Memahami Terjadinya Konflik atas Perubahan Kebijakan

Memahami Terjadinya Konflik atas Perubahan Kebijakan
(Patut dibaca bagi pejabat baru atau yang mutasi maupun promosi di tempat baru)

Pengantar

The exercise of violence can not be avoid when conflicting interest are at stake
(Sigmund Freud,
1932)

Pernahkah anda mengalami konflik dalam bertugas?, terutama saat anda pertama menduduki suatu jabatan baru atau berada di tempat baru entah karena mutasi atau di promosi. Hampir sebagian besar orang dalam bekerja pasti mengalaminya. Terutama saat kita menerima kebijakan baru, sementara itu kita sudah begitu familiar (lekat) dengan kebijakan lama. Setiap manusia atau organisasi pasti mengalami perubahan, dan pada lazimnya perubahan tersebut tidak serta merta dapat kita terima begitu saja. Selalu ada resistensi atau penolakan baik secara terang-terangan atau diam-diam atas perubahan tersebut, apalagi jika perubahan tersebut mempengaruhi kepentingan kita.


Namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana jika kita yang diamanatkan agar rekan kerja atau bawahan/staf mau menerima perubahan kebijakan, atau justru kita sendiri sebagai pembuat kebijakan yang akan berusaha mencoba menerapkan dalam lingkungan kerja karena kita anggap lebih efektif dibandingkan kebijakan sebelumnya. Yang menjadi permasalahan adalah jika penolakan atau pertentangan tersebut begitu kerasnya walau kita sudah mencoba dengan berbagai upaya. Apa yang harus kita lakukan dan bagaimana cara menyikapi permasalahan tersebut?. Dalam tulisan ringan ini (yang disadur dari salah satu penulis kolumnis di media terkenal), saya hanya ingin mengupas sedikit (bukan mencari solusi terbaik) mengapa terjadi konflik atau pertentangan yang begitu keras. Dan diharapkan jika mengetahui akar permasalahan yang sebenarnya, kita akan dapat mencari solusi atau penyelesaian yang lebih baik.

Resistensi/penolakan atas perubahan Kebijakan
Sudah galibnya kita sebagai manusia tidak menginginkan adanya perubahan, terutama bila kita telah berada dalam kondisi yang nyaman (comfort zone). Keseharian kita dalam rutinitas bertugas selama bertahun-tahun dalam organisasi sebetulnya itu yang sangat kita inginkan. Bahkan jika ada perubahan kita menginginkan hal itu terjadi secara perlahan ketika kita siap menerimanya ( I want if I ready to give atau I take it if I want). Kalau pun perubahan itu harus terjadi, secara ideal kita menginginkan adanya titik temu (equlibrium) secara mulus atau smoothly atau adanya kesepahaman antara pihak pembuat kebijakan dan penerima kebijakan.

Namun dalam dunia modern dengan perubahan teknologi yang serba cepat maupun informasi yang sudah mengglobalisasi tanpa batas wilayah (bordless country) menyebabkan kita menerimanya tanpa sempat lagi kita mengambil nafas. Oleh karena itu benturan kepentingan atau konflik pasti akan terjadi antara keduanya (penerima dan pembawa perubahan/kebijakan) tanpa sempat lagi kita membuat kesepakatan tertentu. Hampir setiap hari kita selalu membaca atau melihat di media massa (cetak atau elektronik) bentrokan atau konflik terjadi di berbagai penjuru daerah dengan beragam permasalahan.
Padahal kalau kita amati sejenak mungkin konflik terjadi justru diawali dengan hal-hal yang sepele dan bukannya pada permasalahan yang sebenarnya. Permasalahannya adalah mengapa konflik yang terjadi selalu berujung dengan kekerasan yang membabi buta?, Benarkah konflik dengan kekerasan milik masyarakat bawah (berlatar pendidikan rendah)?, Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Memahami latar belakang Konflik
Ahli psikolog terkenal, Sigmund Freud menyatakan bahwa konflik dan kekerasan berada dimana-mana (omni present), konflik terjadi karena sifat dasar manusia yang keras kepala dengan kepentingannya. Kepentingan yang keras kepala karena adanya dorongan alamiah manusia (human nature) dalam memperjuangkan keberadaan/eksistensi di lingkungannya, antara lain meliputi ideologi, kekuasaan, identitas dan kekayaan.
Terkadang sifat keras kepala dengan kepentingan sebagai penyebab terjadinya mobilisasi kekuasaan secara membabi buta (contentious). Mereka dengan sumber daya yang dimilikinya menggunakan kekuatan untuk mencapai tujuan atau mempertahankan kepentingannya. Kelompok yang memiliki sumber daya ekonomi akan mengerahkan anggotanya untuk mendestabilisasi proses untuk menentang kebijakan yang ditetapkan oleh pemimpin baru. Ada pula yang menggunakan kekuatan dari kekuasaan primordial etnis atau keagamaan, dengan menggerakkan anggota komunitasnya untuk menyerang atau menentang kebijakan pemimpin baru tersebut.

Menurut Kandel Englander (2008), berbagai variable sumber daya kekuasaanlah sebagai penyebab kompleksitas perilaku kekerasan (the complexity of violent behaviour) yang sulit dikontrol dan dikendalikan oleh sistem organisasi atau masyarakat. Englander mengatakan bahwa puncak terjadinya perilaku kekerasan dalam konstelasi kekuasaan merupakan gabungan antara hostile dan instrumentalia aggression.

Hostile aggression merupakan aksi pertentangan/kekerasan yang berorientasi pada pemuasaan emosional terkait dengan harga diri.  Si Penguasa dengan kewenangannya tanpa sadar telah menyinggung harga diri masyarakat/kelompok sehingga memaksa kelompok tersebut memobilisasi kekuatan untuk menentangnya dengan keras. Sedangkan instrumentalia aggression adalah pertentangan yang terjadi dari akumulasi sebagai upaya untuk meraih tujuan tertentu. Misalnya, pola penunjukkan pemimpin yang tidak sesuai dengan keinginan mereka dengan mencari titik lemah (dianggap tidak syah) terhadap proses penetapan pemimpin tersebut termasuk kebijakannya.

Seiring dengan perubahan jaman, pada dasarnya manusia berusaha melembagakan mekanisme untuk mengatur dan mengelola proses memperjuangkan eksistensi dasar dalam dunia sosial. Douglas C. North dalam bukunya ‘Violence and Social Order’ (2009) menyatakan bahwa mekanisme yang dimaksud dikenal dengan institutional constraint. Artinya, mekanisme kelembagaan tersebut memiliki legitimasi agar pihak-pihak tertentu tidak menekan kepentingannya. Yang jadi permasalahan adalah siapa yang mampu mengorganisir institutional constraint tersebut?.

Max Webber menjelaskan bahwa negara sebagai organisasi yang mampu melakukan hal tersebut. Berdasarkan sejarah, Webber mengatakan pada jaman dahulu negara yang dimaksud dipengaruhi oleh model monarki yakni raja atau rejim yang dapat mengorganisir institutional contraint. Namun untuk jaman sekarang yang demokratis, C. North menyebutkan institutional constraint dilandasi oleh hak publik yang berlandaskan perdamaian yakni menekan kelompok-kelompok yang tidak berhak menggunakan kekerasan untuk mengagregasi kepentingannya.

Agregasi tersebut disalurkan dalam jalur komunikasi secara formal sesuai prosedur demokrasi dengan tidak melanggar perdamaian. Oleh karena itu, dalam organisasi hendaknya diatur prosedur dan kewenangan secara jelas untuk mengakomodir atau menekan kepentingan sesuai dengan tujuan organisasi.
Simpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kita sebagai pejabat/selaku pembawa amanat kebijakan atau aturan harus mengetahui lebih dahulu kondisi area (field area) sebelum menerapkannya sesuai dengan prinsip Sun-Tzu “kenalilah lawan sebelum menyerang” dengan hal-hal sebagai berikut :

a.      Sadarilah bahwa setiap perubahan atau kebijakan baru pasti mengandung penolakan pada awalnya.
b.      Kajilah lebih dahulu kebijakan atau aturan dengan melakukan test-case atau test-area sebelum diterapkan secara langsung secara keseluruhan.
c.      Buatlah beberapa alternatif/modifikasi jika terjadi penolakan secara terus menerus yang meningkat secara signifikan.
d.      Didalam organisasi manapun selain pemimpin formal pasti ada pemimpin informal dalam suatu kelompok yang akan mempengaruhi tingkat penerimaan kebijakan tersebut.
e.      Kenalilah lingkungan (mendengarkan lebih baik dari pada mengarahkan), termasuk mengenal karakter dari masing-masing kelompok informal agar dapat menyesuiakan lebih dini untuk penerpana kebijakan tersebut.
f.        Jangan pernah percaya informasi (atau sebatas data/angka) dari bawahan di bawah satu level bahwa kebijakan anda telah diterapkan tanpa ada ekses apa pun. Lakukan monitoring (bila perlu inspeksi mendadak) apakah kebijakan telah diterapkan dengan baik.
g.      Dlsb.

