"Sharing Promosi Cara Efektif Bagi Kota Wisata Dengan Becak?"

Artikel Wisata Manajemen:
"Sharing Promosi Cara Efektif Bagi Kota Wisata Dengan Becak?"

Kebetulan minggu ini, saya sdg mampir ke kota jogyakarta, kota wisata dan kuliner, kota pelajar dan budaya.. Pokoke never ending story dech.
Dan seperti biasa, suasana harian bagi wisatawan disana akan gunakan transportasi yg khas yakni becak. Yg akan jadi ulasan saya secara manajemen.

Malioboro adalah destinasi yg wajib dikunjungi pertama kali setiap wisatawan yg mampir kejogya.

Ada dua kisah seorang teman yg naik becak. Orang yg pertama, saat naik becak menawar " mas, antar saya ke malioboro... 5 ribu ya" ujar si tukang becak. Orang yg kedua dg gaya sok tau menawar.." antar saya ke malioboro... 10 ribu ya?".

Sebenarnya kedua org tersebut tdk tau bahwa jarak hotel mereka dekat ke arah malioboro.
Namun, ciri khas tukang becak disana tak ada tawar menawar, spt dikota besar lainnya, mereka langsung mengangguk atau mengiyakan dgn senyum khas mereka.

Akan tetapi, biasanya si tukang becak jarang mengantar langsung ke tempat yg dituju, dg alasan tertentu, mereka diajak berputar2 dahulu. Entah melewati keraton atau benteng sambil betcerita menjelaskan bangunan bersejarah tsb atau mampir ke tempat kuliner atau toko lainnya, jika kita tetap menolak barulah kita diantar ke malioboro.

Apa maksud dari si tukang becak tersebut?.
Pertama, walaupun keduanya tersadar bhw jarak sebenarnya dekat, bg org pertama akan membayar lebih karena sdh di ajak berkeliling kota. Sedang yg kedua, tidak akan komplain terlalu mahal dan meminta kembalian. (Kalaupun kita tega dan merasa ditipu, si tukang becak pun dg rela akan mengembalikan uang).
Kedua, mengapa dg rayuan yg memaksa kita ketempat tertentu. Karena mereka punya "deal tertentu" dg toko, sehingga mereka mendptkan komisi.

Inilah gaya manajemen promosi melalui tukang becak yg menjadi kekuatan bisnis tuk mempromosikan kota jogyakarta selain Pemerintah juga punya cara promosi tersendiri.
Jalinan hubungan mutualisme terjadi antara tukang becak dan toko, mereka tak perlu bayar promosi produk dgn mahal. Sementara tukang becak pun tak berharap lebih atas komisi toko, krn sbg hasil sampingan.

Sementara, kita sbg wisatawan pun merasa puas membawa oleh-oleh yg mungkin tidak merasa mahal membeli barang sesuai dgn kantong masing2.
Hmmh..memang jogya never ending story ...
Semoga bisa jadi renungan bermanfaat untuk bisa diterapkan dikota2 wisata lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar