Kisah Remaja Cak Bro: Ajak Bolos Teman ‘separuh kelas’ ....(Bagian III)

Kisah Remaja Cak Bro:
Ajak Bolos Teman ‘separuh kelas’ untuk Naik Gunung ??
(Bagian III) 

Cari Kesempatan Dalam Kesempitan
Sesampai di pondok peristirahatan, beberapa kawan melapor ada cewek-cewek yang jatuh dan terkilir kakinya. Saya dan kawan sohib pun segera membantunya, dengan melepas kaos kaki dan meminta minyak gosok, mencoba untuk ‘mengurutnya’ agar rasa sakitnya berkurang, “ Hei To, ngurut sih ngurut,... tapi mata kakinya aja dong!,.... koq lu megang-megang sampai ke atas lutut..”, sergah cowoknya sedikit marah. Saya pun berkilah “ Yang namanya urat terkilir bukan aja diurut mata kakinya,.... uratnya harus dibetulin sampai keatas dong... emangnya borok!, cuma kasih obat yang lukanya....”, padahal dalam hati saya tersenyum sudah mengibulinya (he..he,.. kapan lagi megang kaki cewek cakep dengan gratis... dasar Piktor! – alias Pikiran Kotor).

Melihat kami berempat sedang mengurut kaki kawan-kawan yang sakit, salah seorang kawan cewek mengomentari. “ Gue pikir anak gunung sifatnya keras-keras,.... ternyata perhatian dan lembut juga ya dengan membantu kita-kita yang sakit...”. Saya pun berkilah (padahal hidung gue langsung ‘mengembang’ tanda bangga), “kalau lu-lu pada kagak disembuhin,... mau sampai kapan kita bisa ke bawah?”.  
Nah ada yang satu cewek yang ‘kesemsem” alias suka sama saya (perasaan gue aja ngkali), namanya... (kagak usah disebut aja akh, entar ketahuan bini gue,....bisa berabe nanti !!!), dan dia berkata lagi “Sayang gue udah punya pacar sih,... kalau belum, gue mau deh jadi pacar lu,... karena elu perhatian banget sama perempuan.....”., Sebenarnya saya kelimpungan juga mendengarnya (Busyet nih cewek!,....anak gunung koq ‘ditembak” !! ), Saya pun pura-pura melotot sambil menunjuk cowoknya yang kebetulan agak jauh dari situ, “Sst!, cowok lu teman baik gue juga,.... gua kagak mau bertengkar gara-gara cewek!”, lanjut saya “ Udeh deh,... lu pikirin aja penyakit lu, makanya kalau jalan harus hati-hati”, setelah selesai mengurut mereka saya tinggalkan.

Usai beristirahat cukup lama, tak terasa waktu sudah menunjukkan sore hari karena terlihat sinat mentari yang menerobos dahan-dahan hutan tidak lagi terlihat cerah. Kami pun melanjutkan perjalanan. Saya merasa khawatir, karena beberapa kawan yang sudah mulai kehilangan energi dengan rasa lelah, perjalanan terasa begitu lambat dan kami akan tiba dibawah kaki gunung (Cibodas) menjelang malam. Saya pun mengambil inisiatif agar kelompok di depan untuk mengambil alih sebagai tim ‘sweeping’, “ Kawan-kawan yang didepan,.. tolong yang merasa sehat dan kuat bantu kawan yang di belakang...”, mereka saya perintahkan untuk menarik dan membimbing tangan mereka yang lemah agar perjalanan bisa lebih cepat.
Saya pun segera menghampiri salah satu teman cewek (yang ‘nembak’ tadi) dan berkata dengan cowoknya, “nampaknya lu sudah kelelahan bawa dia,... biar gue ambil alih ya,....percaya deh ame gue !”. lantas saya raih tangan tuh cewek dan menuntunnya agar bisa berjalan lebih cepat dan berkata lagi dengan cowoknya, “udah lu jalan duluan deh,... bergabung dengan kelompok tengah...nanti kalau lu udah merasa kuat, boleh deh diambil alih lagi”. Demikan halnya dengan kawan-kawan yang merasa sehat saya perintahkan untuk mengambil alih beberapa pasangan yang terlihat lelah.