Ide Penulisan : Transformasi Konflik dalam Pemilu, Novri Susan (sosiolog UNAIR), Koran Tempo, 30 Juni 2010

Perubahan Kecil akan membuat Suasana Kerja menjadi Nyaman

(Refleksi Bermenung Sebagai Pengalaman)
Renungan Cak Bro :
Perubahan Kecil akan membuat Suasana Kerja menjadi Nyaman
Pengantar
Pernahkah kita merasa jenuh atau bosan di kantor atau merasa tidak memiliki semangat atau motivasi dalam bekerja?. Mengapa hal itu bisa terjadi dan bagaimana caranya kita menyikapi hal tersebut?. Namun, ada pula teman kita yang dapat menikmati kerja walau diberikan tugas yang berat sekalipun, dia memiliki semangat kerja tinggi seakan-akan memiliki energi yang tidak habis-habisnya. Apa rahasianya?
Berbagai perangai dan tingkah laku pegawai dalam sebuah organisasi. Ada seseorang yang terlihat biasa-biasa saja atau dapat dikatakan bersikap malas, dia selalu berdiam diri atau kerjanya hanya mengobrol, bekerja jika diperintah oleh atasan, kemudian saat selesai tugas dikerjakan kembali lagi dia berdiam atau mengobrol pada temannya.

Ada pula pegawai yang selalu berkeluh kesah ‘ bagaimana saya bisa bekerja dengan optimal jika lingkungan kerja tidak nyaman?’. Namun dia tetap saja mengeluh ketika dipindahkan ke bagian lain. Disisi lain, ada seorang pegawai yang terlihat begitu aktif dan rajin. Dia senang mengerjakan tugas apapun yang diberikan, dia selalu siap menolong orang lain, dia begitu bersemangat bekerja. Apa rahasianya?

A.   Mengapa Kita Merasa Lingkungan Kerja  Tidak Nyaman?
Sangatlah benar bahwa lingkungan kerja yang nyaman merupakan prasyarat utama agar kita bisa bekerja dengan baik dan optimal. Beragam alasan yang menjadi penyebab lingkungan kerja menjadi tidak nyaman, antara lain : suasana pertemanan, atasan yang tidak adil, sistem atau prosedur kerja yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Ada pula faktor luar yang mempengaruhi lingkungan kerja menjadi tidak nyaman seperti : kondisi keluarga yang tidak harmonis, kondisi jalan yang selalu macet, jarak antara rumah dan kantor yang jauh, bahkan berita miring/negatif tentang kantor kita, dsb.
Lalu jika kita mengalami hal-hal seperti itu apa yang harus kita lakukan atau bagaimana cara menyikapi dengan bijak?, sementara kita tidak memiliki kemampuan untuk mengubah keadaan tersebut. Misalnya, haruskah kita membeli rumah baru dan pindah ke daerah yang lebih dekat kantor?, haruskah kita keluar untuk mencari pekerjaan baru sementara usia kita termasuk usia kerja yang tidak bisa bersaing lagi?. Jika halnya demikian, apakah kita harus bertahan seumur hidup untuk bekerja dengan suasana yang tidak nyaman tersebut?.

B.    Bagaimana Caranya agar Lingkungan Kerja Kita Menjadi Nyaman ?
Begitu banyak orang-orang yang berperasaan sama dengan beragam alasan yang berbeda-beda. Semua permasalahan di atas harus bisa kita sikapi dengan bijak secara profesional. Hanya ada satu saran jitu yakni menghadapinya dan bersikap agar tidak tengelam dengan suasana yang “tidak happy” tersebut.
Timothy Bullet, Profesor Harvard University dalam bukunya “ Getting Unstuck : How Dead Ends Become New Paths” menyebutkan bahwa salah satu cara melepaskan diri dari ‘uncomfortable zone’ adalah melakukan instropeksi diri dan bukan hanya menyalahkan lingkungan semata. Tanpa sadar kita tidak mampu melihat sisi positif dari lingkungan kerja karena daya adaptasi/menyesuaikan diri yang tidak optimal.

Sebagai contoh : kita merasa frustasi karena kurangnya support dari atasan atau bagian lainnya atau keterlambatan bagian pengadaan barang (penyediaan Alat Tulis Kantor) yang menghambat pekerjaan kita. Padahal mungkin saja karena kita kurang mengupayakan pendekatan dengan baik kepada atasan kita atau bagian lainnya agar mensupport pekerjaan kita. Dengan demikian, bukankah kita menjadi bagian dari masalah kita sendiri?. Rasa tidak nyaman atau happy merupakan peringatan dini atau alarm bahwa ada masalah yang harus kita perbaiki.

Hal kedua yang patut kita pertimbangkan dan sadari adalah tidak ada sistem atau pola kerja yang sempurna di dunia ini. Secanggih apapun sistem atau peralatan yang  diciptakan, sedetail apapun prosedur atau pola kerja yang dibuat pasti ada kekurangan yang harus kita perbaiki. Rasa tidak puas atau protes dari sekelompok orang, demo yang dilakukan masyarakat/komunitas tertentu menunjukkan ada kesalahan sistem di masyarakat yang perlu diperbaiki.

C.  Berpikir Positif akan Menghasilkan Kreatifitas dan Inovasi Kerja yang Efisien
Disini ada sebuah cerita yang cukup menarik disimak. Ada seorang pegawai berstatus mahasiswa yang bekerja paruh waktu (part timer) yang bekerja di sebuah Rumah Sakit dengan tugas mengganti seprai pasien setiap hari. Dia seorang mahasiswa universitas ternama jurusan sistem komputer yang cerdas dan kreatif. Mungkin pekerjaan yang dihadapinya terasa sangat membosankan yang tidak memiliki added value untuk menunjang masa depannya terkecuali hanya bekerja unutk meringankan beban kuliahnya.

Dengan daya kreatifnya, dia mencari cara termudah dan efisien untuk mengganti seprai terutama pada pasien yang tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Caranya tersebut yang lebih mudah dan efisien kemudian ditiru oleh teman-teman sejawatnya. Alhasil setelah dia lulus kuliah dan telah bekerja di kantor, ketika ia mengunjungi rumah sakit tersebut selang sepuluh tahun kemudain. Seorang bekas temannya yang bekerja di rumah sakit tersebut mengatakan bahwa cara penggantian seprai yang ia lakukan kini menjadi bagian prosedur dan sistem di rumah sakit tersebut. Ini merupakan hasil karya dari seseorang yang merasa tidak nyaman atau ‘tidak happy’ tersebut.

Terkadang bila kita bekerja terlalu lama pada tempat atau posisi yang sama akan membuat kita merasa jenuh atau bosan, selain merasa sudah tidak ada lagi tantangan, mungkin juga kita merasa tidak comfortable lagi. Namun jika rasa tidak puas atau tidak ‘happy’ bersarang di hati kita terlalu lama tanpa pernah berbuat apa-apa akan merusak semangat dan motivasi dalam bekerja termasuk yang akhirnya akan mempengaruhi kenyamanan lingkungan kerja. Padahal seharusnya kita merasa bersyukur jika kita mau melihat di sekeliling kita, mungkin ada orang yang lebih buruk dari kita.

Oleh karena itu, dengan daya kreatifitas dan inovasi yang kita miliki berarti kesenangan pekerjaan berada di tangan kita seutuhnya. Rasa keyakinan tersebut harus kita tanamkan sebagai keyakinan diri sehingga pekerjaan yang kita miliki menjadi lebih menarik. Rasa keyakinan itulah yang akan menjadi semacam pemompa semangat atau ‘charger’ yang dapat membunuh rasa bosan/jenuh dalam bekerja. Keyakinan tersebut sebagai ‘re-energizer’ yang akan meciptakan daya kreasi dan inovatif atas pekerjaan agar lebih efektif dan efisien.

D.   Perubahan Kecil akan Merubah Lingkungan Kerja menjadi Nyaman
Banyak hal yang dapat kita lakukan secara sederhana atas pekerjaan akan berdampak positif. Misalnya, sedikit merubah pola/tata kerja atau hanya merubah tata letak (lay-out) ruangan kerja akan merubah suasana kerja agar tidak membosankan. Dapat pula kita melakukan semacam eksplorasi dan eksperimen kecil-kecilan atau bersikap lebih pro aktif atas pekerjaan kita dalam rangka perbaikan dan peningkatan kinerja dengan biaya semininal mungkin, dan lain sebagainya.

Daripada kita hanya berkeluh kesah karena tugas yang diemban dari Atasan dengan target atau tenggat waktu yang mepet, justru membuat kita merasa berat atau sulit melaksanakannya. Ciptakan hal-hal kecil yang membuat suasana kerja menjadi lebih nyaman, misalnya dengan menyetel musik. Musik bernada cepat dengan hentakan keras akan memacu kerja kita menjadi lebih bersemangat, kemudian setel musik bernada lembut dan melankolis saat kita beristirahat.
Dengan sedikit mengutak-atik pola atau cara kerja, membenahi hubungan kerja dengan bagian lain, merubah persepsi kita mengenai lingkungan kerja, melakukan evaluasi dan pemetaan ulang tugas maupun targetnya sehingga dapat membuat daftar prioritas, kesemuanya itu akan membawa suasana baru yang berdampak positif agar kita lebih bersemangat.

Adanya semangat kerja akan menimbulkan energi tidak hanya kita akan berusaha berbuat lebih baik lagi, tetapi juga berusaha menikmati kerja sebagai hasil kreasi yang kita lakukan. Sepanjang perubahan metode/cara kerja berdampak ke arah yang lebih baik atau menghasilkan kinerja yang positif, lakukanlah dengan rasa senang hati atau ‘happy’. Selamat mencoba, semoga berhasil, semoga BPKP semakin Jaya !.
Sidoarjo, 15  Juni 2010
Ide penulisan :
‘Zona Tidak Nyaman’, Eiken Rachmi & Sylvina Savitri, EXPERD, Kompas, 12 Juni 2010.

Kisah Remaja Cak Bro: Ajak Bolos Teman ‘separuh kelas’ (Bag. Terakhir-Habis)

Kisah Remaja Cak Bro:
Ajak Bolos Teman ‘separuh kelas’ untuk Naik Gunung ??
(Bagian Terakhir)


Hadapi Sidang Sekolah atas Perbuatan Kami
Esok harinya, seperti biasa saya berangkat ke sekolah. Karena hari senin berarti kami harus mengadakan upacara bendera, suasana terasa heboh, beberapa kawan yang kutemui langsung menyapa “ Cak Bro, kapan naik gunung lagi... ajak2 gue dong...”, dan kawan lainnya demikian, “ Wah seru banget cerita naik gunungnya... kapan2 gue diajak ya?”, saya pun cuma diam tidak menanggapi. Namun kulihat saat upacara, ada beberapa kawan yang ikut kemarin ternyata tidak masuk, mungkin mereka sakit dan minta ijin untuk tidak masuk sekolah. Usai upacara, tiba-tiba saya dipanggil seorang guru dan menyuruhku untuk segera ke ruangan Kepala Sekolah.

Sesaat saya masuk ruangan kantor tersebut, disana sudah terlihat kawan2 sohibku sedang duduk dihadapan Kepala Sekolah yang sedang berdiri memandang dan menyuruhku duduk. Dengan tangan disilangkan, sang Kepala Sekolah berkata dengan wibawa, “ Kalian tahu,... mengapa saya suruh kesini?”, Kami pun serentak menggelengkan kepala.
Kami duduk dengan wajah menunduk, sementara sang Kepala Sekolah berjalan mondar-mondir dihadapan kami seraya memandangi kami satu persatu dan berkata lagi, “Cak Bro, Wanto, Dani, dan Iko!,.... kemana kalian saat hari sabtu kemarin?”. Dada saya berdegup kencang dan tergagap-gagap bersama kawan lainnya menjawab “ Maaf pak, kami memang bolos... kami naik gunung kemarin pak..”.
Dengan nada yang agak meninggi beliau berkata “Saya tidak mempermasalahkan kalian untuk bolos,...... tapi mengapa kalian mengajak bolos kawan-kawan hampir separuh kelas hah?!!..”. Dan lanjutnya “ketika upacara bendera sabtu kemarin,.... sangat mencolok terlihat beberapa barisan upacara lowong sebagian, Sungguh keterlaluan!!”.

Sementara itu diluar kantor Kepala Sekolah, beberapa kawan-kawan mengerubungi jendela kantor untuk melihat kami yang sedang disidang, Kepala Sekolah dan Wakilnya seraya membuka buku tebal berkata, “Kalian berempat,.... sudah banyak catatan di agenda BP. Saya tahu kalian anak2 pintar, bahkan menjabat sebagai pengurus kelas semuanya.... seharusnya kalian memberikan tauladan bagi kawan2 lainnya..Bagaimana Ini !!!.”. Kami berempat memang lain kelas, Saya dan Bolo adalah wakil ketua dikelas masing-masing, demikian juga Wanto menjabat sebagai ketua dikelasnya.

Maksudnya BP adalah Bimbingan dan Penyuluhan (kalau sekarang BK – Bimbingan dan Konsultasi), setiap anak yang bermasalah (atau yang bandel pasti selalu dipanggil oleh guru BP untuk diberi pengarahan). Entah mengapa, semenjak penjurusan dan saya ditempatkan di kelas IPS,  saya menjadi anak yang bandel. Hampir setiap sabtu selalu ‘berulah’ dan pastinya akan masuk ruang BP.

Mengapa Saya Jadi Anak Bandel di Sekolah?
Mungkin disebabkan kekecewaan saya, saat sebelum penjurusan sekolah (waktu itu penjurusan hanya dua : IPA dan IPS), saya punya ‘masalah; dengan Bu Guru Kimia saya. Teringat ketika itu, saat menghadapi ulangan guru Kimia saya menuduh saya mencontek dengan teman sebangku karena ada beberapa coretan pada beberapa soal. Padahal saya sudah menjelaskan, saya tidak punya penghapus (sejenis tip-ex) untuk menggantinya. Namun beliau tidak mau mengerti “pokoknya kamu tetap mencontek,... bagaimana jika besar nanti kamu menjadi pemimpin negeri ini hah?”.

Betapa marah saat itu mendengarnya, saya langsung menggebrak meja dan berkata “Saya tidak pernah menyontek bu!, hanya karena ingin dapat nilai bagus...”, lanjut saya “Baiklah jika ibu tidak terima,..... saya minta kertas ulangan saya dan anggap saja tidak ikut ulangan dengan nilai nol...”, namun beliau menolak dan justru mengatakan kata-kata yang pedas lagi. Akhirnya saya berkata dengan suara meninggi, “ Mulai saat ini, saya tidak akan ikut pelajaran ibu,... Kimia bukan segala-galanya bagi saya.... Ingat bu, saya akan berhasil jika dewasa nanti tanpa ilmu itu...”, kemudian saya langsung keluar kelas. Setelah itu, teman sebangku saya mencoba menjelaskan bahwa saya memang tidak menyonteknya. Akhirnya teman saya menyuruh saya untuk kembali ke kelas, saya tidak mau kembali karena merasa dilecehkan.

Sejak saat itu, saya tidak pernah mau masuk kelas jika guru kimiaku datang mengajar (karena tidak mau meminta maaf atas sikapnya....) Alhasil, karena tidak belajar untuk nilai pelajaran kimiaku jelas menjadi jelek. Dan sudah pasti, ketika penjurusan saya tidak dapat masuk jurusan IPA, karena hanya satu-satunya nilai yang hancur adalah kimia. Dan semenjak saya masuk jurusan IPS, sifat saya menjadi berubah dan suka berulah serta menjadi anak bandel.

Solidaritas Teman Melalui Demo
Kembali lagi ke masalah kami dalam sidang sekolah tersebut, saya pun mencoba menjelaskan “ Tapi pak, awal mulanya kami hanya janjian berempat saja,.... kami tidak mengajak mereka dan...”. Penjelasan saya pun dipotong sang Kepala Sekolah, “ Saya tidak mau tahu!,.... yang jelas kalian telah mengajak lebih dari separuh kelas untuk membolos.... kalian harus bertanggungjawab untuk dihukum!”.

Sementara itu, diluar sana beberapa kawan mencoba berdemo di depan kantor Kepala sekolah untuk membela kami. Mereka memaksa untuk masuk ruangan itu (termasuk cewek-cewek), karena tidak diperbolehkan masuk akhirnya mereka menghadap kepada beberapa orang guru, “Mereka tidak bersalah pak,... kami yang salah memaksa untuk bergabung dan ikut naik gunung... kami juga harus dihukum pak!”. Bahkan beberapa orang yang tidak ikut kemarin, turut bergabung untuk berdemo.

