaskapaipenerbangantersebut yang “jagotelat”sebagaikuncikeberhasilan, karenakebijakantersebutjustruseolah-olahdidukungsecarapositifolehberbagaipihak.Tidakpercaya?,pihakbandara pun mengalahdenganmemberikanhak privilege atasbeberapa terminal yang dikuasaimaskapaitersebut, bahkanmengaktifkankembalibandara non-komersial agar dapatdigunakansebagaibandarakomersial. Penambahanpesawatolehmaskapaitersebutbukanlahuntukmemperbaikikeadaan, namunjustrumemintatambahanrutepenerbanganbarusesuaikorelasi delta pertambahanpesawat yang dibelinya!.
Tanpadisadari, sudahbeberapamaskapaipenerbanganyang berguguran (alias bangkrut), mungkintidaksecaralangsung, akibatsepakterjangmaskapaitersebut yang mengguritadandiambilalihnya.Di negeriini, yang katanyamasyarakatsudahbegitucerdas, takpernahadasomasiatasprotes yang benar-benarseriusdilayangkankepadapemerintahataupengadilanolehmasyarakatatau LSM atasketerlambatanjadwalpenerbangan yang merugikankita.Tanpadisadari, kita pun bersikapmengalah (ataumendukungkebijakantersebut)denganberusahauntukberangkatlebihawalmenujubandarajikakitaakanmenggunakanjasapenerbanganmaskapaitersebut. Menakjubkanbukan?.

Artikel Ringan : Haruskah Korbankan Tugas Utama Demi Permintaan Masyarakat ?


Artikel Ringan :
Haruskah Korbankan Tugas Utama Demi Permintaan Masyarakat ?




 pada suatu hari, seorang Polisi yang sedang menjalankan tugas mengatur lalu lintas menghentikan seorang pengendara mobil dan motor karena melakukan pelanggaran lalu lintas. Selain melakukan penilangan dia pun memberikan pemahaman tentang lalu lintas, karena ia merasa bahwa pelanggaran dilakukan lebih banyak kurang pemahaman daripada kesengajaan si pengendara untuk melanggar aturan.
Atas sikapnya yang santun dan profesional, menyebabkan beberapa warga berempati dan membuat surat ke kantor kepolisian setempat agar diberikan kegiatan semacam sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) dalam berkendara yang baik. Kepala kantor pun menyetujui dengan membuka program kegiatan tersebut dan menginstruksikan kepada polisi tersebut sebagai koordinator pelaksana.
Program berjalan sukses dan tersiar ke seluruh antero daerah tersebut. Selain itu hasil program terlihat nyata, karena pelanggaran lalu lintas mulai berkurang di daerahnya. Bahkan banyak warga yang mengikuti program tersebut untuk membuat SIM baru, karena setelah mengikuti program tersebut, saat dilakukan pengujian tentang pemahaman aturan dan tes berkendara berlangsung sukses.
Namun yang jadi permasalahan, begitu banyak permintaan dari warga yang tidak dapat terpenuhi karena anggaran yang tersedia untuk kegiatan program tersebut. Mendengar keluhan kantor kepolisian tersebut, beberapa warga berkirim surat kepada pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran tersebut dan penyelenggaraan program agar dilakukan di beberapa lokasi tempat warga. Pemda setempat pun menyambut dengan baik karena program tersebut dianggap sangat efektif.
Selang beberapa tahun, kepala kantor kepolisian merasa galau, hatinya berkecamuk atas dilema yang dihadapinya. Disatu sisi, program tersebut berhasil dan diminati oleh masyarakat. Namun disisi lain, tupoksi yang harus dijalankan anak buah menjadi berkurang sebagai pengatur lalu lintas karena sebagian bertugas melakukan pembinaan atas program tersebut.
Sebagai kepala kantor kepolisian, beliau memahami perilaku anak buahnya karena penghasilan sebagai pegawai negeri yang “pas-pasan”. Kalau dahulu, ada beberapa anak buahnya yang “nakal” saat menilang pengendara yang melanggar aturan lalu lintas. Namun saat ini dapat diatasi, karena adanya program Sosialiasi dan Bimtek sehingga anak buahnya yang ditugaskan mendapat “penghasilan tambahan” sebagai pengajar. Program tersebut justru didukung oleh Kepolisian Pusat dan mendapat respon yang baik saat beliau melaporkannya.
Kegamangan yang beliau rasakan adalah kekhawatiran jika anak buahnya “terlena” dengan adanya program tersebut, akan mengabaikan tugas yang sesungguhnya sebagai polisi pengatur lalu lintas. Beliau khawatir atas tugas dan fungsi kepolisian yang sebenarnya akan terbengkalai karena keterbatasan personil yang sebagian menjalankan tugas tambahan tersebut dan bukan karena keterbatasan anggaran yang telah dipenuhi oleh pemda setempat.
Hal tersebut dialaminya, ketika daerah tersebut kedatangan seorang pejabat pusat, karena ada acara kegiatan nasional. Adanya keengganan sikap anak buahnya menerima perintah untuk “berjaga” di beberapa pos-pos tertentu untuk mengatur lalu lintas, dengan alasan bentrok (atau sengaja dibentrokkan) dengan jadwal mengajar dalam program Bimtek tersebut. Haruskah beliau mengambil kebijakan untuk mengurangi program tersebut karena bukan tugas utama?. Di sisi lain, sambutan masyarakat yang begitu positif adanya program tersebut, adanya beberapa penghargaan dari Kepala Daerah maupun pejabat kepolisian pusat, yang meminta agar tetap melanjutkan program tersebut.
Banjarbaru, Akhir Januari 2014
( CB/AL )