Bukannya saya ingin memanfaatkan ‘kesempatan’, saya hanya menghiburnya dan berharap agar dia merasa sehat dan pulih kembali, “ Ayo jangan dilihat terjalnya jalan,... tapi bayangkan keindahan isi hutan ini dan pastinya kamu tidak pernah melihat sebelumnya..”. Tak berapa lama, saya dapat mengejar ketertinggalan dan sudah berada dikelompok tengah. Saat bertemu dengan cowoknya lagi, saya berkata seraya menyerahkannya, “ Oke,.. cewek lu sudah pulih,..nah gue serahin lagi nih sesuai janji gue...”, kemudian saya kembali ke belakang untuk mencari kawan-kawan lainnya yang tertinggal jauh.

Taklukan Gadis Manja dengan ‘Senjata Rahasia’
 Saya melihat ada kelompok pasangan yang berjalan begitu lambat dan santai, langsung saya hardik, “Hei!, kalian berjalan kaya pengantin aja,... mau bermalam lagi di hutan?, cepetan jalannya!,.. waktu sudah hampir gelap nih”. Cewek tersebut memang terlihat ‘judes’ dan manja, sementara sang cowok terlihat ‘penurut’ dan penyabar. Saya pun berjalan dibelakangnya, karena tidak sabar melihat mereka sudah tertinggal jauh dengan kelompok lainnya. Akhirnya saya berkata “Udah deh serahin cewek lu biar gue yang urus,.... sekarang lu susul kawan-kawan tuh  yang sudah menjauh”. Temanku yang cowok pun menurut, justru dia merasa gembira karena merasa lepas dari beban (brengsek,.. kalau yang susah-susah begini,  bagian gue deh akhirnya...).

 Saya pun menggamit tangannya saat menuruni jalan terjal, “ Ayo dong cepetan jalannya.... kita udah ketinggalan jauh nih”. Dasar anak manja!, justru baru beberapa meter berjalan, dia minta istirahat lagi, “ Aduh Cak Bro, gua capek beneran nih, istirahat dulu ya...”. dan lanjutnya, “Biarin deh kita sampai dibawah kemalaman, Gue percaya sama elu.. karena elu khan yang punya gunung ini”. Coba bayangin betapa menyebalkan kelakukannya, Namun akhirnya saya turuti permintaannya. Kali ini strategi yang saya jalankan sebelumnya gagal untuk ‘menaklukkannya’, sambil berjalan saya pun ‘memutar otak’ untuk mencari cara yang lebih jitu agar dia dapat berjalan lebih cepat.

Karena saya membawa bekal pas-pasan dan mengakibatkan udara dalam perut terasa penuh alias masuk angin. Dan saya punya kebiasaan buruk yakni suka ‘buang gas’ sembarangan. Benar saja, saat beristirahat lagi, tiba-tiba udara dalam perut mulai menggeliat dan dengan segera saya ‘tembakkan’ ke udara melalui ‘pintu belakang’. Mendengar suara ‘tembakan’ dari perut saya, ditambah udara dingin yang jelas menimbulkan aroma tidak sedap, dia pun marah-marah “Kamu tuh tidak sopan ya?, buang gas sembarangan.....”, dia pun beringsut berdiri dan berjalan seraya menggerutu “ dasar anak gunung!,..... ‘buang gas’ seenaknya”, saya pun tersenyum melihat tingkahnya.
Atas kejadian tersebut justru saya punya ‘senjata’ sebagai alat menekan dia agar tidak manja dan dapat mengejar ketertinggalan dengan rombongan lainnya. Saat dia meminta untuk beristirahat, dan saya tahu kalau dia tidak terlalu letih, segera saya sergah “boleh,.. tapi sebentar saja”, dan dengan segera saya keluarkan ‘senjata’ saya tersebut. Hal tersebut saya lakukan berulang-ulang, walau dengan wajah yang kelihatan sebal dengan saya, tanpa terasa kami sudah dapat menyusul dan bergabung dengan rombongan lainnya.

Ketika dia sedang beristirahat dengan kelompok tengah, saat saya datang bergabung, dia langsung berdiri dan berjalan menjauhi sambil berkata dengan kesal, “Gue kagak mau ditemani sama Cak Bro!...”. Kawan lainnya merasa keheranan “ Cak Bro lu apain dia, koq marah-marah”, saya pun menjawab “ Nggak apa-apa,... yang penting dia sudah sehat kembali dan lihat begitu cepat berjalan untuk menyusul dan bergabung dengan kelompok yang didepan”.