Selanjutnya, beberapa guru tersebut memasuki ruangan Kepala Sekolah dan mengadakan rapat bersama dan akhirnya kami diputuskan untuk membuat surat perjanjian agar tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Seandainya kami ingin naik gunung atau kegiatan lainnya, harus segera melapor untuk dibuatkan surat ijin dari sekolah serta harus menyertakan salah seorang guru sebagai pengawas.

Karena waktu itu kami telah menginjak kelas III dan akan mempersiapkan ujian, kami hanya di-skors beberapa hari untuk tidak mengikuti pelajaran, namun diwajibkan ikut piket bersama guru piket dan membantu administrasinya. Memang usai kejadian tersebut karena ingin menghadapi ujian, kami pun mengurangi kegiatan tersebut. Kami sadar untuk lebih serius belajar agar sukses menghadapi Ujian Nasional nantinya.

Dampak dari Petualangan Kami
Usai kami lulus dari sekolah SMAN 13 Jakarta Utara, kami bertiga pun masuk kuliah di Sekolah tinggi Akuntansi Negara (STAN) bersama-sama. Saat menginjak Tingkat II (Semester III), kami tetap melanjutkan hobi dan kegemaran dengan menjadi anggota Kelompok Pencinta Alam – STAN yakni STAPALA.

Karena STAN adalah sekolah kedinasan ketika menginjak Tingkat II, kami pun diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Untuk mengurus persyaratan dan administrasi, kami pun harus mengurus legalisir Ijazah SMA. Bersama-sama kami berangkat menuju sekolah kami yang penuh kenangan.

Setibanya di sekolah tersebut, kami pun sangat kagum karena sekolah sudah berubah. Gedung sekolah kami, kini menjadi megah dan bertingkat. Saat menuju ruangan Kepala Sekolah untuk meminta melegalisir ijazah, kami bertemu dengan Guru BP (guru ‘seteru saya dahulu) yang sama-sama masuk keruangan tersebut. Kebetulan Kepala Sekolah sudah berganti dan bertanya “ Ada perlu apa?”, kami pun berkata “ Kami lulusan sekolah sini dan ingin melegalisir ijazah Pak!..” seraya menyerahkan berkas.

Saat beliau membuka berkas, beliau berkata “ Wah selamat ya!, kalian sekarang menjadi mahasiswa STAN...”, kemudian beliau menoleh ke guru BP kami “ kalian pasti siswa-siswa sekolah kita yang teladan,... benar khan bu?”. Guru BP saya pun mengangguk setuju “ Benar pak, mereka ini salah satu siswa teladan di sekolah ini...”, kami pun berusaha menahan tawa.
Ketika sampai diluar, saya pun menggoda guru BP “Benar khan bu,.. kami adalah siswa teladan sekolah ini!..”. Tiba-tiba dia menjewer kuping kami “ Dasar anak-anak bandel,... masih saja mengganggu orang tua...”, namun beliau  hanya bercanda “Saya juga termasuk bangga,.... semoga kalian sukses ya..”, kami pun berpamitan.

Semenjak kami tinggalkan sekolah tersebut, ternyata  kemajuannya begitu pesat. SMAN 13 saat ini merupakan sekolah favorit dan termasuk sekolah unggulan untuk wilayah Jakarta. Yang membuat saya bangga, ternyata di sekolah tersebut sudah terbentuk organisasi kelompok pencinta alam. Waktu itu, kami pun turut terlibat mengembangkan kelompok tersebut, dimana saya dipercaya sebagai instruktur pelatihan panjat tebing atau panjat dinding.

Entah karena sekedar memuji atau menghormati kami yang senior,  para siswa yunior tersebut bercerita bahwa dibentuknya kelompok pencinta alam ini berdasarkan atau terinspirasi dari kisah-kisah kami yang suka naik gunung dan berkemah, terutama ‘kisah naik gunung dengan mengajak siswa membolos hampir separuh kelas’.

Motivasi di Balik Kisah
1.     Tim Dibentuk berdasarkan Komitmen
Saya memiliki sahabat karib bukan karena memiliki persamaan sifat dan sikap, tetapi hobi yang sama membuat kita memiliki ‘keterikatan’ untuk saling berbagi dalam kebersamaan. Justru melalui perbedaan sifat dan sikap, kita saling memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing, agar dapat bekerja sama dan berkolaborasi untuk mencapai tujuan. Keterikatan itulah yang dikenal dengan Komitmen. Hal itulah yang menjembatani atas kekurangan dalam setiap anggota tim dengan berkolaborasi/bekerjasama untuk menutupi kelemahan masing-masing.

2.     Perencanaan dibuat berdasarkan Permasalahan
Memang benar, seolah-olah setiap kegiatan yang kami lakukan tidak berdasarkan perencanaan yang matang, sepanjang memiliki kemauan dan tujuan, semuanya dapat diatasi dengan mudah. Kemauan atau tekad itulah sebagai ‘inti kebersamaan’ yang menjadi kita menyatu (solid) untuk menghadapi permasalahan.
Justru perencanaan dibuat berdasarkan permasalahan. Ketika kami berencana untuk pergi berempat, akhirnya berubah dengan rencana bagaimana harus membawa kawan-kawan lainnya sebanyak 35 orang. Dan perencanaan tidak bersifat kaku, harus bersifat fleksibel dan selalu berubah sesuai permasalahan dihadapi. (lihat kisah kami bagaimana naik truk).

3.     Pengorganisasian dibentuk berdasarkan kepentingan dan tujuan bersama
Walau pun kami tidak memiliki pengalaman berorganisasi secara formal, namun kami dapat mengelola atau mengorganisir kawan-kawan untuk mencapai tujuan bersama. Saat kesepakatan sudah dibuat, maka masing-masing orang akan mengajukan diri sesuai kemampuan untuk melaksanakan tugas. Setiap orang akan mentaati semua ketentuan yang disepakati dan saling bekerjasama untuk mencapai tujuan.
Adanya kesepakatan dan komitmen, semuanya terikat oleh tanggungjawab. Setiap orang akan meyerahkan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama. Saat seseorang menyimpang dari tujuan dan kepentingan, maka masing-masing akan mengingatkan akan kembali akan tujuan bersama.

4.     Keterbatasan Anggaran dan Sarana Bukanlah Penghalang Mencapai Tujuan
Kami mematahkan pendapat bahwa keterbatasan anggaran dan sarana selalu dianggap sebagai kendala untuk mencapai tujuan bagi organisasi. Padahal kesuksesan organisasi untuk mencapai tujuan justru terletak pada komitmen bersama.
Dengan komitmen akan menimbulkan tekad atau motivasi untuk mencapai tujuan. Adanya tekad dan kemauan, maka kita berusaha mengoptimalkan semua anggaran dan sarana yang ada. Tidak adanya dana untuk menyewa bis, maka timbul keberanian (atau tekad) untuk naik truk. Hla ini sesuai dengan pepatah “ tidak ada rotan, akar pun jadi”.

5.     Pemimpin yang baik siap mengambil alih tanggung jawab
Siap mengambil alih tanggung jawab merupakan prinsip utama bagi pempimpin yang sukses. Memang benar seorang pemimpin pasti memiliki tanggung jawab, namun terkadang mereka membatasi tanggungjawab sesuai dengan tugas atau peran yang dimiliki.
Dalam teori kepemimpinan, terdapat dua gaya Kepemimpinan yakni berorientasi proses dan output. Pemimpin yang berorientasi proses akan melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur atau pedoman yang disepakati. Sedangkan Pemimpin yang berorientasi out put dalam melaksanakan tugas selalu berfokus pada tujuan.

Masing-masing prinsip tersebut memiliki kelemahan dan kelebihan. Pemimpin yang berorientasi akan menghasilkan tugas yang berkualitas, namun kelemahannya mereka akan membatasi tanggungjawab hanya sebatas yang dipegangnya. Sedangkan Pemimpin yang berorientasi out put, mereka terkadang mengabaikan prosedur sepanjang tugas yang diembannya mencapai tujuan. Bahkan mereka sering bekerja melampaui wilayah yang bukan tanggung jawabnya 

Ketika terjadi hambatan atau tidak tercapai tujuan, kita akan mencari permasalahan yang terjadi. Setelah kita mengetahui letak/ lokasi atau titik permasalahan, justru kita berdiam diri karena menganggap bukan tangung jawab atau wilayahnya. Pernahkan kita mendengar lontaran kata-kata seperti ini?, “Saya sudah melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab, masalah tidak tercapai tujuan..... itu bukan urusan saya, itu tanggung jawab pemimpin yang diatas dong!”. Atau, “ha.ha.. benar khan?, permasalahan bukan karena saya,.... jelas itu tanggungjawab dia!”.