Hadapi Masalah Besar
Kami saat ini punya masalah besar, hari sudah menunjukkan malam, sementara posisi masih di ‘pertengahan jalan’ untuk sampai di pos bawah, padahal esok hari kami harus sekolah. Masih ada kelompok terakhir yang berjalan sangat lambat bersama seorang gadis yang tertatih-tatih, ternyata kakinya terkilir cukup parah, sehingga harus dipapah oleh dua orang kawannya saat berjalan. Seraya menahan rasa sakit dia berkata “ Aduh Cak Bro, gue udah kagak bisa jalan nih.... sakit banget kaki gue kalau diajak jalan”. Saat saya periksa, ternyata memang mata kakinya agak mebengkak dengan bilur-bilur berwarna biru lebam.

Tiba-tiba kawan saya, Wanto sebagai pimpinan rombongan di kelompok depan mendatangi kami, “kelompok depan tinggal beberapa meter lagi sudah mencapai pos bawah Cibodas, kalian ini berada dalam posisi yang sangat jauh,.... Ada apa sih?,,,,”. Si cewek berdarah batak dan berkulit putih, terlihat wajahnya biru memucat sedang mengerang kesakitan. Saya pun menceritakan keadaanya dan kami melakukan rapat segera untuk mencari jalan keluar. Perdebatan pun dimulai “nampaknya kita harus lapor kepada petugas pos di bawah dan minta bantuan,... agar cewek batak ini dapat dibawa dengan tandu”.
Kawan saya Wanto tidak setuju “ Kita khan naik gunung ini tanpa ijin,.... kalau kita melapor pasti akan diomeli petugas,.. Selain itu, jelas kita akan kena sanksi untuk membayar plus dendanya...”. Memang rencana sebelumnya saat kita sampai melewati pos penjagaan terakhir, kami akan mencoba mencari jalan lain agar tidak melewati pintu pos tersebut. Saya kembali berargumentasi, “ Tetapi ini tidak bisa dibiarkan saja,....mau sampai jam berapa kelompok ini sampai dibawah dengan jalan seperti ini?”.

Akhirnya kami memutuskan untuk melapor segera ke pos penjagaan dan meminta bantuan penjaga untuk meminta tandu dan membawa gadis tersebut. Terkait dengan biaya setelah dihitung-hitung, kami meminta kawan-kawan untuk menyumbang dan membayar semuanya (terutama kepada ‘kaum duileh’ dan anak mami yang pasti bawa uang lebih). Kesepakatan terjadi, saya pun berkata kepada teman saya Wanto, “ Sekarang lu bawa kawan-kawan yang masih kuat untuk segera turun ke bawah dan melapor,... biar gue dan beberapa kawan menemaninya hingga datang bantuan”.
Si cewek berdarah batak berkata lirih merasa bersalah “ Maafin gue ya To, udah ngerepotin lu... rencana mau ‘happy-happy’ jadi begini gara-gara gue..”. Saya pun menghibur “kagak apa Non,.... yang penting lu sabar aja nunggu bantuan datang..”. Suasana sudah gelap dan kami pun menyalakan senter. Terdengar kembali kicauan suara-suara burung malam dan derikan kencang sang jangkrik memecah kesunyian malam. Cukup lama kami menunggu datangnya bantuan, dan kami pecahkan suasana dengan saling mengobrol dan bercerita kisah-kisah kejadian lucu saat perjalanan sebelumnya agar suasana kembali segar.

Akhirnya datang juga kawan saya, Wanto bersama petugas membawa tandu. Dengan sigap mereka merebahkan sicewek batak tersebut pada tandu, dengan segera kami berangkat untuk turun ke bawah. Saya sangat kagum dengan petugas tersebut, mereka berjalan begitu cepat membawanya tanpa bantuan senter dalam kepekatan malam. Seolah-olah pada tapak kakinya memiliki sebuah ‘mata’ yang dapat menjejakkan diantara sela-sela batu licin atau akar pohon. Padahal saya yang terbiasa dijalan gelap, masih saja terantuk sesuatu dan terjatuh, untuk mengimbangi cara jalan mereka.
Sesampai di pos penjagaan bawah kami bergabung dengan kawan-kawan lainnya. Wanto pun bertanya dengan kawan saya yng satunya, si Bolo dan Iko “ Bagaimana urusan administrasi sudah beres?..” dan dijawab dengan anggukan. Kemudian dia pun berkata lagi “ Oke, Cak Bro bersama nih cewek serta beberapa kawan langsung aja berangkat dan tolong antarkan sampai ke rumahnya....”, dan lanjutnya lagi “ Untuk urusan kepulangan kawan-kawan lainnya,.... itu urusan kita”.

Mengantar Cewek Pulang dan Disemprot ‘Ortu’nya
Nampaknya kawan-kawan sudah mencarikan angkot untuk turun ke bawah, kemudian saya menunjuk beberapa kawan yang ingin pulang lebih dulu, termasuk pacarnya “lu juga ikut karena mengajaknya, nanti kalau ditanya bokapnya gimana?”  (gue kagak tahu, yang jelas yang ngajak pasti pacarnya,  karena pasti sebelumnya sudah bertemu ‘or-tu’nya sewaktu  pamitan).

Sesampai di pasar Cisarua, kami pun melanjutkan perjalanan untuk naik bis menuju Jakarta. Karena badan yang sudah begitu capek dan lelah, kami tertidur dengan pulas dalam bis, tak terasa perjalanan begitu singkat dan kami pun sampai tujuan.

Ketika sampai di muka rumah sang cewek, tiba-tiba kawanku berkata “ Cak Bro lu aja ya yang ketemu dan jelasin sama bokapnya.... biar gue pulang duluan”. Tak disangka temanku (yang awalnya mengajak nih cewek dan berpamitan dengan orang tuanya) yang merasa ‘preman’ disekolah begitu kecut menghadapi masalah ini. Tentu saja saya marah mendengarnya, “Enak aja, katanya lu preman sekolah... lu mesti bertanggung jawab dong!, tapi demi kawan boleh deh gue yang nemenin..”.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, saya pun mengetuk pintu rumah si cewek. Tak berapa lama kemudian pintu dibuka, terlihat wajah orang tuanya yang menunjukkan sikap tidak suka (Bisa lu bayangin,.... wajah orang batak kalau lagi marah!). Kemudian saya mencoba berkata “ Selamat malam Om,..... Perkenalkan saya kawan sekolahnya dan sebagai ketua rombongan naik gunung dari Sekolah...”.
Entah kenapa wajah ‘bokapnya’ begitu tegang dan kaku terhadap kami, “Kami mohon maaf atas keterlambatan pulang hingga larut malam,.... anak Om sempat terpeleset dan kakinya terkilir ketika turun dari naik gunung tadi.....”. Suasana kaku pun dipecahkan oleh teman cewekku itu “ Ayo masuk dulu,,, kita cerita sambil duduk-duduk..”. Entah karena marah, bokapnya berkata “ Tidak usah,....Kalian langsung pulang saja karena hari sudah malam, lagi pula kalian harus sekolah besok pagi....”. Tiba-tiba pintu pun segera ditutup dengan cukup keras “Brak!!...” membuat saya sempat kaget dan terbengong.

Dan saya pun baru tersadar bahwa saat itu saya sendirian, ketika saya sedang menjelaskan pada bokapnya, ternyata kawanku tadi hanya berdiri di pintu pagar dan diam-diam menghilang seraya mengintip dibalik pintu pagar. Saya pun marah-marah seraya mengumpat “Dasar preman cap Kodok!, badannya doang yang gede,.. pas ngadapin bokapnya langsung ngumpet!,.... pengecut lu!” , dia pun tersenyum-senyum saja.

Kawanku yang ‘preman cap kodok’ mengakui salah “ Oke2, gua ngaku kalau gue takut banget sama bokapnya,..... tapi gue salut sama lu To, ... gile coy!, gue denger dari pintu pagar, nampaknya si bokap marah2 dan langsung menggebrak keras menutup pintu ya?...”. Sayapun menimpali “walau bukan gue yang ngajak, bagaimana pun kita harus bertanggungjawab untuk menjelaskan kepada bokapnya...”, kami pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.