Seharusnya jika kita tahu titik permasalahan, walaupun bukan dalam wilayah kita, kita memcoba memberi bantuan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Demikian sebaliknya, jika kita yang memiliki permasalahan dan tidak dapat mengatasi, kita akan meminta bantuan orang lain untuk mengatasi bersama sehingga kegiatan yang dilakukan akan tercapai secara keseluruhan.

Demikian kisah Masa Remaja Cak Bro semasa SMA semoga jadi perenungan bagi diri saya pribadi dan saya berharap tidak akan  diikuti oleh anak saya (atau “ Don’t try at your school”). Ide penulisan ini hanya bahwa dengan adanya kemauan atau tekad, walau pun anggaran atau dana serta sarana terbatas, kita dapat melaksankan tugas dengan baik dengan mengoptimalkan apa yang ada di sekeliling kita.

Mess BPKP Jatim, Sidoarjo, 5 Maret 2011

Kisah Remaja Cak Bro: Ajak Bolos Teman ‘separuh kelas’ ....(Bagian III)

Kisah Remaja Cak Bro:
Ajak Bolos Teman ‘separuh kelas’ untuk Naik Gunung ??
(Bagian III) 

Cari Kesempatan Dalam Kesempitan
Sesampai di pondok peristirahatan, beberapa kawan melapor ada cewek-cewek yang jatuh dan terkilir kakinya. Saya dan kawan sohib pun segera membantunya, dengan melepas kaos kaki dan meminta minyak gosok, mencoba untuk ‘mengurutnya’ agar rasa sakitnya berkurang, “ Hei To, ngurut sih ngurut,... tapi mata kakinya aja dong!,.... koq lu megang-megang sampai ke atas lutut..”, sergah cowoknya sedikit marah. Saya pun berkilah “ Yang namanya urat terkilir bukan aja diurut mata kakinya,.... uratnya harus dibetulin sampai keatas dong... emangnya borok!, cuma kasih obat yang lukanya....”, padahal dalam hati saya tersenyum sudah mengibulinya (he..he,.. kapan lagi megang kaki cewek cakep dengan gratis... dasar Piktor! – alias Pikiran Kotor).

Melihat kami berempat sedang mengurut kaki kawan-kawan yang sakit, salah seorang kawan cewek mengomentari. “ Gue pikir anak gunung sifatnya keras-keras,.... ternyata perhatian dan lembut juga ya dengan membantu kita-kita yang sakit...”. Saya pun berkilah (padahal hidung gue langsung ‘mengembang’ tanda bangga), “kalau lu-lu pada kagak disembuhin,... mau sampai kapan kita bisa ke bawah?”.  
Nah ada yang satu cewek yang ‘kesemsem” alias suka sama saya (perasaan gue aja ngkali), namanya... (kagak usah disebut aja akh, entar ketahuan bini gue,....bisa berabe nanti !!!), dan dia berkata lagi “Sayang gue udah punya pacar sih,... kalau belum, gue mau deh jadi pacar lu,... karena elu perhatian banget sama perempuan.....”., Sebenarnya saya kelimpungan juga mendengarnya (Busyet nih cewek!,....anak gunung koq ‘ditembak” !! ), Saya pun pura-pura melotot sambil menunjuk cowoknya yang kebetulan agak jauh dari situ, “Sst!, cowok lu teman baik gue juga,.... gua kagak mau bertengkar gara-gara cewek!”, lanjut saya “ Udeh deh,... lu pikirin aja penyakit lu, makanya kalau jalan harus hati-hati”, setelah selesai mengurut mereka saya tinggalkan.

Usai beristirahat cukup lama, tak terasa waktu sudah menunjukkan sore hari karena terlihat sinat mentari yang menerobos dahan-dahan hutan tidak lagi terlihat cerah. Kami pun melanjutkan perjalanan. Saya merasa khawatir, karena beberapa kawan yang sudah mulai kehilangan energi dengan rasa lelah, perjalanan terasa begitu lambat dan kami akan tiba dibawah kaki gunung (Cibodas) menjelang malam. Saya pun mengambil inisiatif agar kelompok di depan untuk mengambil alih sebagai tim ‘sweeping’, “ Kawan-kawan yang didepan,.. tolong yang merasa sehat dan kuat bantu kawan yang di belakang...”, mereka saya perintahkan untuk menarik dan membimbing tangan mereka yang lemah agar perjalanan bisa lebih cepat.
Saya pun segera menghampiri salah satu teman cewek (yang ‘nembak’ tadi) dan berkata dengan cowoknya, “nampaknya lu sudah kelelahan bawa dia,... biar gue ambil alih ya,....percaya deh ame gue !”. lantas saya raih tangan tuh cewek dan menuntunnya agar bisa berjalan lebih cepat dan berkata lagi dengan cowoknya, “udah lu jalan duluan deh,... bergabung dengan kelompok tengah...nanti kalau lu udah merasa kuat, boleh deh diambil alih lagi”. Demikan halnya dengan kawan-kawan yang merasa sehat saya perintahkan untuk mengambil alih beberapa pasangan yang terlihat lelah.

Bukannya saya ingin memanfaatkan ‘kesempatan’, saya hanya menghiburnya dan berharap agar dia merasa sehat dan pulih kembali, “ Ayo jangan dilihat terjalnya jalan,... tapi bayangkan keindahan isi hutan ini dan pastinya kamu tidak pernah melihat sebelumnya..”. Tak berapa lama, saya dapat mengejar ketertinggalan dan sudah berada dikelompok tengah. Saat bertemu dengan cowoknya lagi, saya berkata seraya menyerahkannya, “ Oke,.. cewek lu sudah pulih,..nah gue serahin lagi nih sesuai janji gue...”, kemudian saya kembali ke belakang untuk mencari kawan-kawan lainnya yang tertinggal jauh.

Taklukan Gadis Manja dengan ‘Senjata Rahasia’
 Saya melihat ada kelompok pasangan yang berjalan begitu lambat dan santai, langsung saya hardik, “Hei!, kalian berjalan kaya pengantin aja,... mau bermalam lagi di hutan?, cepetan jalannya!,.. waktu sudah hampir gelap nih”. Cewek tersebut memang terlihat ‘judes’ dan manja, sementara sang cowok terlihat ‘penurut’ dan penyabar. Saya pun berjalan dibelakangnya, karena tidak sabar melihat mereka sudah tertinggal jauh dengan kelompok lainnya. Akhirnya saya berkata “Udah deh serahin cewek lu biar gue yang urus,.... sekarang lu susul kawan-kawan tuh  yang sudah menjauh”. Temanku yang cowok pun menurut, justru dia merasa gembira karena merasa lepas dari beban (brengsek,.. kalau yang susah-susah begini,  bagian gue deh akhirnya...).

 Saya pun menggamit tangannya saat menuruni jalan terjal, “ Ayo dong cepetan jalannya.... kita udah ketinggalan jauh nih”. Dasar anak manja!, justru baru beberapa meter berjalan, dia minta istirahat lagi, “ Aduh Cak Bro, gua capek beneran nih, istirahat dulu ya...”. dan lanjutnya, “Biarin deh kita sampai dibawah kemalaman, Gue percaya sama elu.. karena elu khan yang punya gunung ini”. Coba bayangin betapa menyebalkan kelakukannya, Namun akhirnya saya turuti permintaannya. Kali ini strategi yang saya jalankan sebelumnya gagal untuk ‘menaklukkannya’, sambil berjalan saya pun ‘memutar otak’ untuk mencari cara yang lebih jitu agar dia dapat berjalan lebih cepat.

Karena saya membawa bekal pas-pasan dan mengakibatkan udara dalam perut terasa penuh alias masuk angin. Dan saya punya kebiasaan buruk yakni suka ‘buang gas’ sembarangan. Benar saja, saat beristirahat lagi, tiba-tiba udara dalam perut mulai menggeliat dan dengan segera saya ‘tembakkan’ ke udara melalui ‘pintu belakang’. Mendengar suara ‘tembakan’ dari perut saya, ditambah udara dingin yang jelas menimbulkan aroma tidak sedap, dia pun marah-marah “Kamu tuh tidak sopan ya?, buang gas sembarangan.....”, dia pun beringsut berdiri dan berjalan seraya menggerutu “ dasar anak gunung!,..... ‘buang gas’ seenaknya”, saya pun tersenyum melihat tingkahnya.
Atas kejadian tersebut justru saya punya ‘senjata’ sebagai alat menekan dia agar tidak manja dan dapat mengejar ketertinggalan dengan rombongan lainnya. Saat dia meminta untuk beristirahat, dan saya tahu kalau dia tidak terlalu letih, segera saya sergah “boleh,.. tapi sebentar saja”, dan dengan segera saya keluarkan ‘senjata’ saya tersebut. Hal tersebut saya lakukan berulang-ulang, walau dengan wajah yang kelihatan sebal dengan saya, tanpa terasa kami sudah dapat menyusul dan bergabung dengan rombongan lainnya.

Ketika dia sedang beristirahat dengan kelompok tengah, saat saya datang bergabung, dia langsung berdiri dan berjalan menjauhi sambil berkata dengan kesal, “Gue kagak mau ditemani sama Cak Bro!...”. Kawan lainnya merasa keheranan “ Cak Bro lu apain dia, koq marah-marah”, saya pun menjawab “ Nggak apa-apa,... yang penting dia sudah sehat kembali dan lihat begitu cepat berjalan untuk menyusul dan bergabung dengan kelompok yang didepan”.

Hadapi Masalah Besar
Kami saat ini punya masalah besar, hari sudah menunjukkan malam, sementara posisi masih di ‘pertengahan jalan’ untuk sampai di pos bawah, padahal esok hari kami harus sekolah. Masih ada kelompok terakhir yang berjalan sangat lambat bersama seorang gadis yang tertatih-tatih, ternyata kakinya terkilir cukup parah, sehingga harus dipapah oleh dua orang kawannya saat berjalan. Seraya menahan rasa sakit dia berkata “ Aduh Cak Bro, gue udah kagak bisa jalan nih.... sakit banget kaki gue kalau diajak jalan”. Saat saya periksa, ternyata memang mata kakinya agak mebengkak dengan bilur-bilur berwarna biru lebam.

Tiba-tiba kawan saya, Wanto sebagai pimpinan rombongan di kelompok depan mendatangi kami, “kelompok depan tinggal beberapa meter lagi sudah mencapai pos bawah Cibodas, kalian ini berada dalam posisi yang sangat jauh,.... Ada apa sih?,,,,”. Si cewek berdarah batak dan berkulit putih, terlihat wajahnya biru memucat sedang mengerang kesakitan. Saya pun menceritakan keadaanya dan kami melakukan rapat segera untuk mencari jalan keluar. Perdebatan pun dimulai “nampaknya kita harus lapor kepada petugas pos di bawah dan minta bantuan,... agar cewek batak ini dapat dibawa dengan tandu”.
Kawan saya Wanto tidak setuju “ Kita khan naik gunung ini tanpa ijin,.... kalau kita melapor pasti akan diomeli petugas,.. Selain itu, jelas kita akan kena sanksi untuk membayar plus dendanya...”. Memang rencana sebelumnya saat kita sampai melewati pos penjagaan terakhir, kami akan mencoba mencari jalan lain agar tidak melewati pintu pos tersebut. Saya kembali berargumentasi, “ Tetapi ini tidak bisa dibiarkan saja,....mau sampai jam berapa kelompok ini sampai dibawah dengan jalan seperti ini?”.

Akhirnya kami memutuskan untuk melapor segera ke pos penjagaan dan meminta bantuan penjaga untuk meminta tandu dan membawa gadis tersebut. Terkait dengan biaya setelah dihitung-hitung, kami meminta kawan-kawan untuk menyumbang dan membayar semuanya (terutama kepada ‘kaum duileh’ dan anak mami yang pasti bawa uang lebih). Kesepakatan terjadi, saya pun berkata kepada teman saya Wanto, “ Sekarang lu bawa kawan-kawan yang masih kuat untuk segera turun ke bawah dan melapor,... biar gue dan beberapa kawan menemaninya hingga datang bantuan”.
Si cewek berdarah batak berkata lirih merasa bersalah “ Maafin gue ya To, udah ngerepotin lu... rencana mau ‘happy-happy’ jadi begini gara-gara gue..”. Saya pun menghibur “kagak apa Non,.... yang penting lu sabar aja nunggu bantuan datang..”. Suasana sudah gelap dan kami pun menyalakan senter. Terdengar kembali kicauan suara-suara burung malam dan derikan kencang sang jangkrik memecah kesunyian malam. Cukup lama kami menunggu datangnya bantuan, dan kami pecahkan suasana dengan saling mengobrol dan bercerita kisah-kisah kejadian lucu saat perjalanan sebelumnya agar suasana kembali segar.

Akhirnya datang juga kawan saya, Wanto bersama petugas membawa tandu. Dengan sigap mereka merebahkan sicewek batak tersebut pada tandu, dengan segera kami berangkat untuk turun ke bawah. Saya sangat kagum dengan petugas tersebut, mereka berjalan begitu cepat membawanya tanpa bantuan senter dalam kepekatan malam. Seolah-olah pada tapak kakinya memiliki sebuah ‘mata’ yang dapat menjejakkan diantara sela-sela batu licin atau akar pohon. Padahal saya yang terbiasa dijalan gelap, masih saja terantuk sesuatu dan terjatuh, untuk mengimbangi cara jalan mereka.
Sesampai di pos penjagaan bawah kami bergabung dengan kawan-kawan lainnya. Wanto pun bertanya dengan kawan saya yng satunya, si Bolo dan Iko “ Bagaimana urusan administrasi sudah beres?..” dan dijawab dengan anggukan. Kemudian dia pun berkata lagi “ Oke, Cak Bro bersama nih cewek serta beberapa kawan langsung aja berangkat dan tolong antarkan sampai ke rumahnya....”, dan lanjutnya lagi “ Untuk urusan kepulangan kawan-kawan lainnya,.... itu urusan kita”.

Mengantar Cewek Pulang dan Disemprot ‘Ortu’nya
Nampaknya kawan-kawan sudah mencarikan angkot untuk turun ke bawah, kemudian saya menunjuk beberapa kawan yang ingin pulang lebih dulu, termasuk pacarnya “lu juga ikut karena mengajaknya, nanti kalau ditanya bokapnya gimana?”  (gue kagak tahu, yang jelas yang ngajak pasti pacarnya,  karena pasti sebelumnya sudah bertemu ‘or-tu’nya sewaktu  pamitan).

Sesampai di pasar Cisarua, kami pun melanjutkan perjalanan untuk naik bis menuju Jakarta. Karena badan yang sudah begitu capek dan lelah, kami tertidur dengan pulas dalam bis, tak terasa perjalanan begitu singkat dan kami pun sampai tujuan.

Ketika sampai di muka rumah sang cewek, tiba-tiba kawanku berkata “ Cak Bro lu aja ya yang ketemu dan jelasin sama bokapnya.... biar gue pulang duluan”. Tak disangka temanku (yang awalnya mengajak nih cewek dan berpamitan dengan orang tuanya) yang merasa ‘preman’ disekolah begitu kecut menghadapi masalah ini. Tentu saja saya marah mendengarnya, “Enak aja, katanya lu preman sekolah... lu mesti bertanggung jawab dong!, tapi demi kawan boleh deh gue yang nemenin..”.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, saya pun mengetuk pintu rumah si cewek. Tak berapa lama kemudian pintu dibuka, terlihat wajah orang tuanya yang menunjukkan sikap tidak suka (Bisa lu bayangin,.... wajah orang batak kalau lagi marah!). Kemudian saya mencoba berkata “ Selamat malam Om,..... Perkenalkan saya kawan sekolahnya dan sebagai ketua rombongan naik gunung dari Sekolah...”.
Entah kenapa wajah ‘bokapnya’ begitu tegang dan kaku terhadap kami, “Kami mohon maaf atas keterlambatan pulang hingga larut malam,.... anak Om sempat terpeleset dan kakinya terkilir ketika turun dari naik gunung tadi.....”. Suasana kaku pun dipecahkan oleh teman cewekku itu “ Ayo masuk dulu,,, kita cerita sambil duduk-duduk..”. Entah karena marah, bokapnya berkata “ Tidak usah,....Kalian langsung pulang saja karena hari sudah malam, lagi pula kalian harus sekolah besok pagi....”. Tiba-tiba pintu pun segera ditutup dengan cukup keras “Brak!!...” membuat saya sempat kaget dan terbengong.

Dan saya pun baru tersadar bahwa saat itu saya sendirian, ketika saya sedang menjelaskan pada bokapnya, ternyata kawanku tadi hanya berdiri di pintu pagar dan diam-diam menghilang seraya mengintip dibalik pintu pagar. Saya pun marah-marah seraya mengumpat “Dasar preman cap Kodok!, badannya doang yang gede,.. pas ngadapin bokapnya langsung ngumpet!,.... pengecut lu!” , dia pun tersenyum-senyum saja.

Kawanku yang ‘preman cap kodok’ mengakui salah “ Oke2, gua ngaku kalau gue takut banget sama bokapnya,..... tapi gue salut sama lu To, ... gile coy!, gue denger dari pintu pagar, nampaknya si bokap marah2 dan langsung menggebrak keras menutup pintu ya?...”. Sayapun menimpali “walau bukan gue yang ngajak, bagaimana pun kita harus bertanggungjawab untuk menjelaskan kepada bokapnya...”, kami pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.

Kisah Remaja Cak Bro:: Ajak Bolos Teman ‘separuh kelas’ (Bag. II)

Kisah Remaja Cak Bro:
Ajak Bolos Teman ‘separuh kelas’ untuk Naik Gunung ??
(Bagian II)


Istirahat di Pondok untuk Mencari Persediaan Air
Hari semakin gelap menandakan waktu tepat tengah malam, kami sudah memasuki hutan yang lebat, suasana jalan semakin pekat dan gelap karena dahan-dahan pohon menahan tmebusnya cahaya sang rembulan. Sementara kawan-kawan berjalan mulai terlihat loyo dan kelelahan, saya pun meminta kawan-kawan untuk beristirahat sejenak, saat terlihat sebuah pondok kayu tempat peristirahatan bagi pendaki, “Ayo kita istirahat di pondok,... silahkan makan bagi yang punya perbekalan,....”. Kemudian saya berteriak “ Bolo, Iko... coba tolong cari air untuk kawan-kawan yang kehabisan air”, tak berapa lama dia menemukan sumber air dan mengantar beberapa orang untuk mengambil air.
Saya pun memandangi mereka satu per satu yang kelelahan, terlihat bulir-bulir keringat mengalir diwajahnya namun dengan wajah yang masih nampak kegembiraan (ada juga yang kesal karena sudah begitu lelah). Saya pun menggoda mereka, “Memangnya enak naik gunung !,.... mendingan dirumah bisa tidur-tiduran sambil dengerin musik atau nonton TV...”. Usai istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Semakin lama sudah jarang kami temui jalan setapak karena hampir berada di badan gunung, jelas kami hanya temui jalan-jalan terjal dan berbatuan yang diselingi akar-akar pohon diantaranya. Terkadang kami harus memanjat jalan yang terjal, dan tak jarang pula kami harus merunduk karena melewati batang-batang pohon yang tumbang.
Berbagai perangai kawan terlihat dari sikap mereka, ada yang bernyanyi-nyanyi sendirian, ada yang bersiul-siul, ada yang mengeluh keletihan, dsb. Namun kala kami sedang istirahat, ada pula beberapa kelompok bagi beberapa ‘pasangan’, mencoba mencari sudut-sudut tempat dikejauhan (istilahnya ‘pojokan’). Saya pun berteriak memecahkan keheningan “Kami tahu kalian punya pacar!, tapi ingat kita sedang berada di hutan,...... Jangan coba-coba berbuat yang kagak2, tanggung sendiri akibatnya nanti !!!...”.
Saya pun berkisah dari beberapa teman, bagaimana pun hutan pasti ada ‘penunggu’-nya, ada kisah seorang pendaki berpasangan (mungkin sedang yang asyik pacaran) yang mengalami ‘musibah’, entah ‘kesurupan’ (istilahnya- transcedential), atau tiba-tiba berubah perangainya (alias gila) yang harus berobat ke RS Jiwa. Oleh karenanya, walau kita berada jauh dari pemukiman penduduk karena berada di tengah hutan, kita harus menjaga sikap dan kelakuan. Lebih baik kita mencoba merenung dalam kesenyapan malam seraya mengagumi betapa agungnya sang Pencipta atas pahatan karyanya, terlihat pohon-pohon besar menjulang yang tegar bertugas sebagai filter udara dunia dari karbon monoksida dan polusi udara lainnya. Coba kita renungkan sejenak, betapa kecilnya kita diantara selingan pohon-pohon besar, tetapi mengapa terkadang kita selalu angkuh dan sombong merasa kita lebih besar dari dunia ini (Taddabur alam sambil ceramah nih ye..).

Berteriak Ketakutan Melihat Cahaya di Tengah Malam
Ketika untuk kesekian kalinya beristirahat, tiba-tiba ada seorang cewek yang berteriak ketakutan. Kami pun coba menghampirinya, “ Pacarnya siapa ini?,... coba dipeluk dulu biar dia tenang”, herannya sang cowok justru merasa ketakutan dan berkilah, “emang gue yang ajak tapi bukan pacar, gue takut Cak Bro... kenapa dia itu?”. Setelah saya menenangkannya sambil memberi air minum dan menanyakan ada apa gerangan sehingga berteriak ketakutan?, dengan terbata-bata seraya tangannya menunjuk, “ tadi sekilas aku melihat dua cahaya bergerak-gerak dibalik-balik semak itu...”.
Saya pun segera memerintahkan agar semua senter dimatikan dan segera berdiam diri, kemudian kami mengamati ke arah semak-semak tersebut. Benar saja, dari kejauhan terlihat cahaya tersebut dan tiba-tiba saya pun tertawa keras-keras memecahkan keheningan, “ ha..ha..., Oh, cahaya itu.... coba kamu perhatikan baik-baik,” saya pun berkata “ Itu adalah mata seekor kancil,.... kancil sebenarnya termasuk binatang jinak dan dia sering mengikuti perjalanan kita....”. Benar saja, kawan saya Iko mengendap-endap kemudian langsung menyalakan senter dan sekelebat terlihat binatang kecil tersebut yang mendadak kabur kedalam semak-semak.
Tak terasa terlihat dari balik dahan-dahan ada sinar diantara kabut berasap, menandakan hari menjelang subuh. Tercium bau rerumputan segar diselingi bulir-bulir embun berada didahan, nampak lumut-lumut hijau yang membuat jalan menjadi agak licin, itulah penyebab ketika malam tadi berjlana banyak kawan sering tergelincir jatuh, Keindahan suasana pagi begitu indahnya, ditambah suara cicitan atau siulan burung-burung yang hinggap di dahan, mereka bergembira bersama kawan-kawannya berloncatan dari dahan yang satu ke dahan lainnya.
Tiba di Padang Eddelweis
Namun dengan terangnya pagi terlihat jalan yang terjal, batu-bataan besar yang harus dipanjat atau belukar akar pohon yang begitu kekar di jalan setapak yang kami lewati. Saat kami menengok ke belakang, ternyata begitu curam jalan yang kami lewati, Seorang kawan pun berteriak “Busyet dah,.... ternyata kagak terasa  tadi malam tuh kita udah melewati tebing yang curam ini, Koq gue bisa ya?”. Tiba-tiba tim rombongan depan berteriak kegirangan, “ Hore...hore, Alhamdulillah,... kita sudah sampai di padang Edelweiss!..”. Wajah-wajah yang letih pun mulai sedikit berubah segar seketika saat mereka mendengar kabar tersebut, rasa yang lelah menjadi hilang dan bersemangat kembali untuk segera menuju ke sana.
Padang Eddelweiss adalah hamparan pohon-pohon eddelweis. Kebetulan saat ini datangnya musim bunga, sungguh terasa indah disepanjang mata memandang hanyalan hamparan berwarna putih. Bunga Eddelweis adalah bunga abadi yang berwarna putih, abadi karena dia tak kan pernah layu. Bagi anak-anak remaja, bunga tersebut sangat dicari dan mejadi idaman untuk dipersembahkan kepada sang kekasih. Keabadian bunga tersebut menjadi lambang percintaan anak seusia saya.
Kami pun berisitirahat pada sebuah rumah atau kecil pondok untuk shalat shubuh, sebelumnya kami mencari lekukan tanah mirip danau kecil dan mengambil air wudhu disana. Sesaat mereka beristirahat seraya menikmati indahnya pemandangan, dan sudah pasti beberapa orang pasti akan memetik bunga tersebut. Sebenarnya bunga itu dilarang untuk dipetik, jika ketahuan petugas kawasan hutan mereka akan menyita bunga tersebut.
Sebab apabila semua para pendaki memetik bunga tersebut (apalagi cara memetiknya sembarangan), menyebabkan pohon tersebut mati dan sudah pasti merusak pelestarian alam. Walaupun saya sudah mencegah mereka tetapi saya tidak tega, biarlah sebagai tanda bukti cerita bahwa mereka sudah sampai di puncak gunung. Lagipula saya sudah bosan membawa bunga tersebut untuk kawan-kawan yang nitip (kalau saya, coba untuk siapa?, wong waktu itu lagi jomblo!,... alias kagak laku nih ye).
Mencari Makanan Setan
Disela kesibukan mereka memetik bunga tersebut, saya dan kawan justru sibuk menuju salah satu gua-gua yang berada disana, untuk apa dan apa yang dicari?. Ada pula orang yang rendah imannya atau musyrik, mereka terkadang menaruh sesuatu persembahan atau ‘sesajen’ di dalam gua-gua kecil (terkadang digunakan untuk bersemedi). Saya pun menemukan ‘barang’ tersebut berupa beberapa telur ayam mentah, beberapa potong kue, kopi dan beberapa batang rokok!.
Saya pun berteriak, “hore..gue dapat barang, lumayan buat sarapan pagi...”. Salah seorang kawan berkata, “ Cak Bro, itu  khan sesajen..... jangan dimakan !, nanti ada apa-apa lho,..”. Saya pun berkilah “ memangnya kenapa?, ini perbuatan orang musyrik....”, Dan sayapun berkata lagi, “Ini khan makanan setan,... wajar dong dimakan sama anak setan, he..3x”. (Dasar Cak Bro, bilang aja bawa bekal pas-pasan,...), Demikian pula dengan kawanku yang lain, mereka juga menemukan sesuatu dan memakannya....
Setelah melewati hamparan padang eddelweis tersebut, nampak dibalik bukit berdinding itulah kawah Gunung Gede. Kami pun segera mendaki ke sana, sesampai di atas terlihat kawah gunung,... dibawah sana nampak semacam danau lumpur bergolak dengan kepulan asap putih. Subhanallah,.... begitu indah pemandangan tersebut, sementara dalam suasana shubuh terlihat guratan awan-awan memerah muncul sang surya pagi membias pendaran cahaya menyaput sinar di seluruh kawasan. Tak lupa beberapa kawan yang memiliki kamera segera mengabadikan momen yang indah.

Indahnya Kawasan Gunung Gede
Inilah hasil perjuangan kami, berbagai kisah ketegangan, ketakutan, kekhawatiran, kecemasan dari yang kita alami. Termasuk rasa penat dan letih karena semalaman berjalan, hilang sirna seketika saat mengalami suasana indah yang penuh takjub. Serasa tidak mampu saya menguraikan dengan kata-kata puitis sekalipun.
Berbagai keceriaan mulai nampak di seluruh wajah kawan-kawan. Terlihat tawa canda gembira menyeruak diantara kita, mereka berpose dengan berbagai gaya saat kamera diarahkan, yang nantinya akan mereka ceritakan kepada kawan-kawan dan akan merasa iri mendengar berbagai pengalaman seru kami. Lain lagi bagi yang berpasangan, terlihat begitu mahsyuk berduaan menikmati indahnya pemandangan pagi di puncak Gunung Gede. Ada pula rasa iri di hatiku, entah mengapa saya merasa takut untuk kenal dengan seorang perempuan.
Saya hanya bisa menggoda beberapa kawan cewek, “Katanya tadi malam sudah mau menyerah,... dan ingin kembali turun saja,” lanjutku, “Pakai ngambek segala... dengan muka cemberut...”. Temanku tersebut menyahuti sambil merajuk, “Tadinya iya juga sih,.... habisnya kamu suka bohongi aku,... bilangnya sebentar lagi lah, sudah dekat lah...nyatanya jauh banget..”, dan dengan tersipu malu ia berkata “Makasih ya, sudah kasih semangat,... akhirnya aku sampai juga dipuncak gunung ini”. Saya menggodanya lagi “Jangan makasih aja, kalau bisa...” seraya telunjukku mengarah ke pipiku. Jelas saya cuma bercanda, karena dengan pura-pura marah cowoknya menuju bahu saya.
Usai beristirahat cukup lama, saya pun berteriak lagi “kawan-kawan tujuan kita sudah tercapai,.... terserah kalian, mau melanjutkan perjalanan ke Gunung Pangrango dan sampai di Cibodas atau kembali lagi ketempat semula...” godaku. Semua berteriak kegirangan “lanjut terus...!!”, tetapi ada salah satu kawan nyeletuk “ Ada tukang ojek gendong nggak ya?,... gue bayar deh”, yang lainnya nyeletuk juga “seandainya disini ada cable car semacam gunung di Perancis sana, enak juga kali ya..”.
Kami pun melintasi jalan setapak pinggiran kawah gunung yang berpasir dimana ada semacam tali pengaman agar terhindar kita terperosok jatuh ke kawah. Namun karena sudah banyak yang lapuk, ada juga lintasan dengan tali yang sudah terputus. Saya pun memperingatkan kawan-kawan, “ hati-hati berjalan, kalau bisa berjalan agak condong ke kiri.... jangan sampai tergelincir jatuh ke kawah sana”. Kegembiraan pun belum sirna, beberapa kawan berteriak-teriak “ Ayah, ibu... aku sudah mencapai puncak Gunung Gede....”.

Bangganya si ‘Anak Mami’
Ada terlihat tetesan air mata diwajahnya (dasar cengeng,... lu khan cowok!) dan berkata “Makasih Cak Bro, Wanto, Bolo dan Iko..... sering kali gue liwati daerah puncak ini, tapi baru sekarang gue bisa injak puncak Gunung Gede ini...”. Kawan saya bercerita, setiap akhir pekan dia sering diajak keluarganya untuk menengok neneknya yang tinggal di Bandung. Setiap dia melewati jalur puncak, dia hanya dapat memandang keindahan Gunung Gede-Pangrango dari kejauhan. Tak menyangka bahwa dia dapat menginjak puncak Gunung ini, dia akan bercerita kepada keluarganya dan kawan-kawan sekolah bahwa dia saat ini bukan lagi ‘anak mami’. Dahulu dia hanya dapat mendengar orang-orang bercerita tentang naik gunung, kini dia dapat bercerita banyak tentang semuanya. Dan satu hal yang tidak dapat dibayangkan bagaimana wajah orang tuanya kalau dia bercerita begitu seramnya naik truk.
Saya pun menimpali “ lu boleh cerita tentang naik gunungnya, tetapi kalau cerita naik truknya... apa kagak diomeli bokap lu?”. Dia pun menjawab, “ Biarin aja diomelin,... tapi gue yakin bokap marah sebentar dan pasti bangga lihat anaknya mampu berpetualang dengan berani!”. Saya pun diam-diam suka bercerita kepada kakak-kakak dan saudara saya tentang nikmatnya naik gunung. Pada waktu kegiatan berikutnya, mereka saya ajak juga turut serta kesana. Ternyata mereka ikut keranjingan juga, bersama kawan-kawannya membuat agenda sendiri untuk naik gunung secara berkala,
Menuruni Jalan Terjal
Diseberang sana terlihat semacam bukit yang sebenarnya di sebut dengan Gunung Pangrango, kami juga nantinya akan melintasinya. Kali ini jalur yang kita lewati agak berbeda. Jika sebelumnya kita berjalan mendaki, kini kita harus menuruni jalan-jalan yang terjal, berbatuan dan jelas dipenuhi akar-akar pohon. Yang merasa dirinya kuat, mereka berjalan meloncat-loncat dari satu batu ke batu yang lain, terkadang mereka terperosok atau terjerembab jatuh menabrak pohon disisi jalan. Kami pun tertawa melihat tingkah mereka, padahal cukup sakit rasanya melihat bilru-bilur kakinya karena terjatuh.
Saya sering berteriak “ Hoi kawan-kawan yang di depan, jika ketemu pondok kalian istirahat dulu,....kasihan kawan yang dibelakang sudah terlalu jauh nih.” Bagi yang lemah atau sudah lelah, dengan tertatih –tatih (terutama cewek-cewek nih) menapaki jalan dengan memegang tongkat yang berasal dari ranting pohon yang agak besar. Saya pun segera membantu membimbing atau menarik mereka untuk segera mempercepat jalan. Terkadang saya sering menyemangati para cewek-cewek yang kelelahan, “Oke kalian istirahat sebentar,.... jangan dipikir rasa lelahnya, coba dengarkan kicauan burung disekitar dengen semilir angin yang menggesek dahan-dahan ... betapa merdu dan indahnya bukan?”.
(Bersambung)

Wah, sudah terlalu banyak nih tulisannya nanti kagak sempat kerja lagi…… (Jangan jadi alasan ya, kerjaan terlambat…. gara2 baca kisah Cak Bro).
Sekian dulu dech nanti disambung lagi,….
 (bersambung.... Bag III)
Salam hangat dari Sidoarjo,